Mahasiswa UMMAT Berprestasi: Pratiwi Wulandari Raih First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026

Mahasiswa UMMAT Berprestasi: Pratiwi Wulandari Raih First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026

Mahasiswa PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram, Pratiwi Wulandari, tampil anggun dalam ajang Putri Pendidikan NTB 2026. Pratiwi berhasil meraih prestasi membanggakan sebagai First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026, sekaligus membawa nama baik UMMAT di tingkat daerah.

MATARAM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat daerah. Kali ini, prestasi tersebut diraih oleh Pratiwi Wulandari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UMMAT semester 2, yang berhasil meraih gelar First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026.

Kegiatan Putri Pendidikan NTB 2026 berlangsung selama hampir satu bulan, sejak 15 April hingga 10 Mei 2026. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi proses pendaftaran, seleksi, karantina, pembekalan, hingga grand final. Dalam proses tersebut, para peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga dari wawasan, kepribadian, kemampuan komunikasi, kepedulian terhadap pendidikan, serta kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Pratiwi Wulandari menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan pengembangan dirinya. Menurutnya, ajang Putri Pendidikan NTB 2026 memberikan banyak pelajaran tentang keberanian, kedisiplinan, kepercayaan diri, serta pentingnya peran generasi muda dalam mendukung dunia pendidikan.

“Saya berharap prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkembang, berani mencoba hal baru, dan percaya pada potensi diri masing-masing. Saya juga berharap dapat membawa nama baik kampus serta memberikan dampak positif melalui pendidikan, prestasi, dan kontribusi nyata untuk masyarakat,” ungkap Pratiwi.

Prestasi ini mendapat apresiasi dari Kaprodi PGSD FKIP UMMAT, Sukron Fujiaturrahman, M.Pd. Ia menyampaikan rasa bangga dan syukur atas capaian yang diraih oleh mahasiswa PGSD FKIP UMMAT tersebut. Menurutnya, keberhasilan Pratiwi menjadi bukti bahwa mahasiswa PGSD tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas diri, kecerdasan, kepribadian, dan kepedulian sosial.

“Dengan penuh rasa bangga dan syukur, kami mengucapkan selamat kepada saudari Pratiwi Wulandari, mahasiswa PGSD FKIP UMMAT, atas prestasi luar biasa sebagai First Runner Up Putri Pendidikan NTB 2026. Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PGSD tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas diri, kecerdasan, kepribadian, dan kontribusi positif di tengah masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sukron menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi Program Studi PGSD, FKIP, dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Ia berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan diri, berani berkarya, serta aktif mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan positif.

“Sebagai Kaprodi PGSD, saya merasa sangat terharu dan bangga melihat semangat, kerja keras, dan dedikasi yang ditunjukkan. Keberhasilan ini membawa nama baik PGSD FKIP UMMAT sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berani berkarya, berprestasi, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.

Ia juga berpesan agar Pratiwi menjadikan pencapaian ini sebagai langkah awal untuk terus belajar, rendah hati, dan mengembangkan potensi diri. Menurutnya, seorang mahasiswa calon pendidik perlu memiliki karakter yang kuat, mampu menjadi teladan, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai pendidikan.

“Jadikan pencapaian ini sebagai langkah awal untuk terus belajar, rendah hati, dan mengembangkan potensi diri. Tetaplah menjadi pribadi yang menginspirasi, menjaga nilai-nilai pendidikan, serta mampu menjadi teladan bagi generasi muda. Semoga prestasi ini membuka jalan menuju kesuksesan yang lebih besar di masa depan,” tutupnya.

Melalui prestasi ini, Universitas Muhammadiyah Mataram terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif berprestasi, berkarakter, percaya diri, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (HUMAS UMMAT)

Berfikir untuk Peradaban

Berfikir untuk Peradaban

Ditulis oleh: Dr. Mukhlisin, S.Sy.,M.S.I
(Wakil Dekan 1 Fakultas Agama Islam UMMAT)

Teknologi digital mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Arus informasi memenuhi ruang publik setiap hari. Media sosial membentuk opini, mempercepat reaksi, sekaligus membuka ruang konflik baru. Masyarakat menikmati kemudahan, tetapi juga memikul kegelisahan baru tentang adab melemah, kebijaksanaan menipis, dan arah kemajuan kian kabur. Fakta ini menghadapkan kita pada satu pertanyaan mendasar, untuk apa manusia membangun kemajuan, jika kemajuan itu tidak memperkuat martabat, tanggung jawab moral, dan kehidupan bersama?

Pertanyaan itu penting karena peradaban tidak timbul dari gedung tinggi, perangkat teknologi, pusat industri, atau angka pertumbuhan ekonomi. Peradaban tumbuh dari cara manusia berpikir, menilai, bersikap, dan memperlakukan sesamanya. Sebuah masyarakat boleh saja tampak maju secara fisik, tetapi tetap rapuh apabila kehilangan kejujuran, empati, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam salah satu artikel ilmiah tentang falsafah, konsep, dan teori peradaban, peradaban dipahami sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang lahir melalui proses belajar. Gagasan ini memberi pesan penting dimana walaupun peradaban memiliki karakter capaian material, ada juga ukuran kedalaman batin dan kematangan akal budi. Kemajuan yang hanya mengejar bentuk luar mudah berubah menjadi kesombongan zaman. Kerap tampak megah, tetapi miskin arah.

Karena itu, berfikir untuk peradaban perlu dibaca sebagai panggilan etis. Manusia tidak cukup hanya pandai menciptakan alat, sistem, kebijakan, dan teknologi. Manusia juga harus mampu memahami akibat dari setiap ciptaannya. Ilmu pengetahuan, kebudayaan, agama, ekonomi, politik, dan teknologi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Semua perlu bertemu dalam satu tujuan besar dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beradab, dan manusiawi.

Filsafat memperoleh tempat penting dalam percakapan ini. Filsafat tidak seharusnya tinggal di ruang kuliah, buku tebal, atau forum akademik yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ia perlu hadir sebagai cara manusia menguji arah hidup, menimbang kebenaran, memeriksa kebaikan, dan mempertanyakan tujuan tindakan. Tradisi berpikir filsafati mengajak manusia bertanya, “Apakah yang kita buat itu baik?”, “Siapa yang diuntungkan?”, dan “Nilai apa yang sedang kita wariskan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa mendesak hari ini. Banyak keputusan publik lahir dengan cepat, tetapi tidak selalu disertai perenungan yang matang. Banyak inovasi dikejar atas nama efisiensi, tetapi kurang menimbang dampaknya terhadap kelompok rentan. Banyak pembangunan dipuji karena tampak modern, tetapi belum tentu menghadirkan rasa keadilan. Pada titik ini, kemajuan membutuhkan rem moral agar tidak berubah menjadi mesin yang dingin dan menyingkirkan manusia.

Falsafah peradaban mengingatkan kita bahwa kemajuan harus dipandu oleh kesadaran nilai. Masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang menguasai ilmu, melainkan masyarakat yang menggunakan ilmu untuk kemaslahatan banyak orang. Kemajuan tanpa nilai dapat melahirkan kesenjangan, kekerasan, kerakusan, dan dehumanisasi. Sebaliknya, nilai tanpa nalar kritis dapat membuat masyarakat terjebak dalam romantisme dan ketertinggalan.

Indonesia memiliki alasan kuat untuk memikirkan hal ini secara serius. Kita hidup dalam masyarakat yang beragam, mulai dari agama, suku, budaya, bahasa, kelas sosial, hingga kepentingan ekonomi bertemu dalam ruang kebangsaan yang sama. Keragaman dapat menjadi kekuatan peradaban apabila dikelola dengan akal sehat, etika publik, dan kemauan untuk saling menghormati. Keragaman juga dapat berubah menjadi sumber luka apabila manusia berhenti berpikir jernih dan memilih prasangka, kebencian, serta kepentingan sempit.

Berfikir untuk peradaban melatih diri melihat perbedaan sebagai ruang belajar bersama. Peradaban yang sehat tidak memaksa semua orang menjadi seragam. Ada banyak tempat bagi banyak suara selama semuanya berdiri di atas penghormatan terhadap martabat manusia. Peradaban yang baik memberi ruang bagi yang kuat dan yang lemah, mayoritas dan minoritas, pusat dan daerah, tradisi lama dan gagasan baru.

Pemikiran saja tentu belum cukup. Gagasan harus turun menjadi konsep, lalu diuji dalam kenyataan. Filsafat membantu manusia menggali makna terdalam. Konsep membantu manusia menyusun gagasan umum tentang realitas. Teori membantu manusia membaca pola, hubungan, dan arah perkembangan masyarakat. Peradaban membutuhkan kejernihan berpikir, ketepatan merumuskan gagasan, dan keberanian menguji gagasan itu dalam praktik kehidupan.

Persoalan kita sering muncul pada jarak antara gagasan dan tindakan. Banyak nilai luhur berhenti sebagai pidato. Banyak konsep pembangunan berhenti sebagai dokumen. Banyak semboyan moral berhenti sebagai hiasan acara resmi. Peradaban tumbuh dari praktik sosial yang nyata kongkritnya pendidikan yang mencerdaskan, hukum yang adil, ekonomi yang tidak menyingkirkan, politik yang bermartabat, dan budaya publik yang menghargai kebenaran.

Ukuran peradaban juga perlu diperluas. Kita kerap memahami peradaban sebagai sesuatu yang besar, modern, dan maju secara fisik. Gedung tinggi, jalan lebar, pusat belanja, kawasan industri, dan teknologi digital sering dianggap sebagai tanda utama kemajuan. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Peradaban sejati juga tampak dari cara masyarakat memperlakukan orang miskin, menjaga lingkungan, menghormati perempuan, melindungi anak, merawat orang tua, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Pada titik ini, peradaban memiliki dua sisi yang tidak boleh dipisahkan, sisi material dan nonmaterial. Kemajuan industri, ilmu pengetahuan, perdagangan, dan teknologi harus berjalan bersama kemajuan moral, spiritual, sosial, dan kebudayaan. Ketimpangan di antara keduanya akan membuat masyarakat kehilangan keseimbangan. Kita bisa menjadi modern dalam alat, tetapi primitif dalam sikap. Canggih dalam teknologi, tetapi miskin empati. Cepat dalam produksi, tetapi lamban dalam keadilan.

Pendidikan memegang peran penting dalam membentuk manusia berperadaban. Pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja yang siap memasuki pasar. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berpikir kritis, beretika, dan peduli terhadap kepentingan bersama. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadi ruang pembentukan akal budi. Ilmu harus diajarkan bersama tanggung jawab. Kecerdasan harus disertai kepekaan sosial. Prestasi harus memberi manfaat bagi masyarakat.

Kesadaran sejarah juga perlu dirawat. Tidak ada peradaban yang tumbuh dari ruang kosong. Setiap masyarakat membawa warisan nilai, pengalaman, luka, pencapaian, dan harapan. Kita tidak perlu memuja masa lalu secara membuta, tetapi juga tidak boleh memutus diri dari akar budaya. Tradisi perlu dibaca ulang dengan nalar kritis agar nilai terbaiknya dapat menjawab tantangan zaman.

Sikap yang perlu ditegaskan hari ini sederhana, tetapi mendasar bertumpu pada kemajuan harus dituntun oleh adab. Ilmu harus berpihak pada kemanusiaan. Teknologi harus dikendalikan oleh etika. Pembangunan harus menjaga martabat manusia dan lingkungan. Tanpa itu semua, kita mungkin berhasil membangun zaman yang maju, tetapi gagal membangun peradaban yang mulia.

Berfikir untuk peradaban berarti berani bertanya: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk, masyarakat seperti apa yang ingin kita wariskan, dan nilai apa yang ingin kita jaga di tengah perubahan? Pertanyaan itu layak sebagai renungan pribadi dan kesadaran bersama. Masa depan peradaban hari ini ditentukan oleh kecerdasan kebijaksanaan manusia menjaga dunia itu tetap layak dihuni bersama.

UMMAT Jadi Tuan Rumah Pendampingan PP-PTS se-NTB, Dorong Penguatan Mutu Perguruan Tinggi Swasta

UMMAT Jadi Tuan Rumah Pendampingan PP-PTS se-NTB, Dorong Penguatan Mutu Perguruan Tinggi Swasta

Pimpinan UMMAT bersama Tim Kemendiktisaintek, narasumber, dan perwakilan Perguruan Tinggi Swasta se-NTB berfoto bersama usai kegiatan Pendampingan Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) yang digelar di Aula Pertemuan Lantai 3 Universitas Muhammadiyah Mataram, Jumat, 1 Mei 2026.

MATARAM — Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) dipercaya menjadi tuan rumah dalam kegiatan Pendampingan Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) se-Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Pertemuan Lantai 3 UMMAT pada Jumat, 1 Mei 2026, dalam suasana lancar, efektif, dan penuh semangat kolaboratif.

Kepercayaan ini menjadi bentuk pengakuan atas peran strategis UMMAT dalam mendukung peningkatan mutu, kapasitas kelembagaan, serta daya saing Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di wilayah NTB. Melalui kegiatan ini, UMMAT turut mengambil bagian dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi swasta agar semakin adaptif, inovatif, dan berorientasi pada mutu.

Wakil Rektor I UMMAT, Drs. H. Abdurrahman, M.M., menyambut hangat kehadiran tim dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta para pimpinan PTS se-NTB. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan pendampingan ini menjadi momentum penting bagi PTS di NTB untuk memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kualitas program kerja, serta menyusun proposal PP-PTS yang lebih terarah, sistematis, dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan masing-masing institusi.

“UMMAT berkomitmen untuk terus mendukung penguatan kapasitas kelembagaan, tidak hanya di lingkungan internal UMMAT, tetapi juga bagi perguruan tinggi swasta lainnya secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Kemendiktisaintek, Assoc. Prof. Suparto, Ph.D., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama yang solid dari seluruh pihak. Ia secara khusus mengapresiasi Rektor, jajaran pimpinan, dan sivitas akademika UMMAT yang telah berkontribusi aktif dalam menyukseskan pelaksanaan kegiatan tersebut.

Para pimpinan dan perwakilan PTS se-NTB mengikuti sesi pendampingan bersama Tim Kemendiktisaintek dan narasumber.

Kegiatan pendampingan PP-PTS ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Assoc. Prof. Suparto, Ph.D., Assoc. Prof. Dwi Santoso, Ph.D., Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil, dan Prof. Dr. Sugianto, M.H. Para narasumber memberikan penguatan materi terkait strategi penyusunan proposal, peningkatan tata kelola, serta pengembangan program kelembagaan yang relevan dengan kebutuhan perguruan tinggi swasta.

Selain sesi pendampingan, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan demo smart classroom oleh BenQ Team. Demonstrasi tersebut memperkenalkan pemanfaatan teknologi pembelajaran modern sebagai bagian dari transformasi pendidikan tinggi yang semakin menuntut inovasi, digitalisasi, dan peningkatan kualitas proses belajar mengajar.

Ketua Peleksana kegiatan, Dr. Lukman, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Tim Kemendiktisaintek, para pimpinan PTS se-NTB, serta jajaran pimpinan UMMAT atas dukungan penuh yang diberikan. Ia menilai kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kapasitas PTS, khususnya dalam penyusunan proposal PP-PTS yang berkualitas dan berorientasi pada peningkatan mutu kelembagaan.

“Kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan semua pihak. Semoga pendampingan ini memberikan manfaat nyata bagi PTS se-NTB dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan pengembangan institusi,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, UMMAT kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang aktif mengambil peran dalam penguatan ekosistem pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat. Semangat kolaborasi antarkampus diharapkan terus berlanjut demi terwujudnya PTS yang unggul, adaptif, bermutu, dan berdaya saing global. (HUMAS UMMAT)

UMMAT Luncurkan Program Inkubasi Bisnis 2026 Bersama Baznas NTB, Fokus Z Coffee & Bisnis Mahasiswa

UMMAT Luncurkan Program Inkubasi Bisnis 2026 Bersama Baznas NTB, Fokus Z Coffee & Bisnis Mahasiswa

Prosesi pemotongan pita sebagai tanda peluncuran Program Inkubasi Bisnis Z Coffee dan Kelompok Bisnis Mahasiswa UMMAT oleh Wakil Rektor III UMMAT bersama Baznas NTB di Lapangan FISIPOL UMMAT, Senin (27/4/2026).

MATARAM — Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) bersama Baznas NTB resmi meluncurkan Program Inkubasi Bisnis Z Coffee dan Kelompok Bisnis Mahasiswa UMMAT . Kegiatan ini berlangsung di Lapangan FISIPOL UMMAT, pada Senin, 27 April 2026.

Program ini menjadi langkah strategis UMMAT dalam memperkuat budaya kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Melalui Z Coffee dan kelompok bisnis mahasiswa, UMMAT berupaya menghadirkan ruang praktik bisnis yang nyata, produktif, dan berkelanjutan, sehingga mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengelola usaha.

Wakil Rektor III UMMAT menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar kampus dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa agar memiliki mental dan orientasi sebagai entrepreneur muda. Menurutnya, penanaman jiwa kewirausahaan bukan hal yang mudah, tetapi menjadi kebutuhan penting di tengah tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.

“Agenda ini bertujuan memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memiliki mental sebagai pebisnis. Penanaman jiwa entrepreneur memang tidak mudah, tetapi sangat penting untuk terus dilakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini para lulusan perguruan tinggi senantiasa dihadapkan pada tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Karena itu, perguruan tinggi perlu menghadirkan program yang mampu mendorong mahasiswa untuk menciptakan peluang, bukan hanya menunggu kesempatan kerja.

“Hari ini kita mengalami problem serius. Para alumni dan lulusan selalu dihadapkan dengan tantangan dunia kerja. Ide inilah yang menjadi stimulus agar mahasiswa mulai membangun keberanian, kreativitas, dan kemandirian dalam berwirausaha,” tambahnya.

Ketua Baznas NTB, Dr. Lalu Muhammad Ikbal, bersama jajaran pimpinan UMMAT meninjau gerai Z Coffee usai peluncuran Program Inkubasi Bisnis Z Coffee dan Kelompok Bisnis Mahasiswa UMMAT di Lapangan FISIPOL UMMAT, Senin (27/4/2026).

Wakil Rektor III UMMAT juga menegaskan bahwa pengembangan bisnis mahasiswa di lingkungan UMMAT telah menunjukkan perkembangan yang membanggakan. Beberapa kelompok bisnis mahasiswa bahkan telah berhasil memperoleh penghargaan dari kementerian, sehingga menjadi bukti bahwa kreativitas dan inovasi mahasiswa UMMAT mampu bersaing di tingkat yang lebih luas.

“Di antara bisnis mahasiswa ini, ada juga yang telah mendapat penghargaan dari kementerian. Ini menunjukkan bahwa potensi mahasiswa UMMAT sangat besar dan perlu terus difasilitasi melalui program inkubasi bisnis yang terarah dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Menurutnya, hadirnya Z Coffee merupakan program yang strategis dan potensial. Ia berharap Baznas NTB dapat terus menjadi mitra UMMAT dalam mendukung pengembangan kewirausahaan mahasiswa, khususnya melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis kampus.

“Z Coffee ini cukup bombastis dan menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Kami berharap Baznas NTB dapat menjadi mitra dalam mendukung entrepreneur di lingkungan UMMAT. Ke depan, program ini juga diharapkan dapat terintegrasi dengan program pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor UMMAT yang diwakili Wakil Rektor I UMMAT, Drs. H. Abdurrahman, M.M., menyampaikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya memiliki tugas untuk meluluskan mahasiswa secara akademik, tetapi juga menyiapkan mereka agar memiliki wawasan kewirausahaan dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

“Sesungguhnya tugas kita bukan hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga memberikan wawasan terkait kewirausahaan dan dunia kerja. Mudah-mudahan kegiatan ini mampu mendorong mahasiswa UMMAT memiliki jiwa entrepreneur,” ungkapnya.

Ketua Baznas NTB, Dr. Lalu Muhammad Ikbal Murad, MA., dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran Z Coffee atau Zakat Coffee merupakan bagian dari upaya Baznas NTB untuk mendorong literasi dan syiar pengelolaan dana infak, zakat, dan sedekah secara lebih sistematis dan produktif.

Menurutnya, salah satu program penting Baznas NTB adalah pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi mahasiswa di lingkungan kampus. Z Coffee menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana dana sosial keagamaan dapat dikelola untuk mendorong kemandirian ekonomi generasi muda.

“Melalui peluncuran Z Coffee ini, kami ingin mendorong sekaligus mensyiarkan pengelolaan dana infak dan zakat secara sistematis. Salah satu program Baznas NTB adalah pemberdayaan, dan Z Coffee ini menjadi bagian dari pemberdayaan mustahik di lingkungan kampus,” jelasnya.

Ia berharap mahasiswa penerima manfaat program ini dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan dengan baik. Dengan demikian, ke depan mereka tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat, tetapi dapat tumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri dan bahkan mampu menjadi pemberi manfaat bagi orang lain.

“Mahasiswa yang menerima program ini diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan. Ke depan, mereka tidak lagi menjadi penerima, tetapi menjadi pemberi. Kita juga berharap melalui Z Coffee, literasi zakat semakin dekat dan masuk kepada generasi Z,” tuturnya.

Peluncuran Program Inkubasi Bisnis Z Coffee dan Kelompok Bisnis Mahasiswa UMMAT ini diharapkan menjadi momentum penting dalam membangun ekosistem kewirausahaan mahasiswa yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pengelola zakat dalam mencetak generasi muda yang mandiri, kreatif, serta berdaya saing. (HUMAS UMMAT)

UMMAT Gelar Baitul Arqam Dosen 2026: Perkuat Karakter AIK dan Profesionalisme Dosen Muhammadiyah

UMMAT Gelar Baitul Arqam Dosen 2026: Perkuat Karakter AIK dan Profesionalisme Dosen Muhammadiyah

Dokumentasi Acara Pembukaan Baitul Arqam Dosen 2026 di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT pada 23 April 2026

MATARAM Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menyelenggarakan Baitul Arqam Dosen UMMAT Tahun 2026 di The Jayakarta Resort & Spa Lombok, pada 23–25 April 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Internalisasi Karakter AIK: Transformasi Profesionalisme Dosen menuju Ekosistem Kampus Islami dan Unggul.”

Kegiatan Baitul Arqam Dosen UMMAT 2026 menjadi bagian dari komitmen universitas dalam memperkuat pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di lingkungan perguruan tinggi. Melalui kegiatan ini, UMMAT mendorong para dosen untuk semakin menguatkan integritas, profesionalisme, spiritualitas, serta komitmen dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi berbasis nilai Islam berkemajuan.

Baitul Arqam Dosen merupakan agenda pembinaan ideologi dan penguatan karakter bagi dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan sebagai forum penguatan wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, tetapi juga sebagai ruang transformasi untuk membentuk dosen yang unggul secara akademik, berakhlak mulia, memiliki kesadaran persyarikatan, serta mampu menjadi teladan dalam kehidupan kampus.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani atau MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irfan Islami, MM; Ketua Badan Pembina Harian UMMAT, Drs. H. Gulam Abbas, M.Si. ; para Wakil Rektor, Sekretaris Rektor, Direktur, Kepala Lembaga, Kepala Biro, Dekan di lingkungan UMMAT, Magister Diklat, instruktur, panitia, serta seluruh peserta Baitul Arqam Dosen UMMAT 2026.

Dalam prosesi pembukaan, peserta Baitul Arqam Dosen UMMAT 2026 secara resmi diserahkan oleh Rektor UMMAT kepada Master of Training, Dr. Iman Sumarlan, S.H.I., M.H. Penyerahan tersebut menjadi penanda dimulainya proses pembinaan, penguatan ideologi, dan pendalaman nilai-nilai AIK bagi para dosen UMMAT.

Rektor UMMAT yang diwakili oleh Wakil Rektor IV UMMAT, Dr. TGH. Zaenudin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa Baitul Arqam Dosen merupakan agenda penting dalam memperkokoh identitas UMMAT sebagai kampus Muhammadiyah. Menurutnya, dosen tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga harus mampu menghadirkan nilai keislaman, akhlak, dan semangat kemuhammadiyahan dalam proses pendidikan, penelitian, pengabdian, serta pelayanan kepada mahasiswa.

“Dosen Muhammadiyah harus mampu menjadi teladan, baik dalam keilmuan, sikap, maupun pengabdian. Nilai-nilai AIK harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas akademik dan kehidupan kampus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala LP3IK UMMAT, Dr. M. Anugrah Arifin, M.Pd.I., menegaskan bahwa Baitul Arqam bukan sekadar kegiatan seremonial atau formalitas kelembagaan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang pembinaan karakter, penguatan komitmen ideologis, serta penyegaran nilai-nilai persyarikatan bagi dosen.

Peserta Baitul Arqam Dosen UMMAT 2026 mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias di The Jayakarta Resort & Spa Lombok. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan karakter Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), profesionalisme, serta komitmen dosen dalam membangun ekosistem kampus Islami dan unggul.

Menurutnya, dosen memiliki posisi strategis dalam membentuk kultur akademik dan karakter mahasiswa. Karena itu, penguatan AIK perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai Islam, akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat pengabdian menjadi bagian dari budaya kerja dosen di lingkungan UMMAT.

Ketua Badan Pembina Harian UMMAT, Drs. H. Gulam Abbas, M.Si., dalam amanatnya juga menekankan pentingnya menjaga ruh dakwah dan tajdid Muhammadiyah di lingkungan perguruan tinggi. Ia menyampaikan bahwa kampus Muhammadiyah harus hadir sebagai pusat pencerahan, pusat pengembangan ilmu, serta pusat pembinaan generasi unggul yang memiliki karakter kuat dan kepedulian sosial.

Menurutnya, dosen UMMAT memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga marwah institusi sekaligus mengembangkan pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak, kepemimpinan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Ketua MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irfan Islami, M.M., turut memberikan penguatan kepada peserta. Ia menyampaikan bahwa dosen Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai pendidik, pembimbing, intelektual, sekaligus kader persyarikatan. Oleh karena itu, Baitul Arqam menjadi sarana penting untuk memperkokoh ideologi, memperkuat integritas, dan meneguhkan komitmen dosen terhadap nilai-nilai Islam berkemajuan.

Ia juga menekankan bahwa profesionalisme dosen di Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus berjalan seiring dengan kekuatan spiritual, akhlak, dan kesadaran ideologis. Dengan demikian, dosen tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan yang mampu menanamkan nilai, membangun karakter, dan menggerakkan perubahan positif di lingkungan kampus.

Setelah berlangsung selama tiga hari, Baitul Arqam Dosen UMMAT 2026 resmi ditutup pada Sabtu, 25 April 2026. Prosesi penutupan ditandai dengan penyerahan kembali peserta dari Master of Training kepada pihak universitas sebagai simbol selesainya rangkaian pembinaan dan penguatan nilai AIK.

Pada agenda penutupan, UMMAT memberikan apresiasi kepada peserta terbaik sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi, kedisiplinan, partisipasi aktif, dan komitmen selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh peserta untuk terus mengamalkan nilai-nilai AIK dalam kehidupan akademik, sosial, dan kelembagaan di lingkungan kampus.

Wakil Rektor IV UMMAT, Dr. TGH. Zaenudin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa internalisasi AIK tidak boleh berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi harus menjadi gerakan nyata dalam membangun budaya kampus. Ia berharap para dosen mampu mengimplementasikan nilai-nilai Baitul Arqam dalam bentuk integritas, kedisiplinan, pelayanan, keteladanan, dan tanggung jawab profesional. (HUMAS UMMAT)