Ditulis Oleh : Dr. Mukhlisin, M.S.I (Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam (FAI) UMMAT
MATARAM — Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperkuat spiritualitas, memperbanyak amal saleh, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Bulan yang di dalamnya terdapat ibadah haji, puasa Arafah, dan ibadah kurban ini memiliki kedudukan mulia karena mengajarkan nilai ketundukan kepada Allah SWT, pengendalian diri, pengorbanan, dan solidaritas antarsesama.
Gema takbir yang berkumandang pada bulan Dzulhijjah tidak hanya menjadi penanda datangnya hari raya, tetapi juga menjadi panggilan batin bagi umat Islam untuk kembali merenungi hubungan dirinya dengan Allah SWT dan sesama manusia. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, bulan ini hadir sebagai ruang spiritual untuk menenangkan jiwa dari hiruk-pikuk dunia, sekaligus mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian materi, melainkan perjalanan menuju keridaan Ilahi.
Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari disebutkan, “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa Dzulhijjah merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.
Salah satu amalan utama pada bulan Dzulhijjah adalah puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri.
Puasa Arafah bukan hanya ibadah yang bersifat personal, tetapi juga memiliki makna moral dan sosial yang mendalam. Melalui lapar dan dahaga, manusia dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kesabaran, serta memahami penderitaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Puasa yang dijalani dengan penuh kesadaran seharusnya melahirkan pribadi yang lebih jujur, rendah hati, dan peduli terhadap sesama.
Pada hari Arafah, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian ihram yang sederhana. Mereka berdiri memohon ampunan Allah SWT tanpa membawa simbol jabatan, kekayaan, maupun status sosial. Pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah dalam keadaan yang sama, dan tidak ada yang dapat dibanggakan selain amal saleh serta ketulusan hati.
Bagi umat Islam yang tidak berada di Tanah Suci, puasa Arafah menjadi sarana untuk ikut merasakan getaran spiritual tersebut. Saat jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, umat Islam di berbagai penjuru dunia menghidupkan hari itu dengan puasa, doa, zikir, sedekah, dan amal kebaikan lainnya. Momentum ini memperlihatkan adanya keterhubungan batin yang kuat di antara kaum muslimin dalam mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT.
Selain puasa Arafah, Dzulhijjah juga identik dengan ibadah kurban yang mengandung pesan pengorbanan dan kepedulian sosial. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa kecintaan kepada Allah harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pengorbanan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga dapat berupa pengorbanan ego, waktu, kenyamanan, dan kepentingan diri demi menjaga nilai kebaikan.
Ibadah kurban juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak semestinya dinikmati sendiri. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi simbol bahwa Islam menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian penting dari keberagamaan. Agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mendorong manusia untuk membangun hubungan yang baik, adil, dan penuh kasih dengan sesama.
Di tengah meningkatnya budaya individualisme, nilai-nilai Dzulhijjah menjadi sangat relevan untuk dihidupkan kembali. Manusia perlu belajar berbagi, membantu, dan merasakan kehidupan orang lain. Keberkahan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati, keikhlasan memberi, dan kemampuan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Momentum Dzulhijjah juga penting bagi generasi muda. Masa muda merupakan waktu terbaik untuk membangun kebiasaan ibadah, disiplin diri, serta kepedulian sosial. Puasa Arafah dan semangat kurban dapat menjadi pintu awal pembentukan karakter yang lebih matang secara spiritual dan moral. Generasi muda yang dekat dengan nilai agama akan lebih kuat menghadapi tekanan zaman serta lebih siap menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, Dzulhijjah bukan hanya peristiwa tahunan dalam kalender Islam, tetapi juga sekolah kehidupan yang mengajarkan ketulusan, pengorbanan, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Bulan ini mengajak umat Islam untuk membersihkan hati dari kesombongan, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta menghidupkan kasih sayang kepada sesama.
Apabila puasa, doa, zikir, sedekah, dan kurban mampu mengubah cara pandang seseorang menjadi lebih lembut, lebih dermawan, dan lebih bersyukur, maka itulah tanda bahwa ibadah telah benar-benar menyentuh jiwa. Dzulhijjah adalah momentum untuk kembali, memperbaiki diri, dan meneguhkan komitmen menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. (HUMAS UMMAT)
Dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Safaruddin dan D. Sulaiman, berhasil lolos ke Tingkat Nasional Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Tahun 2026. Capaian ini menjadi bukti semangat akademik dan prestasi mahasiswa UMMAT di tingkat nasional.
MATARAM — Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dua mahasiswa UMMAT dinyatakan lolos ke tingkat nasional pada ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada 8–12 Juni 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya.
Dua mahasiswa yang berhasil lolos tersebut adalah Safaruddin dari Program Studi Matematika pada bidang Matematika, dan D. Sulaiman dari Program Studi S1 Tambang pada bidang Kimia. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMMAT memiliki kemampuan akademik yang unggul dan mampu bersaing dalam kompetisi bergengsi di tingkat nasional.
Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih oleh mahasiswa UMMAT tersebut.
“Alhamdulillah, atas nama pimpinan Universitas Muhammadiyah Mataram, saya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa UMMAT yang terus menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kelolosan mahasiswa pada ajang ONMIPA Tahun 2026 ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMMAT mampu bersaing, unggul, dan terus menghadirkan capaian terbaik,” ungkapnya.
Menurutnya, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi mahasiswa dan program studi, tetapi juga menjadi energi positif bagi seluruh sivitas akademika UMMAT dalam membangun budaya akademik yang kreatif, inovatif, dan kompetitif.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus memperkuat budaya akademik di lingkungan kampus. Saya percaya mahasiswa UMMAT memiliki potensi besar untuk menjadi generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, serta kemajuan peradaban,” lanjut Dr. Erwin.
Ia juga berharap capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya agar terus berani bermimpi, aktif berkarya, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengembangkan diri melalui kompetisi, penelitian, publikasi ilmiah, dan berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik di tingkat nasional maupun internasional.
UMMAT, lanjutnya, akan terus berkomitmen memberikan dukungan, pembinaan, dan ruang pengembangan potensi mahasiswa agar semakin banyak prestasi yang lahir dan mampu mengharumkan nama kampus, daerah, serta Indonesia.
“Selamat dan sukses kepada mahasiswa berprestasi. Teruslah berkarya, menginspirasi, dan menjadi bagian dari generasi UMMAT Berdampak,” tutupnya.
Kelolosan dua mahasiswa UMMAT pada ONMIPA Nasional 2026 ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kompetisi akademik, meningkatkan kualitas pembinaan mahasiswa, serta mendorong lahirnya generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi masa depan bangsa. (HUMAS UMMAT)
Pimpinan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram bersama perwakilan Badan Standardisasi Nasional (BSN), narasumber, dan peserta berfoto bersama usai kegiatan Kuliah Pakar SNI Goes To Campus di Aula Rektorat Lantai 3 UMMAT, Kamis (21/5/2026).
MATARAM — Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram (FAPERTA UMMAT) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kompetensi mahasiswa, dan daya saing lulusan melalui kegiatan Kuliah Pakar SNI Goes To Campus bekerja sama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Kegiatan yang mengusung tema “Penerapan Standardisasi Nasional pada Bidang Pertanian Guna Mendukung Mutu Lulusan Perguruan Tinggi” ini dilaksanakan pada Kamis, 21 Mei 2026, bertempat di Aula Rektorat Lantai 3 UMMAT.
Kegiatan ini menjadi momentum penting karena disebut sebagai pelaksanaan SNI Goes To Campus pertama pada tingkat universitas di NTB dalam bidang pertanian. Program tersebut bertujuan memperkenalkan budaya mutu, penerapan standar, dan pentingnya Standar Nasional Indonesia (SNI) kepada kalangan akademisi, khususnya mahasiswa sebagai calon lulusan yang akan berperan di dunia industri, usaha, riset, dan pengembangan teknologi pertanian.
Acara dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa lingkup Fakultas Pertanian, serta peserta dari berbagai kalangan. Sejak awal kegiatan, peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara, terutama pada sesi diskusi terkait penerapan SNI di sektor pertanian, industri pangan, dan pengembangan produk lokal.
Dalam sambutannya, Nur Hidayati, Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, menyampaikan bahwa penerapan standar merupakan aspek penting dalam pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing. Menurutnya, standardisasi tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga mencakup keamanan pangan, efisiensi proses produksi, perlindungan konsumen, serta peningkatan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional.
Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan pemahaman tentang standardisasi kepada mahasiswa sejak dini. Dengan bekal tersebut, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran mutu dalam setiap proses produksi, inovasi, dan pengembangan usaha di bidang pertanian.
Sementara itu, Dekan FAPERTA UMMAT, Syirril Ihromi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BSN atas kolaborasi melalui program SNI Goes To Campus. Ia menilai kegiatan ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan dunia kerja dan industri yang semakin menekankan aspek kualitas, keamanan, dan standardisasi produk.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami pentingnya penerapan standar nasional dalam mendukung peningkatan kualitas produk pertanian serta menjadi lulusan yang siap bersaing di dunia kerja maupun dunia industri,” ujarnya.
Pada sesi utama, peserta mendapatkan materi dari Bagus Muhammad Irvan, Fasilitator Penerapan SNI BSN, dengan tema “From Farm to Table: Peran SNI dalam Menjamin Mutu Produk Hasil Pertanian.” Dalam pemaparannya, ia menjelaskan pentingnya penerapan SNI pada seluruh rantai produksi pertanian, mulai dari proses budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan, distribusi, hingga produk sampai kepada konsumen.
Ia menekankan bahwa penerapan standar dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk pertanian lokal, menjaga konsistensi kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membuka peluang akses pasar yang lebih luas. Materi tersebut mendapat perhatian besar dari peserta, terutama saat membahas tantangan penerapan standar di sektor pertanian dan peluang kerja di bidang standardisasi serta penjaminan mutu.
Selain materi akademik dan teknis, kegiatan ini juga menghadirkan praktisi usaha yang telah berhasil menerapkan standar mutu. Fina Novianti, Owner CV. Ading Walet Al-Buntaran, membawakan materi bertajuk “Success Story CV Ading Walet Al-Buntaran Menerapkan SNI 8998:2021 Sarang Burung Walet Bersih (Edible Bird Nest).”
Dalam paparannya, ia membagikan pengalaman proses pengembangan usaha sarang burung walet hingga berhasil menerapkan SNI 8998:2021. Ia menjelaskan bahwa penerapan standar mutu berdampak positif terhadap peningkatan kualitas produk, kepercayaan konsumen, serta perluasan peluang pemasaran. Kisah sukses tersebut menjadi inspirasi bagi mahasiswa bahwa penerapan SNI tidak hanya relevan bagi industri besar, tetapi juga penting bagi usaha kecil dan menengah agar mampu meningkatkan daya saing produk.
Melalui kegiatan Kuliah Pakar SNI Goes To Campus ini, FAPERTA UMMAT berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri dapat terus diperkuat. Kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya budaya mutu dan standardisasi sebagai bagian dari pembangunan sektor pertanian yang maju, modern, kompetitif, dan berkelanjutan. (HUMAS UMMAT)
Mahasiswa D3 Farmasi UMMAT dan Warga berfoto bersama usai pembagian sembako di TPA Kebun Kongo
LOMBOK BARAT — Mahasiswa Program Studi D3 Farmasi Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar kegiatan bakti sosial di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebun Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (21/05/2026). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa membagikan paket sembako kepada 25 warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dengan bekerja di area TPA.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang tidak hanya menekankan pembelajaran teoritis di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan pengalaman langsung di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami realitas sosial, menumbuhkan kepedulian, serta menguatkan nilai-nilai kemanusiaan dan Pancasila dalam kehidupan nyata.
Dosen pengampu mata kuliah, Dr. Furkan Sangiang, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai moral, kemanusiaan, serta penguatan nilai-nilai Pancasila kepada mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman.
“Di dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan terdapat banyak nilai seperti moral, Pancasila, dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya disuguhkan teori di dalam kelas, tetapi mereka bisa melihat langsung realitas kehidupan dan fenomena sosial di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan warga yang mencari nafkah di tengah tumpukan sampah memberikan pelajaran penting tentang perjuangan hidup, rasa syukur, dan cara memandang kehidupan dari sudut yang lebih luas.
“Mereka bisa melihat bagaimana sebagian masyarakat mencari rezeki di tengah tumpukan sampah. Sampah yang bagi sebagian orang dianggap jijik dan bau, ternyata menjadi sumber penghidupan bagi orang lain. Itu yang ingin saya tunjukkan kepada mahasiswa, agar mereka melihat sisi lain dari kehidupan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman langsung seperti ini penting untuk membangun kepekaan sosial mahasiswa sejak dini. Mahasiswa, lanjutnya, tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki kepedulian, empati, dan tanggung jawab sosial.
“Ini adalah pembelajaran langsung agar mahasiswa memiliki sensitivitas sosial. Ke depan ketika mereka menjadi pemimpin, mereka sudah memiliki bekal sosial dan rasa empati terhadap masyarakat,” tambahnya.
Selain membagikan sembako, para mahasiswa juga berdialog langsung dengan warga sekitar TPA. Mereka mengamati aktivitas warga dalam memilah sampah bernilai ekonomis untuk dijual kembali demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa kerja keras, ketabahan, dan harapan dapat tumbuh bahkan di tengah kondisi kehidupan yang tidak mudah.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak selama kegiatan berlangsung. Warga TPA Kebun Kongok menyambut baik kehadiran mahasiswa D3 Farmasi UMMAT yang datang membawa semangat kepedulian sosial.
Khairil, salah satu perwakilan warga TPA Kebun Kongok, mengaku bersyukur dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan mahasiswa.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa D3 Farmasi UMMAT yang sudah mau berbagi dengan kami. Semoga kegiatan ini menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi semuanya,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Widhita Afni Anggraeni, mengatakan bahwa kegiatan bakti sosial tersebut merupakan hasil kolaborasi dan urunan dari seluruh mahasiswa di kelas. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi berbagi, tetapi juga pengalaman yang membuka mata mahasiswa tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama.
“Kegiatan ini terlaksana berkat kebersamaan teman-teman kelas. Kami bersama-sama mengumpulkan bantuan untuk warga di TPA. Kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberi banyak pelajaran bagi kami,” katanya.
Melalui kegiatan bakti sosial ini, mahasiswa D3 Farmasi UMMAT tidak hanya belajar tentang Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata kuliah, tetapi juga sebagai praktik nyata dalam kehidupan sosial. Di tengah tumpukan sampah, mahasiswa menemukan pelajaran berharga tentang kemanusiaan, rasa syukur, perjuangan hidup, dan pentingnya hadir untuk masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga insan yang peka, peduli, dan memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya. (HUMAS UMMAT)
UMMAT menyalurkan 70 paket sembako kepada warga Muhammadiyah di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sembalun sebagai bagian dari rangkaian Milad UMMAT ke-46, yang diperingati pada 25 Juni 1980–25 Juni 2026, dan Kemah Dakwah ORTOM UMMAT ke-5.
SEMBALUN — Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menyalurkan 70 paket sembako kepada warga Muhammadiyah di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sembalun. Kegiatan sosial ini menjadi bagian dari rangkaian Milad UMMAT ke-46, yang diperingati pada 25 Juni 1980–25 Juni 2026, sekaligus dirangkaikan dengan pelaksanaan Kemah Dakwah ORTOM UMMAT ke-5 pada 15–16 Mei 2026 di Sembalun.
Pembagian sembako tersebut menjadi wujud nyata kepedulian UMMAT dalam memperluas kebermanfaatan kampus bagi masyarakat. Momentum milad tidak hanya dimaknai sebagai perayaan usia institusi, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat pengabdian, kepedulian sosial, dan dakwah berkemajuan yang menyentuh langsung kehidupan umat.
Kepala LP3IK UMMAT, Dr. Muhammad Anugrah Arifin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari semangat Teologi Al-Ma’un yang menjadi salah satu ruh gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya berhenti pada penguatan pemahaman keagamaan, tetapi harus hadir dalam bentuk aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Setinggi apa pun penguatan ideologi yang kita lakukan, tidak cukup jika tidak melahirkan dampak sosial. Karena itu, melalui Kemah Dakwah ini para kader ORTOM tidak hanya mendapatkan penguatan paham keislaman dan kemuhammadiyahan, tetapi juga diajak untuk turun langsung membantu masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kuatnya hubungan manusia dengan Allah SWT harus tercermin dalam kepedulian terhadap sesama. Dalam pandangan Muhammadiyah, ibadah dan keimanan harus melahirkan keberpihakan kepada masyarakat, terutama melalui gerakan sosial yang mencerahkan dan menggembirakan.
“Dakwah bukan hanya ceramah, tetapi juga kepedulian. Ketika kita hadir membawa manfaat, membantu sesama, dan memperkuat silaturahmi, di situlah nilai dakwah benar-benar hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.
Ketua Panitia Penyelenggara, Muhamad Sahril, M.Pd., menjelaskan bahwa pembagian sembako tersebut melibatkan peserta Kemah Dakwah ORTOM UMMAT ke-5. Kegiatan ini menjadi pengalaman langsung bagi kader muda Muhammadiyah untuk memahami bahwa dakwah harus diwujudkan melalui tindakan sosial yang sederhana, tetapi bermakna.
“Kami ingin peserta Kemah Dakwah tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga belajar langsung bagaimana dakwah diwujudkan dalam aksi sosial. Pembagian sembako ini mungkin sederhana, tetapi kami berharap dapat memberikan manfaat dan mempererat hubungan UMMAT dengan warga Muhammadiyah di Sembalun,” ungkapnya.
Sahril menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UMMAT dalam membangun kedekatan dengan persyarikatan di berbagai wilayah. Kehadiran UMMAT di Sembalun diharapkan tidak hanya meninggalkan kesan kegiatan seremonial, tetapi juga menghadirkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan keberlanjutan gerakan dakwah.
Sementara itu, Rektor UMMAT yang diwakili Wakil Rektor IV, Dr. TGH. Zaenuddin, M.Pd.I., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan sosial tersebut. Ia berharap rangkaian Milad UMMAT ke-46 dapat menjadi momentum untuk memperkuat peran kampus sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, UMMAT sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus hadir di tengah masyarakat. Kehadiran kampus tidak hanya diukur dari aktivitas akademik, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan sosial umat.
Melalui pembagian 70 paket sembako ini, UMMAT menegaskan bahwa semangat Milad ke-46 harus diwujudkan dalam gerakan berbagi. Peringatan 46 tahun perjalanan UMMAT sejak 25 Juni 1980 hingga 25 Juni 2026 menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya tumbuh sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan persyarikatan yang terus berupaya menghadirkan manfaat bagi umat dan masyarakat.
UMMAT berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, baik melalui program kampus, LP3IK, ORTOM, maupun kerja sama dengan persyarikatan. Dengan demikian, dakwah berkemajuan tidak hanya menjadi tema kegiatan, tetapi benar-benar hadir sebagai gerakan nyata yang dirasakan oleh masyarakat. (HUMAS UMMAT)