LP3IK UMMAT Teguhkan Karakter Spiritual Gen Z melalui Baitul Arqam Mahasiswa 2025/2026

LP3IK UMMAT Teguhkan Karakter Spiritual Gen Z melalui Baitul Arqam Mahasiswa 2025/2026

Dokumentasi Acara Grand Opening BAMA 2025

Mataram, Suasana penuh semangat dan kekhidmatan menyelimuti Auditorium H. Anwar Ikraman Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) pada Jumat, 24 Oktober 2025. Ribuan mahasiswa baru memenuhi ruangan untuk mengikuti Grand Opening Baitul Arqam Mahasiswa (BAMA) Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian, Pengembangan, dan Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3IK). Dengan mengusung tema “Pembentukan Karakter Spiritual Gen Z: Purifikasi Aqidah dan Ibadah Menuju Ekosistem Kampus Islami,” kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan di lingkungan kampus, sekaligus membentuk mahasiswa berkarakter unggul, berakhlak mulia, dan berintegritas.

Dalam kegiatan ini, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Najih Prastyo, M.H., hadir sebagai narasumber utama. Dalam penyampaiannya, Najih menekankan pentingnya spiritualitas dalam menghadapi tantangan era digital yang serba cepat dan penuh distraksi. “Generasi Z adalah generasi yang kritis, kreatif, dan dinamis. Namun semua potensi itu akan sia-sia jika tidak dibangun di atas pondasi aqidah yang kuat dan ibadah yang lurus. Melalui Baitul Arqam, mahasiswa diarahkan untuk menjadi agen perubahan yang menebarkan nilai-nilai Islam di masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan BAMA ini diikuti oleh 2.044 mahasiswa baru dan akan berlangsung secara bertahap setiap akhir pekan Sabtu-Ahad (25-26 Oktober) hingga 30 November 2025. Menurut Ketua Panitia BAMA, Ilham, M.Pd., BI., Baitul Arqam merupakan kegiatan wajib bagi seluruh mahasiswa UMMAT, sekaligus bagian dari proses pembinaan ideologis dan spiritual yang juga diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan.

“Baitul Arqam bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi proses pembentukan karakter Islami yang mendalam. Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti dengan penuh kesungguhan, karena kegiatan ini juga menjadi salah satu syarat untuk mengikuti KKN, yudisium, dan wisuda,” jelas Ilham.

Wakil Rektor IV UMMAT, Dr. H. Zaenuddin, M.Pd.I., menegaskan bahwa menuntut ilmu tidak sekadar mengejar nilai akademik, melainkan merupakan bentuk ibadah kepada Allah Swt. “Menuntut ilmu adalah amal ibadah. Melalui Baitul Arqam, kita belajar menjadikan ilmu bukan hanya alat mencapai kesuksesan dunia, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup dan pengabdian kepada Allah,” ungkapnya dengan penuh makna.

Dokumentasi Pemaparan materi oleh Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Najih Prastyo, M.H.

Sementara itu, Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, M.A., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan bahwa BAMA menjadi ruang pembinaan integral bagi mahasiswa agar unggul secara intelektual dan spiritual. “Alhamdulillah, Grand Opening Baitul Arqam Mahasiswa kembali dapat terlaksana. Melalui kegiatan ini, kita ingin mencetak mahasiswa yang berilmu, beradab, dan berkarakter Islami. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan memberi manfaat besar bagi sivitas akademika UMMAT,” tutur Rektor.

Momentum BAMA 2025/2026 semakin bermakna dengan kehadiran Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMMAT, Ayahanda Drs. H. Gulam Abbas, M.Si., yang memberikan amanat tentang pentingnya membangun karakter spiritual Gen Z melalui purifikasi aqidah dan ibadah. “Baitul Arqam harus mampu melahirkan mahasiswa yang memiliki ciri khas Islami yang kuat. Outcome-nya harus spesifik, terukur, dan berdampak nyata terhadap kehidupan kampus. Untuk itu, seluruh civitas akademika UMMAT perlu menginternalisasi tujuh budaya kampus Islami,” tegasnya.

Adapun tujuh budaya kampus Islami UMMAT yang menjadi pedoman pembentukan karakter mahasiswa meliputi:

  1. Service Excellent melalui empat S (senyum, salam, sapa, sabar);
  2. Membudayakan shalat berjamaah di Masjid Al-Khoory;
  3. Membaca Al-Qur’an sebelum beraktivitas;
  4. Aktif mengikuti kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan;
  5. Membiasakan berbusana Islami dan tidak merokok di area kampus;
  6. Menjaga akhlak karimah dalam pergaulan; dan
  7. Mengembangkan budaya akademik yang kolaboratif, meritokratis, jujur, tertib, dan amanah.

Ketua LP3IK UMMAT, Dr. Muhammad Anugrah Arifin, M.Pd.I., menuturkan bahwa Baitul Arqam Mahasiswa merupakan bagian dari sistem pembinaan berkelanjutan di Universitas Muhammadiyah Mataram. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diarahkan untuk memahami nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan secara kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan kampus.

“Melalui BAMA, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjadi mahasiswa Muhammadiyah berarti siap meneladani nilai-nilai Islam dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Ini adalah fondasi penting untuk membangun ekosistem kampus yang Islami dan berkemajuan,” jelasnya. (HUMAS UMMAT)

Teguhkan Kaderisasi Berkemajuan: IMM Al-Khattab Fatek UMMAT Bentuk Generasi Tangguh dan Berakhlak Mulia Lewat Darul Arqam Dasar 2025

Teguhkan Kaderisasi Berkemajuan: IMM Al-Khattab Fatek UMMAT Bentuk Generasi Tangguh dan Berakhlak Mulia Lewat Darul Arqam Dasar 2025

Mataram, Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Al-Khattab Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) sukses menyelenggarakan Darul Arqam Dasar (DAD) pada 6-10 Oktober 2025 bertempat di Gedung Dakwah  Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan ini diikuti oleh 43 peserta yang terdiri dari kader IMM se-Kota Mataram dan mahasiswa Fatek UMMAT dari enam program studi. DAD merupakan salah satu jenjang perkaderan dasar yang wajib diikuti oleh calon kader IMM sebagai pintu gerbang menuju proses pembinaan ideologi dan kepemimpinan dalam gerakan mahasiswa Muhammadiyah.

Ketua Panitia, IMMawan M. Jikrulah, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan yang sangat penting dalam membentuk karakter dan semangat keislaman di kalangan mahasiswa. “Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain menciptakan generasi IMM yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia, membentuk akademisi Islam yang berakhlaqul karimah, membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang mempersiapkan kader dan memperluas sayap dakwah Muhammadiyah, memperkuat basis gerakan, serta menjadi langkah awal pembentukan komisariat baru di luar kampus UMMAT,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama lima hari dengan suasana penuh semangat dan kebersamaan. Hari pertama, 6 Oktober 2025, dibuka dengan pembukaan resmi dan stadium general, disertai penyerahan calon kader kepada instruktur yang telah di mandat oleh Pimpinan Cabang IMM Kota Mataram.

Selanjutnya, pada hari kedua hingga ketiga, para peserta menjalani proses pembinaan intensif oleh instruktur sesuai dengan Sistem Perkaderan Ikatan (SPI). Materi yang diberikan mencakup pemahaman ideologi Muhammadiyah, keislaman, keilmuan, dan kepemimpinan yang menjadi fondasi penting bagi kader IMM.

Puncak kegiatan berlangsung pada hari keempat, yang diisi dengan Silaturahmi Akbar bersama para senior IMM, Dekan dan Wakil Dekan III Fakultas Teknik, serta seluruh kader IMM se-Kota Mataram. Acara ini sekaligus menjadi penutupan resmi DAD IMM Komisariat Al-Khattab dengan suasana khidmat dan penuh haru.

Agus Kurniawan, M.Eng., selaku Wakil Dekan III Fatek UMMAT, mengapresiasi semangat para peserta dalam mengikuti proses kaderisasi ini. “Darul Arqam Dasar adalah proses penting dalam membentuk karakter dan ideologi mahasiswa sebagai kader Muhammadiyah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami nilai-nilai Islam berkemajuan, tetapi juga belajar mempraktikkannya dalam kehidupan akademik dan sosial. Mahasiswa Teknik UMMAT harus mampu menjadi teknokrat Muslim yang unggul dalam ilmu, berakhlak dalam perilaku, dan ikhlas dalam pengabdian. Semangat kaderisasi ini harus terus dijaga agar menjadi budaya yang hidup di lingkungan Fakultas Teknik,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum IMM Komisariat Al-Khattab Fatek UMMAT, IMMawan Alif La Mim Sad, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat melahirkan kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan sosial.

“Kami berharap DAD kali ini menjadi langkah awal lahirnya kader-kader Al-Khattab yang siap berjuang di jalan dakwah Muhammadiyah, menjaga nilai-nilai Islam berkemajuan, dan berkontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” ujarnya. (HUMAS UMMAT)

Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah: PWA NTB Wujudkan Gerakan Ekonomi Perempuan yang Kreatif dan Berdaya Saing

Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah: PWA NTB Wujudkan Gerakan Ekonomi Perempuan yang Kreatif dan Berdaya Saing

Foto Bersama acara pembukaan

Lombok Barat, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) resmi membuka kegiatan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) Tahap I dengan tema “Membentuk Perempuan Wirausaha Kreatif, Mandiri, dan Berkemajuan.” Kegiatan yang berlangsung mulai 18 Oktober hingga 25 November 2025 ini menjadi bagian dari upaya nyata ‘Aisyiyah dalam mendorong kemandirian ekonomi umat, khususnya bagi kaum perempuan di daerah.

Ketua MEK PWA NTB, Hj. Siti Lamusiah, S.Pd., M.Si., menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut. “Alhamdulillah, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, kegiatan ini dilaksanakan sebagai implementasi dari Panduan Gerakan Ekonomi ‘Aisyiyah melalui Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA). Program ini merupakan realisasi kerja Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi melalui penumbuhan semangat berwirausaha berbasis nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sesele, Taufik, S.Pd., mengungkapkan apresiasi atas dipilihnya desa Sesele sebagai lokasi kegiatan. “Kami berterima kasih kepada PWA NTB yang telah memilih Desa Sesele sebagai tempat pelaksanaan SWA. Saat ini ada sekitar 60 pelaku usaha kecil di desa kami. Harapannya, kegiatan ini dapat memajukan UKM lokal dan memperkuat ketahanan ekonomi desa,” ucapnya.

Ketua PWA NTB, Bunda Hj. Shofia Rawiana, S.T., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa pelaksanaan SWA merupakan langkah strategis dalam membangun kemandirian dan ketangguhan perempuan. “Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah menjadi ruang bagi para perempuan untuk belajar, berjejaring, dan membangun kapasitas diri agar mampu mengelola usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan. Melalui program ini, kita ingin melahirkan pengusaha-pengusaha perempuan Aisyiyah yang kreatif, mandiri, dan berkemajuan,” ungkapnya.

Turut hadir Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra. Hj. Latifah Iskandar, yang memberikan apresiasi atas sinergi dan kolaborasi antara PWA NTB, pemerintah desa, serta pelaku UMKM lokal. “Saya sangat mengapresiasi inisiatif PWA NTB yang menggandeng pemerintah desa dan pelaku UKM dalam pemberdayaan ekonomi perempuan. Kepala Desa Sesele memiliki cita-cita besar untuk menjadikan UKM desa maju dan mandiri, dan ini langkah yang patut dicontoh,” ujarnya.

Amanat Ketua PP ‘Aisyiyah

Kegiatan SWA Tahap I menghadirkan berbagai narasumber dari Bank BTPN, Bank Danamon, Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi, PKK, hingga pelaku UMKM sukses yang berbagi pengalaman dalam mengembangkan usaha secara praktis dan inspiratif.

Adapun sasaran utama program ini meliputi pekerja rumah tangga, perempuan kepala rumah tangga, buruh tani, nelayan, pekerja migran dan keluarganya, serta perempuan difabel. Melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan, peserta diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dalam mengambil keputusan, mengelola usaha secara efektif, serta memanfaatkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan nilai jual produk.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Isu Strategis ‘Aisyiyah 2022–2027, khususnya Isu 9 tentang “Akses perlindungan bagi pekerja informal sebagai kelompok rentan yang bekerja tanpa jaminan perlindungan sosial.”

Di akhir kegiatan, PWA NTB menegaskan komitmennya untuk menjadikan SWA sebagai gerakan berkelanjutan yang melahirkan perempuan tangguh, produktif, dan berdaya. “Dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang berkelanjutan, kami optimistis SWA akan menjadi kendaraan menuju pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berdaya bagi perempuan Aisyiyah dan masyarakat luas,” pungkas Bunda Shofia. (HUMAS UMMAT)

UMMAT Lepas Lima Mahasiswa sebagai Relawan “Clean Water for Sambori” yang Diselenggarakan oleh AiKite dan LAZISMU

UMMAT Lepas Lima Mahasiswa sebagai Relawan “Clean Water for Sambori” yang Diselenggarakan oleh AiKite dan LAZISMU

Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali meneguhkan komitmennya terhadap isu lingkungan dan sosial kemasyarakatan melalui pelepasan mahasiswa peserta program relawan bertajuk Clean Water For Sambori. Acara pelepasan tersebut berlangsung khidmat pada Kamis, 9 Oktober 2025, di Ruang Temu Rektor UMMAT , dan dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor III, serta para mahasiswa peserta.

Program Clean Water For Sambori merupakan hasil kolaborasi strategis antara AiKite dan LAZISMU , yang mengusung semangat pengabdian, inovasi, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Melalui program ini, mahasiswa terdorong untuk terlibat langsung dalam upaya peningkatan akses air bersih dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di kawasan adat Sambori, Kabupaten Bima. Fokus kegiatan utama ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 6 dan 13, yakni Air Bersih dan Sanitasi Layak untuk Semua serta Penanganan Perubahan Iklim .

Program ini juga menjadi bentuk nyata evolusi dari visi UMMAT sebagai perguruan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan , dengan menumbuhkan semangat ta’awun (tolong-menolong) dan kepedulian sosial di kalangan mahasiswa. Melalui keterlibatan dalam kegiatan kemanusiaan dan lingkungan, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan alam.

Dalam kegiatan yang berlangsung mulai 10 hingga 18 Oktober 2025 di Desa Sambori, Kabupaten Bima, lima mahasiswa terpilih dari UMMAT resmi dilepas oleh pimpinan universitas. Mereka adalah Irma Neni Wahidah (Program Studi PGMI), Nina Muji Apriani (Teknik Sipil), Putri Hafidzah (PBSI), Rio Eza Nur Muhammad (Ilmu Pemerintahan), dan Ade Indra Zulfa (Farmasi). Kelimanya berhasil lolos seleksi nasional dan akan bergabung bersama para relawan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat di kawasan adat Sambori, yang dikenal luas dengan sebutan Negeri di Atas Awan .

Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, M.A., berpesan pentingnya menjaga etika dan nilai-nilai moral selama menjalankan tugas kemanusiaan di masyarakat. Beliau menekankan bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi wadah pengabdian, tetapi juga sarana pendidikan karakter bagi mahasiswa.

“Jagalah etika, sopan santun, dan tetaplah ramah terhadap masyarakat. Hargai nilai-nilai adat istiadat yang berlaku di Sambori, karena keberhasilan seorang relawan bukan hanya dilihat dari seberapa besar kontribusi fisik yang diberikan, tetapi juga dari bagaimana ia mampu menghormati dan memahami budaya masyarakat tempat ia mengabdi. Semoga pengalaman ini menjadi ladang ilmu dan pengayaan diri yang akan berguna bagi masa depan,” ujar Rektor.

Sementara itu, Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., turut menyampaikan pesan penuh makna kepada para mahasiswa yang akan berangkat. Beliau menekankan pentingnya kemampuan adaptasi, empati, dan ketulusan hati dalam menjalankan program pengabdian.

“Prinsipnya, jaga diri dan berbaurlah dengan masyarakat setempat sesuai budaya mereka. Jangan membawa budaya kita, tetapi belajarlah bagaimana mereka hidup, bekerja, dan menjaga alam. Kegiatan ini adalah kesempatan untuk belajar menjadi bagian dari solusi. Kami berharap kalian dapat kembali dengan selamat, membawa cerita, inspirasi, dan semangat baru yang bisa menular kepada mahasiswa lain,” ungkapnya.

Salah satu peserta, Irma Neni Wahidah dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), menyampaikan rasa syukur dan antusiasmenya atas kesempatan ini. “Saya merasa sangat bersyukur bisa terpilih mewakili UMMAT. Ini adalah kesempatan berharga untuk belajar langsung dari masyarakat adat Sambori tentang bagaimana mereka menjaga alam dan mengelola air. Semoga kami dapat memberikan kontribusi kecil yang bermanfaat sekaligus membawa nilai-nilai Islami dan kemanusiaan yang diajarkan di kampus,” tuturnya penuh semangat. (HUMAS UMMAT)

Gugat Ketimpangan, Teguhkan Perubahan: Ormawa FAI UMMAT Bangun Diskursus Kritis tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender

Gugat Ketimpangan, Teguhkan Perubahan: Ormawa FAI UMMAT Bangun Diskursus Kritis tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender

Mataram, Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) sukses menyelenggarakan kegiatan Dialog Suara Perempuan dengan tema “Membongkar Realitas, Menggugat Ketimpangan, dan Merumuskan Aksi Nyata dari Agenda Perempuan untuk Perubahan.”
Kegiatan yang berlangsung di Aula FAI UMMAT pada tanggal 8 oktober 2025 ini menghadirkan atmosfer diskusi yang hidup dan reflektif, diikuti oleh para dosen, mahasiswa, serta perwakilan lembaga kemahasiswaan yang terlibat aktif dalam percakapan seputar isu kesetaraan dan keadilan gender.

Wakil Dekan I FAI UMMAT, Dr. Mukhlisin, M.S.I., menyampaikan apresiasi terhadap semangat Ormawa FAI dalam menghadirkan ruang intelektual yang progresif dan solutif. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi wadah pengembangan akademik, tetapi juga sarana pembentukan karakter sosial mahasiswa yang peka terhadap realitas kemanusiaan.

“Perempuan memiliki peran besar dalam dinamika sosial dan pembangunan bangsa. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis, berempati, dan menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap isu-isu kemanusiaan,” ujar Dr. Mukhlisin.

Dialog ini menghadirkan tiga narasumber utama yang menyoroti persoalan ketimpangan gender dari berbagai sudut pandang akademik dan sosial. Merka adalah Prof. Dr. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D., Humaira, M.Pd., dan Miftahul Jannah, M.Pd.

Narasumber pertama, Prof. Dr. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D., menegaskan pentingnya kesadaran struktural dalam memahami akar ketimpangan gender. Ia menjelaskan bahwa ketidakadilan terhadap perempuan tidak muncul secara alami, melainkan hasil dari konstruksi sosial dan sistem budaya yang selama berabad-abad menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, terutama di ranah publik dan politik.

“Ketimpangan gender tidak lahir begitu saja, tetapi dibentuk oleh sistem dan struktur sosial yang belum berpihak pada keadilan. Maka, perjuangan perempuan adalah perjuangan melawan struktur yang menindas, bukan sekadar perbaikan perilaku individu,” tegas Prof. Atun.

Sementara itu, Humaira, M.Pd., membahas bentuk-bentuk konkret ketimpangan yang masih dihadapi perempuan di berbagai sektor kehidupan, seperti marginalisasi ekonomi, beban ganda, kekerasan berbasis gender, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Ia menegaskan bahwa pandangan sempit yang menempatkan perempuan hanya di ranah domestik harus diubah, karena kontribusi perempuan sangat besar dalam pembangunan bangsa.

“Perempuan sering dipinggirkan dalam akses terhadap sumber daya ekonomi dan politik. Padahal, mereka memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di berbagai sektor kehidupan,” ungkap Humaira.

Miftahul Jannah, M.Pd., sebagai narasumber ketiga, juga memaparkan data empiris mengenai kondisi ketimpangan gender di Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan data per Mei 2025, indeks ketimpangan gender di sejumlah kabupaten/kota masih tergolong tinggi: Lombok Barat (0,538), Lombok Tengah (0,5), Lombok Timur (0,551), Sumbawa (0,3), Dompu (0,5), Bima (0,4), Sumbawa Barat (0,4), Lombok Utara (0,5), dan Kota Mataram (0,4).

Ia juga mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam politik nasional baru mencapai 21 persen, menempatkan Indonesia di posisi ke-113 dunia, sementara partisipasi perempuan di pasar kerja hanya sekitar 53 persen. Di sisi lain, kasus kekerasan terhadap perempuan di NTB masih tinggi, mencapai 233 kasus sepanjang 2025, dengan bentuk kekerasan paling dominan berupa catcalling di tempat kerja.

“Data ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan masih panjang dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan keadilan dan perlindungan yang lebih nyata,” tutur Miftahul Jannah.

Melalui kegiatan ini, Ormawa FAI UMMAT berharap agar mahasiswa mampu memperluas wawasan, memperdalam kepekaan sosial, serta memperkuat komitmen moral terhadap perjuangan kesetaraan gender. Dialog ini tidak hanya menjadi ajang berbagi gagasan, tetapi juga momentum bagi civitas akademika untuk meneguhkan peran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin — yang menempatkan nilai keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan sebagai pilar utama kehidupan sosial. (HUMAS UMMAT)

Dorong Budaya Riset dan Publikasi Akademik di Lingkungan Kampus, FH UMMAT Gelar Sharing Session Penulisan Artikel Ilmiah

Dorong Budaya Riset dan Publikasi Akademik di Lingkungan Kampus, FH UMMAT Gelar Sharing Session Penulisan Artikel Ilmiah

Mataram, Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas akademik dosen dan mendorong budaya riset yang berkelanjutan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, FH UMMAT menggelar kegiatan Sharing Session bertajuk “Penulisan Artikel Ilmiah dari Draft sampai Submit” yang berlangsung di Gedung Lantai 1 FH UMMAT, pada Senin, 06 Oktober 2025.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber berkompeten di bidang akademik dan publikasi ilmiah, yakni Dr. Yusuf Saefudin, S.H., M.H., Sekretaris Jenderal Relawan Jurnal Indonesia, serta Dr. Hilman Syahrial Haq, S.H., LL.M., selaku Dekan FH UMMAT. Keduanya berbagi wawasan mendalam mengenai strategi, tahapan, dan etika dalam penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan standar publikasi nasional maupun internasional.

Tujuan utama dari kegiatan Sharing Session ini adalah meningkatkan kemampuan akademik dan literasi ilmiah para dosen FH UMMAT dalam menyusun dan mempublikasikan karya ilmiah yang berkualitas. Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan teknis, acara ini juga menjadi ruang reflektif bagi para dosen untuk memahami pentingnya publikasi ilmiah sebagai bentuk kontribusi terhadap pengembangan ilmu hukum dan reputasi institusi.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis mengenai keseluruhan proses penulisan artikel ilmiah, mulai dari penyusunan draft, pengelolaan referensi, teknik penyusunan sitasi, hingga proses submission ke jurnal terakreditasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat memperoleh bekal pengetahuan dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan produktivitas akademik mereka.

Dr. Hilman Syahrial Haq, S.H., LL.M., menegaskan bahwa kegiatan Sharing Session ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Fakultas Hukum UMMAT untuk membangun budaya akademik yang produktif dan berbasis riset. “Kemampuan menulis artikel ilmiah merupakan bagian penting dari tanggung jawab akademik seorang dosen. Melalui publikasi, kita tidak hanya memperluas wawasan keilmuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan kajian hukum di Indonesia,” ujar Dr. Hilman.

Beliau juga menambahkan bahwa publikasi ilmiah tidak hanya sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan bagian dari proses pengembangan diri dosen sebagai akademisi yang berpikir kritis, inovatif, dan berintegritas. “Kami berharap melalui kegiatan ini, para dosen dapat lebih percaya diri untuk menulis dan mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal bereputasi. Fakultas Hukum UMMAT siap mendukung dengan berbagai pelatihan dan pendampingan agar budaya riset semakin kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Yusuf Saefudin, S.H., M.H., dalam paparannya menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang struktur dan gaya penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan ketentuan akademik. Ia menjelaskan bahwa proses publikasi tidak hanya berhenti pada tahap penulisan, tetapi juga mencakup strategi memilih jurnal, memahami review process, serta mengelola revisi dengan baik.

“Menulis artikel ilmiah adalah proses intelektual yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kejujuran akademik. Setiap penulis harus memahami bahwa publikasi ilmiah bukan sekadar mencari pengakuan, tetapi bagian dari kontribusi ilmiah terhadap masyarakat dan dunia pendidikan,” jelas Dr. Yusuf.

Ia juga mengajak para peserta untuk aktif berjejaring dengan komunitas penulis dan peneliti lainnya, termasuk memanfaatkan wadah seperti Relawan Jurnal Indonesia, agar dapat saling bertukar pengalaman dan memperluas wawasan dalam dunia publikasi ilmiah. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para dosen di lingkungan FH UMMAT. Selama sesi berlangsung, para peserta aktif bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai kendala yang sering dihadapi dalam proses penulisan, mulai dari kesulitan menemukan topik penelitian, pemilihan referensi yang relevan, hingga proses komunikasi dengan editor jurnal. (HUMAS UMMAT)