Suasana pembukaan Baitul Arqam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) di Gedung BGTK NTB, Rabu–Kamis, 13–14 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus BEM, DPM Fakultas, dan UKM sebagai upaya penguatan ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta pembentukan kader Ormawa sebagai penggerak dakwah kampus UMMAT.
MATARAM – Lembaga Pengkajian, Pengembangan, dan Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3IK) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar Baitul Arqam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dengan mengusung tema “Internalisasi Ideologi Pengurus ORMAWA sebagai Penggerak Dakwah Kampus UMMAT.” Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 13–14 Mei 2026, bertempat di Gedung BGTK NTB.
Baitul Arqam Ormawa ini diikuti oleh 55 peserta yang berasal dari berbagai unsur organisasi kemahasiswaan di lingkungan UMMAT, meliputi BEM, DPM, BEM tingkat fakultas, serta 10 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Melalui kegiatan ini, para pengurus Ormawa diharapkan mampu memperkuat pemahaman ideologi Muhammadiyah, meneguhkan komitmen dakwah, serta menjadi teladan dalam membangun budaya kampus yang Islami dan berkemajuan.
Ketua Panitia Penyelenggara, Muhamad Sahril, M.Pd., yang juga merupakan Ketua Divisi Dakwah dan Kaderisasi LP3IK UMMAT, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program prioritas LP3IK dalam membina kader mahasiswa. Menurutnya, pengurus organisasi kemahasiswaan memiliki posisi strategis sebagai penggerak aktivitas mahasiswa, sehingga perlu memiliki fondasi ideologi yang kuat.
“Program ini bertujuan agar mahasiswa di tingkat Ormawa mampu menginternalisasi ideologi Muhammadiyah. Nilai-nilai tersebut perlu tertanam dalam seluruh unsur organisasi, baik UKM, BEM, maupun DPM. Dengan begitu, pengurus Ormawa tidak hanya aktif secara kelembagaan, tetapi juga memiliki arah gerakan yang selaras dengan dakwah kampus dan nilai-nilai Persyarikatan Muhammadiyah,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala LP3IK UMMAT, Dr. Muhammad Anugrah Arifin, M.Pd.I., menegaskan bahwa Baitul Arqam Ormawa menjadi ruang penting untuk menguatkan kembali kesadaran keislaman, kemuhammadiyahan, dan tanggung jawab moral mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa aktivitas mahasiswa dalam berdiskusi, berpikir kritis, mengkritisi persoalan internal maupun eksternal kampus, serta terlibat langsung di lapangan merupakan hal yang positif selama dilakukan dengan cara yang baik dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Menurutnya, di antara banyaknya hari yang diisi dengan aktivitas akademik dan organisasi, perlu ada waktu khusus yang digunakan untuk memperdalam pemahaman agama, menguatkan ideologi, serta mengembalikan khittah mahasiswa sebagai muslim dan bagian dari warga Persyarikatan Muhammadiyah.
“Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan agar tidak semua orang berangkat ke medan perjuangan, tetapi harus ada sebagian yang memperdalam pemahaman agama. Karena itu, Baitul Arqam ini menjadi ruang khusus bagi para pengurus Ormawa untuk kembali belajar, memperkuat pemahaman, dan meneguhkan peran mereka sebagai kader dakwah di kampus,” jelasnya.
Dr. Anugrah juga menekankan bahwa para pengurus Ormawa yang mengikuti kegiatan ini bukan karena dianggap belum memahami akidah atau nilai-nilai keislaman. Justru, mereka diberikan ruang pembinaan yang lebih spesifik karena memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menggerakkan organisasi dan membangun iklim kampus.
“Rekan-rekan Ormawa adalah aktor penting dalam kehidupan kampus. Karena itu, mereka perlu mendapatkan ruang penguatan yang lebih khusus agar benar-benar mampu menjadi agen dakwah Islam dan Muhammadiyah, khususnya di lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa Baitul Arqam Ormawa tidak boleh berhenti hanya sebagai kegiatan seremonial. Kegiatan ini harus melahirkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang nyata, sehingga nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan dalam program kerja Ormawa, budaya organisasi, serta kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Rektor UMMAT yang diwakili oleh Wakil Rektor IV UMMAT, Dr. TGH. Zaenudin, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan spiritual dan ideologi menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda, khususnya mahasiswa. Ia menilai bahwa berbagai fenomena sosial yang terjadi saat ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter, penguatan iman, dan pembinaan spiritual yang berkelanjutan.
Menurutnya, mahasiswa Muhammadiyah harus memiliki fondasi keislaman yang kokoh. Sebagai bagian dari perguruan tinggi Muhammadiyah, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki akhlak, keimanan, kepedulian sosial, dan pemahaman terhadap tujuan Persyarikatan.
“Muhammadiyah memiliki tujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Karena itu, mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi pribadi yang memiliki iman kuat, akhlak baik, dan komitmen terhadap dakwah,” ujarnya.
Dr. TGH. Zaenudin juga menjelaskan bahwa seluruh mahasiswa UMMAT telah dibekali dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan melalui berbagai proses pembelajaran dan pembinaan, termasuk Baitul Arqam Mahasiswa (BAMA). Namun, bagi pengurus Ormawa, penguatan tersebut perlu ditingkatkan melalui Baitul Arqam Ormawa karena mereka memiliki peran strategis sebagai pemimpin mahasiswa.
“Mahasiswa sudah mendapatkan pembinaan AIK, termasuk Baitul Arqam Mahasiswa. Namun, pengurus Ormawa perlu mendapatkan penguatan lanjutan agar mereka mampu menjadi teladan, penggerak, dan penyambung nilai-nilai dakwah di lingkungan kampus,” jelasnya.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMMAT yang diwakili oleh Bendahara BPH, Drs. Ardi Syamsuri, turut memberikan amanat kepada peserta. Ia menyampaikan bahwa kegiatan Baitul Arqam Ormawa merupakan kegiatan mulia karena berorientasi pada pembinaan kader dan penguatan nilai-nilai tauhid.
Ia menyebut para peserta sebagai orang-orang terpilih yang sedang dipersiapkan menjadi kader Persyarikatan. Namun, untuk menjadi kader yang kuat dan militan, setiap peserta harus bersedia menjalani proses pembinaan secara sungguh-sungguh.
“Para peserta adalah orang-orang pilihan yang disiapkan untuk menjadi kader. Untuk menjadi kader yang militan, tentu dibutuhkan proses. Kita sebagai manusia sering lupa, maka perlu terus-menerus diingatkan. Dalam QS. Ar-Rahman, Allah mengulang berkali-kali kalimat fabi ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Ini menjadi pengingat bahwa pembinaan harus terus dilakukan,” pesannya.
Drs. Ardi Syamsuri menegaskan bahwa hal utama yang harus tertanam dalam diri seorang kader adalah ideologi, terutama yang berkaitan dengan tauhid. Menurutnya, ideologi menjadi dasar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan gerakan mahasiswa.
“Yang pertama harus tertanam dalam diri kita adalah ideologi, terutama yang berkaitan dengan tauhid. Jika fondasi itu kuat, maka kader akan memiliki arah gerakan yang jelas dan tidak mudah goyah,” tegasnya.
Melalui kegiatan Baitul Arqam Ormawa ini, LP3IK UMMAT berharap lahir kader-kader mahasiswa yang tidak hanya cakap dalam mengelola organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, integritas moral, wawasan kemuhammadiyahan, serta komitmen kuat untuk menggerakkan dakwah kampus.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari ikhtiar UMMAT dalam membangun ekosistem kampus Islami dan berkemajuan, dengan menempatkan pengurus Ormawa sebagai mitra strategis dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan, keteladanan, dan dakwah Muhammadiyah di lingkungan mahasiswa. (HUMAS UMMAT)
Suasana pembukaan FAPERTA FAIR 9 dan Lombok Essay Competition 6 yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT, 9 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia sebagai ajang adu gagasan, inovasi, dan penguatan budaya ilmiah mahasiswa.
MATARAM– Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram (FAPERTA UMMAT) kembali menghadirkan ruang akademik berskala nasional melalui penyelenggaraan FAPERTA FAIR 9 dan Lombok Essay Competition 6. Kegiatan ini berlangsung pada 9–11 Mei 2026 di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT dan diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia.
Ajang tahunan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, mengasah kemampuan berpikir kritis, memperkuat budaya ilmiah, serta membangun jejaring akademik lintas kampus. Melalui kegiatan ini, FAPERTA UMMAT mendorong lahirnya ide-ide kreatif dan inovatif yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pertanian, lingkungan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram bekerja sama dengan Sentosa Foundation serta Riset Inovasi, Sains dan Karya Ilmiah (RISKI). Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem akademik yang produktif, kompetitif, dan berorientasi pada kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pembukaan kegiatan berlangsung meriah dan secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor II UMMAT, Ir. Asmawati, M.P. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya FAPERTA FAIR 9 dan Lombok Essay Competition 6 yang dinilai mampu menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri, terutama dalam bidang penelitian, inovasi, dan penulisan ilmiah.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir ide-ide kreatif dan inovatif dari mahasiswa Indonesia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa, khususnya di bidang pertanian, lingkungan, dan teknologi,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan FAPERTA UMMAT, Syirril Ihromi, S.P., M.P., menyampaikan bahwa FAPERTA FAIR dan Lombok Essay Competition bukan sekadar kompetisi, melainkan forum akademik yang mempertemukan gagasan, kreativitas, dan semangat inovasi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar FAPERTA UMMAT dalam membangun budaya akademik yang unggul, kolaboratif, dan kompetitif. Mahasiswa tidak hanya diajak untuk berkompetisi, tetapi juga dilatih untuk mampu menyampaikan pemikiran secara ilmiah, terstruktur, dan solutif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“FAPERTA FAIR dan Lombok Essay Competition menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, memperkuat literasi ilmiah, serta membangun jejaring akademik lintas kampus. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda nasional yang mampu melahirkan generasi muda inovatif,” ungkapnya.
Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta mengikuti berbagai rangkaian agenda, mulai dari presentasi karya esai, seminar ilmiah, diskusi akademik, hingga penganugerahan peserta terbaik. Setiap peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan ide dan karya terbaiknya di hadapan dewan juri, sehingga kegiatan ini menjadi ruang adu gagasan yang sehat, produktif, dan inspiratif.
Antusiasme peserta dari berbagai kampus di Indonesia semakin memperkuat posisi FAPERTA FAIR 9 dan Lombok Essay Competition 6 sebagai salah satu ajang ilmiah mahasiswa berskala nasional yang bergengsi. Tidak hanya menjadi arena kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan jejaring antar mahasiswa.
Melalui suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram berharap FAPERTA FAIR dan Lombok Essay Competition dapat terus menjadi wadah inspiratif bagi mahasiswa Indonesia dalam melahirkan gagasan inovatif, memperkuat budaya riset, serta meningkatkan semangat literasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.
FAPERTA UMMAT juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang akademik yang mampu mendukung pengembangan kreativitas, penelitian, dan inovasi mahasiswa sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mencetak generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi bangsa. (HUMAS UMMAT)
Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) melepas kontingen Tapak Suci yang akan berlaga pada The 1st Muhammadiyah Games 2026. Pelepasan dilaksanakan di Ruang Temu Rektor UMMAT, Selasa, 12 Mei 2026, dan dihadiri Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni, official, serta empat atlet Tapak Suci UMMAT dari Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam. Para atlet siap bertanding pada cabang olahraga Pencak Silat dengan menjunjung sportivitas dan membawa nama baik UMMAT di tingkat nasional.
MATARAM – Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) secara resmi melepas delegasi Tapak Suci Putera Muhammadiyah untuk mengikuti The 1st Muhammadiyah Games 2026, ajang olahraga nasional perdana yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pelepasan tersebut dilaksanakan di Ruang Temu Rektor UMMAT pada Selasa, 12 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor III UMMAT, Wakil Rektor IV UMMAT, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni, official, serta para peserta yang akan mewakili UMMAT pada ajang nasional tersebut.
The 1st Muhammadiyah Games 2026 berlangsung pada 12–23 Mei 2026 di tiga kota, yakni Yogyakarta, Surakarta, dan Purwokerto. Ajang ini menjadi wadah pembinaan bakat atlet pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia melalui enam cabang olahraga, yaitu Pencak Silat, Panahan, Atletik, Bulu Tangkis, Tenis Meja, dan Bola Voli Indoor.
Pada ajang nasional tersebut, UMMAT mengirimkan empat mahasiswa atlet Tapak Suci dari Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) untuk mengikuti cabang olahraga Pencak Silat. Keempat mahasiswa tersebut adalah Jihadil Haq, Fajriansyah, Syahrul, dan Aidir Saputra. Mereka didampingi oleh official, Muhammad Fahmi Robbani, S.Kom., M.Sos.
Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., dalam arahannya menyampaikan bahwa keikutsertaan mahasiswa UMMAT dalam ajang nasional ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam mendukung pengembangan minat, bakat, dan prestasi mahasiswa, khususnya di bidang olahraga.
“Kami berharap kegiatan ini dapat diikuti dengan tertib, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Kompetisi memang bertujuan untuk meraih prestasi, tetapi jangan sampai melakukan sesuatu secara berlebihan atau dipaksakan. Semua harus diukur sesuai kemampuan dan kesiapan diri,” ungkapnya.
Dr. Erwin juga berpesan agar para atlet menjaga kondisi fisik sebelum bertanding. Menurutnya, kesiapan mental harus diimbangi dengan kesehatan tubuh, pola makan yang baik, serta istirahat yang cukup.
“Sebelum tampil, pastikan kondisi fisik dalam keadaan fit dan sehat. Jaga pola makan, jaga stamina, dan tetap fokus. Kami menitipkan nama besar Universitas Muhammadiyah Mataram. Semoga kalian dapat memberikan yang terbaik untuk UMMAT,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa UMMAT akan terus memberikan dukungan kepada mahasiswa yang memiliki semangat berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Prestasi yang diraih diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya.
“Semoga pengalaman ini dapat ditularkan kepada generasi selanjutnya. Kami selalu mendukung mahasiswa untuk terus berprestasi. Semoga eksistensi Tapak Suci Muhammadiyah semakin maju dan memberi manfaat bagi persyarikatan, kampus, dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMMAT, Dr. TGH. Zaenudin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam kompetisi olahraga tidak hanya dimaknai sebagai ajang meraih prestasi, tetapi juga sebagai bagian dari pengabdian dan ibadah.
“Kegiatan ini dapat menjadi bagian dari ibadah ghairu mahdhah. Karena itu, luruskan niat bahwa kompetisi ini bukan hanya untuk menang, tetapi juga untuk membawa nilai-nilai kebaikan, kedisiplinan, sportivitas, dan semangat dakwah Muhammadiyah,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada para atlet agar bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri, menjaga akhlak, serta membawa nama baik UMMAT selama berada di arena kompetisi.
Melalui keikutsertaan delegasi Tapak Suci dalam The 1st Muhammadiyah Games 2026, UMMAT berharap para mahasiswa mampu menunjukkan kemampuan terbaik, menjunjung tinggi sportivitas, serta memperkuat tradisi prestasi mahasiswa di tingkat nasional. (HUMAS UMMAT)
Mahasiswa PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram, Pratiwi Wulandari, tampil anggun dalam ajang Putri Pendidikan NTB 2026. Pratiwi berhasil meraih prestasi membanggakan sebagai First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026, sekaligus membawa nama baik UMMAT di tingkat daerah.
MATARAM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat daerah. Kali ini, prestasi tersebut diraih oleh Pratiwi Wulandari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UMMAT semester 2, yang berhasil meraih gelar First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026.
Kegiatan Putri Pendidikan NTB 2026 berlangsung selama hampir satu bulan, sejak 15 April hingga 10 Mei 2026. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi proses pendaftaran, seleksi, karantina, pembekalan, hingga grand final. Dalam proses tersebut, para peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga dari wawasan, kepribadian, kemampuan komunikasi, kepedulian terhadap pendidikan, serta kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Pratiwi Wulandari menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan pengembangan dirinya. Menurutnya, ajang Putri Pendidikan NTB 2026 memberikan banyak pelajaran tentang keberanian, kedisiplinan, kepercayaan diri, serta pentingnya peran generasi muda dalam mendukung dunia pendidikan.
“Saya berharap prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkembang, berani mencoba hal baru, dan percaya pada potensi diri masing-masing. Saya juga berharap dapat membawa nama baik kampus serta memberikan dampak positif melalui pendidikan, prestasi, dan kontribusi nyata untuk masyarakat,” ungkap Pratiwi.
Prestasi ini mendapat apresiasi dari Kaprodi PGSD FKIP UMMAT, Sukron Fujiaturrahman, M.Pd. Ia menyampaikan rasa bangga dan syukur atas capaian yang diraih oleh mahasiswa PGSD FKIP UMMAT tersebut. Menurutnya, keberhasilan Pratiwi menjadi bukti bahwa mahasiswa PGSD tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas diri, kecerdasan, kepribadian, dan kepedulian sosial.
“Dengan penuh rasa bangga dan syukur, kami mengucapkan selamat kepada saudari Pratiwi Wulandari, mahasiswa PGSD FKIP UMMAT, atas prestasi luar biasa sebagai First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026. Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PGSD tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas diri, kecerdasan, kepribadian, dan kontribusi positif di tengah masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sukron menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi Program Studi PGSD, FKIP, dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Ia berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan diri, berani berkarya, serta aktif mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan positif.
“Sebagai Kaprodi PGSD, saya merasa sangat terharu dan bangga melihat semangat, kerja keras, dan dedikasi yang ditunjukkan. Keberhasilan ini membawa nama baik PGSD FKIP UMMAT sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berani berkarya, berprestasi, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.
Ia juga berpesan agar Pratiwi menjadikan pencapaian ini sebagai langkah awal untuk terus belajar, rendah hati, dan mengembangkan potensi diri. Menurutnya, seorang mahasiswa calon pendidik perlu memiliki karakter yang kuat, mampu menjadi teladan, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai pendidikan.
“Jadikan pencapaian ini sebagai langkah awal untuk terus belajar, rendah hati, dan mengembangkan potensi diri. Tetaplah menjadi pribadi yang menginspirasi, menjaga nilai-nilai pendidikan, serta mampu menjadi teladan bagi generasi muda. Semoga prestasi ini membuka jalan menuju kesuksesan yang lebih besar di masa depan,” tutupnya.
Melalui prestasi ini, Universitas Muhammadiyah Mataram terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif berprestasi, berkarakter, percaya diri, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (HUMAS UMMAT)
Ditulis oleh: Dr. Mukhlisin, S.Sy.,M.S.I (Wakil Dekan 1 Fakultas Agama Islam UMMAT)
Teknologi digital mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Arus informasi memenuhi ruang publik setiap hari. Media sosial membentuk opini, mempercepat reaksi, sekaligus membuka ruang konflik baru. Masyarakat menikmati kemudahan, tetapi juga memikul kegelisahan baru tentang adab melemah, kebijaksanaan menipis, dan arah kemajuan kian kabur. Fakta ini menghadapkan kita pada satu pertanyaan mendasar, untuk apa manusia membangun kemajuan, jika kemajuan itu tidak memperkuat martabat, tanggung jawab moral, dan kehidupan bersama?
Pertanyaan itu penting karena peradaban tidak timbul dari gedung tinggi, perangkat teknologi, pusat industri, atau angka pertumbuhan ekonomi. Peradaban tumbuh dari cara manusia berpikir, menilai, bersikap, dan memperlakukan sesamanya. Sebuah masyarakat boleh saja tampak maju secara fisik, tetapi tetap rapuh apabila kehilangan kejujuran, empati, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam salah satu artikel ilmiah tentang falsafah, konsep, dan teori peradaban, peradaban dipahami sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang lahir melalui proses belajar. Gagasan ini memberi pesan penting dimana walaupun peradaban memiliki karakter capaian material, ada juga ukuran kedalaman batin dan kematangan akal budi. Kemajuan yang hanya mengejar bentuk luar mudah berubah menjadi kesombongan zaman. Kerap tampak megah, tetapi miskin arah.
Karena itu, berfikir untuk peradaban perlu dibaca sebagai panggilan etis. Manusia tidak cukup hanya pandai menciptakan alat, sistem, kebijakan, dan teknologi. Manusia juga harus mampu memahami akibat dari setiap ciptaannya. Ilmu pengetahuan, kebudayaan, agama, ekonomi, politik, dan teknologi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Semua perlu bertemu dalam satu tujuan besar dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beradab, dan manusiawi.
Filsafat memperoleh tempat penting dalam percakapan ini. Filsafat tidak seharusnya tinggal di ruang kuliah, buku tebal, atau forum akademik yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ia perlu hadir sebagai cara manusia menguji arah hidup, menimbang kebenaran, memeriksa kebaikan, dan mempertanyakan tujuan tindakan. Tradisi berpikir filsafati mengajak manusia bertanya, “Apakah yang kita buat itu baik?”, “Siapa yang diuntungkan?”, dan “Nilai apa yang sedang kita wariskan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa mendesak hari ini. Banyak keputusan publik lahir dengan cepat, tetapi tidak selalu disertai perenungan yang matang. Banyak inovasi dikejar atas nama efisiensi, tetapi kurang menimbang dampaknya terhadap kelompok rentan. Banyak pembangunan dipuji karena tampak modern, tetapi belum tentu menghadirkan rasa keadilan. Pada titik ini, kemajuan membutuhkan rem moral agar tidak berubah menjadi mesin yang dingin dan menyingkirkan manusia.
Falsafah peradaban mengingatkan kita bahwa kemajuan harus dipandu oleh kesadaran nilai. Masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang menguasai ilmu, melainkan masyarakat yang menggunakan ilmu untuk kemaslahatan banyak orang. Kemajuan tanpa nilai dapat melahirkan kesenjangan, kekerasan, kerakusan, dan dehumanisasi. Sebaliknya, nilai tanpa nalar kritis dapat membuat masyarakat terjebak dalam romantisme dan ketertinggalan.
Indonesia memiliki alasan kuat untuk memikirkan hal ini secara serius. Kita hidup dalam masyarakat yang beragam, mulai dari agama, suku, budaya, bahasa, kelas sosial, hingga kepentingan ekonomi bertemu dalam ruang kebangsaan yang sama. Keragaman dapat menjadi kekuatan peradaban apabila dikelola dengan akal sehat, etika publik, dan kemauan untuk saling menghormati. Keragaman juga dapat berubah menjadi sumber luka apabila manusia berhenti berpikir jernih dan memilih prasangka, kebencian, serta kepentingan sempit.
Berfikir untuk peradaban melatih diri melihat perbedaan sebagai ruang belajar bersama. Peradaban yang sehat tidak memaksa semua orang menjadi seragam. Ada banyak tempat bagi banyak suara selama semuanya berdiri di atas penghormatan terhadap martabat manusia. Peradaban yang baik memberi ruang bagi yang kuat dan yang lemah, mayoritas dan minoritas, pusat dan daerah, tradisi lama dan gagasan baru.
Pemikiran saja tentu belum cukup. Gagasan harus turun menjadi konsep, lalu diuji dalam kenyataan. Filsafat membantu manusia menggali makna terdalam. Konsep membantu manusia menyusun gagasan umum tentang realitas. Teori membantu manusia membaca pola, hubungan, dan arah perkembangan masyarakat. Peradaban membutuhkan kejernihan berpikir, ketepatan merumuskan gagasan, dan keberanian menguji gagasan itu dalam praktik kehidupan.
Persoalan kita sering muncul pada jarak antara gagasan dan tindakan. Banyak nilai luhur berhenti sebagai pidato. Banyak konsep pembangunan berhenti sebagai dokumen. Banyak semboyan moral berhenti sebagai hiasan acara resmi. Peradaban tumbuh dari praktik sosial yang nyata kongkritnya pendidikan yang mencerdaskan, hukum yang adil, ekonomi yang tidak menyingkirkan, politik yang bermartabat, dan budaya publik yang menghargai kebenaran.
Ukuran peradaban juga perlu diperluas. Kita kerap memahami peradaban sebagai sesuatu yang besar, modern, dan maju secara fisik. Gedung tinggi, jalan lebar, pusat belanja, kawasan industri, dan teknologi digital sering dianggap sebagai tanda utama kemajuan. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Peradaban sejati juga tampak dari cara masyarakat memperlakukan orang miskin, menjaga lingkungan, menghormati perempuan, melindungi anak, merawat orang tua, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Pada titik ini, peradaban memiliki dua sisi yang tidak boleh dipisahkan, sisi material dan nonmaterial. Kemajuan industri, ilmu pengetahuan, perdagangan, dan teknologi harus berjalan bersama kemajuan moral, spiritual, sosial, dan kebudayaan. Ketimpangan di antara keduanya akan membuat masyarakat kehilangan keseimbangan. Kita bisa menjadi modern dalam alat, tetapi primitif dalam sikap. Canggih dalam teknologi, tetapi miskin empati. Cepat dalam produksi, tetapi lamban dalam keadilan.
Pendidikan memegang peran penting dalam membentuk manusia berperadaban. Pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja yang siap memasuki pasar. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berpikir kritis, beretika, dan peduli terhadap kepentingan bersama. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadi ruang pembentukan akal budi. Ilmu harus diajarkan bersama tanggung jawab. Kecerdasan harus disertai kepekaan sosial. Prestasi harus memberi manfaat bagi masyarakat.
Kesadaran sejarah juga perlu dirawat. Tidak ada peradaban yang tumbuh dari ruang kosong. Setiap masyarakat membawa warisan nilai, pengalaman, luka, pencapaian, dan harapan. Kita tidak perlu memuja masa lalu secara membuta, tetapi juga tidak boleh memutus diri dari akar budaya. Tradisi perlu dibaca ulang dengan nalar kritis agar nilai terbaiknya dapat menjawab tantangan zaman.
Sikap yang perlu ditegaskan hari ini sederhana, tetapi mendasar bertumpu pada kemajuan harus dituntun oleh adab. Ilmu harus berpihak pada kemanusiaan. Teknologi harus dikendalikan oleh etika. Pembangunan harus menjaga martabat manusia dan lingkungan. Tanpa itu semua, kita mungkin berhasil membangun zaman yang maju, tetapi gagal membangun peradaban yang mulia.
Berfikir untuk peradaban berarti berani bertanya: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk, masyarakat seperti apa yang ingin kita wariskan, dan nilai apa yang ingin kita jaga di tengah perubahan? Pertanyaan itu layak sebagai renungan pribadi dan kesadaran bersama. Masa depan peradaban hari ini ditentukan oleh kecerdasan kebijaksanaan manusia menjaga dunia itu tetap layak dihuni bersama.