Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram, perguruan tinggi swasta terbaik di NTB berdasarkan SINTA Score 3 Tahun 2026.
MATARAM — Dunia pendidikan tinggi swasta di Nusa Tenggara Barat kembali mencatatkan capaian membanggakan. Berdasarkan data Science and Technology Index (SINTA) Kemdiktisaintek untuk kategori Score 3Yr, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menempati peringkat pertama sebagai kampus swasta dengan capaian riset terbaik di NTB dengan skor 72.263.
Capaian tersebut menempatkan UMMAT di atas sejumlah perguruan tinggi swasta lainnya di NTB, seperti Universitas Bumigora dengan skor 52.967, Universitas Hamzanwadi 51.818, Universitas Pendidikan Mandalika 43.599, serta Universitas Teknologi Sumbawa 33.062. Posisi ini semakin menegaskan konsistensi UMMAT dalam menjaga produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah dalam tiga tahun terakhir.
Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram, Dr. Abdul Wahab, MA, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kerja keras seluruh sivitas akademika. Menurutnya, capaian ini bukan sekadar angka statistik, tetapi menjadi representasi nyata dari budaya akademik, riset, publikasi, dan inovasi yang terus dibangun secara berkelanjutan di lingkungan UMMAT.
“Alhamdulillah, pencapaian ini adalah hasil kerja kolektif seluruh dosen, peneliti, mahasiswa, pengelola jurnal, program studi, fakultas, serta seluruh unsur pimpinan universitas. Skor SINTA 3 tahun terakhir menunjukkan bahwa produktivitas riset di UMMAT terus bergerak maju dan semakin kompetitif,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa indikator SINTA Score 3Yr menjadi salah satu parameter penting dalam melihat performa publikasi, sitasi, produktivitas penulis, kinerja jurnal, dan kontribusi ilmiah institusi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dalam profil SINTA, UMMAT juga tercatat memiliki Skor SINTA Keseluruhan 140.706, 37 departemen, dan 329 penulis.
Menurutnya, keberhasilan ini merupakan buah dari strategi penguatan riset yang terus dijalankan secara sistematis, mulai dari pendampingan publikasi ilmiah, peningkatan kualitas jurnal, penguatan kolaborasi riset, hingga dorongan kepada dosen dan mahasiswa untuk aktif menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan hasil riset tersebut dipublikasikan, disitasi, dan memberi manfaat nyata. Budaya ilmiah harus tumbuh kuat di kampus, karena riset adalah bagian penting dari Catur Dharma Perguruan Tinggi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa orientasi riset di UMMAT tidak hanya mengejar pemeringkatan, tetapi juga diarahkan untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat, khususnya di NTB. Penelitian dosen dan mahasiswa UMMAT diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan pendidikan, kesehatan, pertanian, teknologi, sosial, ekonomi, hukum, dan pembangunan daerah.
“Riset harus berdampak. Kami ingin hasil penelitian sivitas akademika UMMAT hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat. Inilah semangat perguruan tinggi Muhammadiyah, yaitu menghadirkan ilmu pengetahuan yang mencerahkan, bermanfaat, dan berkemajuan,” tegasnya.
Dengan capaian ini, UMMAT semakin mengukuhkan diri sebagai kampus swasta unggulan di NTB yang tidak hanya fokus pada proses pembelajaran, tetapi juga kuat dalam pengembangan ilmu pengetahuan, publikasi ilmiah, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor optimistis, posisi puncak ini akan menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan kualitas akademik, memperluas jejaring kolaborasi, dan memperkuat reputasi UMMAT di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
“Kami tidak ingin cepat puas. Capaian ini justru menjadi tantangan bagi UMMAT untuk terus meningkatkan kualitas riset, memperkuat jurnal, memperluas kolaborasi, dan membangun reputasi akademik yang semakin unggul dan berdaya saing,” tutupnya.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa Universitas Muhammadiyah Mataram mampu bersaing dan tampil terdepan dalam peta riset perguruan tinggi swasta di Nusa Tenggara Barat, serta menjadi pilihan strategis bagi calon mahasiswa yang menginginkan lingkungan akademik yang produktif, islami, inovatif, dan berdaya saing. (HUMAS UMMAT)
Tiga mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram yang berhasil menorehkan prestasi nasional, yakni Safaruddin, Alfian Rahman Hadi, dan Hanik. Capaian ini menjadi bukti komitmen FKIP UMMAT dalam mendorong budaya akademik, riset, dan daya saing mahasiswa di tingkat nasional.
MATARAM — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui capaian mahasiswa di tingkat nasional. Prestasi tersebut diraih oleh mahasiswa FKIP UMMAT dalam bidang olimpiade matematika serta penulisan artikel jurnal ilmiah kepemudaan.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMMAT, Safaruddin, berhasil lolos ke tingkat nasional dalam ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Tahun 2026. Selain itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMMAT, Alfian Rahman Hadi, serta mahasiswa Program Studi PPKn FKIP UMMAT, Hanik, juga meraih prestasi sebagai Penulis Artikel Jurnal Ilmiah Kepemudaan Terbaik Tahun 2025 pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram yang terus menunjukkan kemampuan terbaiknya di level nasional.
“Alhamdulillah, atas nama pimpinan UMMAT, saya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram yang terus menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kelolosan mahasiswa pada ajang ONMIPA Tahun 2026 serta raihan penghargaan sebagai Penulis Artikel Jurnal Ilmiah Kepemudaan Terbaik merupakan bukti bahwa mahasiswa UMMAT mampu bersaing, unggul, dan menghadirkan karya yang berdampak,” ungkapnya.
Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi dan program studi, tetapi juga menjadi energi positif bagi seluruh sivitas akademika UMMAT untuk terus membangun budaya akademik yang kreatif, inovatif, dan kompetitif.
“Saya percaya bahwa mahasiswa UMMAT memiliki potensi besar untuk menjadi generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan kemajuan peradaban,” tambahnya.
Dr. Erwin juga berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya agar berani bermimpi, aktif berkarya, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengembangkan diri melalui kompetisi, penelitian, publikasi ilmiah, maupun kegiatan akademik dan nonakademik di tingkat nasional hingga internasional.
Sementara itu, Dekan FKIP UMMAT, Dr. Muhammad Nizaar, M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa FKIP UMMAT menembus level nasional merupakan capaian penting yang harus disyukuri sekaligus dipersiapkan dengan serius.
“Untuk ONMIPA, tentu ini sudah masuk pada level nasional. Ini menjadi pengalaman luar biasa bagi mahasiswa, dan tantangannya pasti lebih besar. Semoga mahasiswa kita dapat mempersiapkan diri dengan baik. Kami juga sudah menekankan kepada program studi dan pembimbing ONMIPA agar melakukan persiapan sebaik mungkin,” jelasnya.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap mahasiswa FKIP UMMAT yang berhasil meraih predikat sebagai penulis artikel jurnal ilmiah kepemudaan terbaik. Menurutnya, capaian tersebut tidak mudah diraih karena tidak banyak mahasiswa yang mampu menembus publikasi ilmiah, terlebih meraih predikat terbaik pada kegiatan tingkat kementerian.
“Mahasiswa yang lolos sebagai penulis artikel terbaik ini juga merupakan capaian luar biasa. Tidak banyak mahasiswa yang bisa diterima, publish, dan menjadi best article di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pastinya capaian ini sangat memotivasi mahasiswa lainnya. Mereka juga merupakan mahasiswa kelas riset, dan teman-temannya sangat bangga dengan capaian tersebut,” ujarnya.
Kaprodi Pendidikan Matematika FKIP UMMAT, Abdillah, M.Pd., turut menyampaikan rasa bangga atas prestasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika yang mampu bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.
“Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram patut berbangga atas prestasi gemilang yang diraih oleh mahasiswa di tingkat nasional. Safaruddin berhasil lolos ke tingkat nasional dalam ajang Olimpiade Matematika Tahun 2026 setelah bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Ia menyebut, capaian Safaruddin menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMMAT memiliki kompetensi akademik, daya saing, dan kualitas intelektual yang mampu berkompetisi di tingkat nasional. Final olimpiade tersebut rencananya akan dilaksanakan di Universitas Airlangga Surabaya pada 8–12 Juni 2026.
“Besar harapan kita semua semoga Safaruddin dapat memberikan hasil terbaik, mengharumkan nama program studi, fakultas, dan Universitas Muhammadiyah Mataram dengan meraih prestasi sebagai juara nasional,” harap Abdillah.
Selain itu, Abdillah juga mengapresiasi capaian Alfian Rahman Hadi yang berhasil memperoleh predikat Penulis Artikel Jurnal Ilmiah Kepemudaan Terbaik Tahun 2025. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FKIP UMMAT tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kemampuan literasi ilmiah, kreativitas berpikir, dan kontribusi nyata terhadap pengembangan isu-isu kepemudaan di Indonesia.
Capaian mahasiswa FKIP UMMAT ini menjadi bukti bahwa pembinaan akademik, budaya riset, dan pengembangan potensi mahasiswa terus tumbuh di lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram. Kampus berkomitmen memberikan dukungan, pendampingan, dan ruang pengembangan agar semakin banyak mahasiswa mampu berprestasi serta membawa nama baik universitas, daerah, dan Indonesia.
“Selamat dan sukses kepada seluruh mahasiswa berprestasi. Teruslah berkarya, menginspirasi, dan menjadi bagian dari generasi UMMAT Berdampak,” tutup Dr. Erwin. (HUMAS UMMAT)
Para pemenang Pekan Teater Pelajar (PTP) V Tingkat SMA/SMK/MA Se-NTB Tahun 2026 berfoto bersama panitia, dewan juri, dan perwakilan UMMAT pada malam penganugerahan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Kegiatan yang digagas UKM Teater Sasentra UMMAT ini menjadi ruang apresiasi kreativitas, seni, dan karakter pelajar NTB.
MATARAM — Pekan Teater Pelajar (PTP) V Tingkat SMA/SMK/MA Se-Nusa Tenggara Barat Tahun 2026 resmi mencapai puncak apresiasi melalui malam penganugerahan yang berlangsung meriah di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Kegiatan yang digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) tersebut menjadi ruang penting bagi pelajar NTB untuk mengekspresikan gagasan, kreativitas, serta kepekaan sosial melalui seni pertunjukan.
Sejak dibuka pada 18 Mei 2026, PTP V menghadirkan puluhan kelompok teater pelajar dari berbagai daerah di NTB. Para peserta tampil dalam kategori monolog dan pertunjukan teater dengan membawakan karya-karya terbaik yang edukatif, kritis, dan inspiratif. Antusiasme peserta dan penonton yang terus meningkat selama kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa seni pertunjukan masih memiliki tempat kuat di hati generasi muda.
Malam penganugerahan berlangsung penuh semangat, kebersamaan, dan apresiasi. Berbagai penghargaan diberikan kepada para peserta terbaik sebagai bentuk penghormatan atas kerja keras, keberanian, kedisiplinan, serta dedikasi pelajar dalam menghidupkan panggung teater di NTB.
Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, guru pembina, dewan juri, media partner, serta seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan PTP V Tahun 2026. Menurutnya, Pekan Teater Pelajar bukan hanya sekadar ajang kompetisi seni, tetapi juga ruang pendidikan karakter dan pembelajaran sosial bagi generasi muda.
“Pekan Teater Pelajar ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana generasi muda NTB belajar berpikir kritis, bekerja sama, berani menyampaikan gagasan, serta membangun kepekaan sosial melalui seni pertunjukan,” ujarnya.
Dr. Erwin menegaskan bahwa teater memiliki peran strategis dalam membentuk karakter pelajar. Melalui proses latihan, pementasan, dan kerja kolektif, pelajar belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, empati, komunikasi, serta keberanian tampil di ruang publik. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sangat penting dalam membangun generasi muda yang kreatif, berbudaya, dan berdaya saing.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Taman Budaya NTB yang telah memberikan dukungan besar terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Taman Budaya NTB dinilai konsisten menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas seni pelajar, mahasiswa, dan komunitas seni di daerah.
“Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Taman Budaya NTB yang telah menjadi mitra strategis dalam menghadirkan ruang ekspresi dan apresiasi seni bagi generasi muda. Dukungan ini sangat berarti bagi keberlanjutan ekosistem seni dan budaya di NTB,” tambahnya.
Lebih lanjut, WR III UMMAT juga memberikan tantangan sekaligus harapan kepada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat agar pada penyelenggaraan PTP berikutnya dapat memberikan dukungan yang lebih besar terhadap pengembangan seni pelajar di daerah.
“Kami berharap dan menantang Dikpora NTB agar pada PTP berikutnya dapat hadir lebih kuat memberikan support, baik dalam bentuk pembinaan, kolaborasi program, maupun dukungan terhadap pengembangan kreativitas pelajar. Sebab kegiatan seperti ini adalah investasi penting dalam membangun generasi muda NTB yang kreatif, berbudaya, dan berkarakter,” tegasnya.
Menurut Dr. Erwin, kegiatan seperti Pekan Teater Pelajar perlu mendapatkan perhatian serius karena mampu menghubungkan dunia pendidikan, seni, budaya, dan ekonomi kreatif. PTP tidak hanya melahirkan pertunjukan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antarsekolah, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah daerah, media, dan pelaku industri kreatif.
Ia menegaskan bahwa UMMAT akan terus mendukung hadirnya ruang-ruang kreativitas bagi mahasiswa dan pelajar. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pengembangan bakat, karakter, kepemimpinan, dan kontribusi sosial generasi muda.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi mampu melahirkan ekosistem seni dan budaya yang lebih kuat di NTB. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan dunia industri kreatif harus terus diperkuat agar generasi muda memiliki ruang tumbuh yang sehat, produktif, dan berdampak,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan PTP V Tahun 2026, UKM Teater Sasentra UMMAT kembali menegaskan perannya sebagai ruang kaderisasi seni, kreativitas, dan pendidikan karakter bagi generasi muda NTB. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi agenda strategis yang mampu melahirkan talenta-talenta muda berbakat, memperkuat ekosistem seni pertunjukan, serta menghidupkan budaya apresiasi di kalangan pelajar. (HUMAS UMMAT)
Ditulis Oleh : Dr. Mukhlisin, M.S.I (Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam (FAI) UMMAT
MATARAM — Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperkuat spiritualitas, memperbanyak amal saleh, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Bulan yang di dalamnya terdapat ibadah haji, puasa Arafah, dan ibadah kurban ini memiliki kedudukan mulia karena mengajarkan nilai ketundukan kepada Allah SWT, pengendalian diri, pengorbanan, dan solidaritas antarsesama.
Gema takbir yang berkumandang pada bulan Dzulhijjah tidak hanya menjadi penanda datangnya hari raya, tetapi juga menjadi panggilan batin bagi umat Islam untuk kembali merenungi hubungan dirinya dengan Allah SWT dan sesama manusia. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, bulan ini hadir sebagai ruang spiritual untuk menenangkan jiwa dari hiruk-pikuk dunia, sekaligus mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian materi, melainkan perjalanan menuju keridaan Ilahi.
Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari disebutkan, “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa Dzulhijjah merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.
Salah satu amalan utama pada bulan Dzulhijjah adalah puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri.
Puasa Arafah bukan hanya ibadah yang bersifat personal, tetapi juga memiliki makna moral dan sosial yang mendalam. Melalui lapar dan dahaga, manusia dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kesabaran, serta memahami penderitaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Puasa yang dijalani dengan penuh kesadaran seharusnya melahirkan pribadi yang lebih jujur, rendah hati, dan peduli terhadap sesama.
Pada hari Arafah, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian ihram yang sederhana. Mereka berdiri memohon ampunan Allah SWT tanpa membawa simbol jabatan, kekayaan, maupun status sosial. Pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah dalam keadaan yang sama, dan tidak ada yang dapat dibanggakan selain amal saleh serta ketulusan hati.
Bagi umat Islam yang tidak berada di Tanah Suci, puasa Arafah menjadi sarana untuk ikut merasakan getaran spiritual tersebut. Saat jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, umat Islam di berbagai penjuru dunia menghidupkan hari itu dengan puasa, doa, zikir, sedekah, dan amal kebaikan lainnya. Momentum ini memperlihatkan adanya keterhubungan batin yang kuat di antara kaum muslimin dalam mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT.
Selain puasa Arafah, Dzulhijjah juga identik dengan ibadah kurban yang mengandung pesan pengorbanan dan kepedulian sosial. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa kecintaan kepada Allah harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pengorbanan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga dapat berupa pengorbanan ego, waktu, kenyamanan, dan kepentingan diri demi menjaga nilai kebaikan.
Ibadah kurban juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak semestinya dinikmati sendiri. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi simbol bahwa Islam menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian penting dari keberagamaan. Agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mendorong manusia untuk membangun hubungan yang baik, adil, dan penuh kasih dengan sesama.
Di tengah meningkatnya budaya individualisme, nilai-nilai Dzulhijjah menjadi sangat relevan untuk dihidupkan kembali. Manusia perlu belajar berbagi, membantu, dan merasakan kehidupan orang lain. Keberkahan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati, keikhlasan memberi, dan kemampuan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Momentum Dzulhijjah juga penting bagi generasi muda. Masa muda merupakan waktu terbaik untuk membangun kebiasaan ibadah, disiplin diri, serta kepedulian sosial. Puasa Arafah dan semangat kurban dapat menjadi pintu awal pembentukan karakter yang lebih matang secara spiritual dan moral. Generasi muda yang dekat dengan nilai agama akan lebih kuat menghadapi tekanan zaman serta lebih siap menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, Dzulhijjah bukan hanya peristiwa tahunan dalam kalender Islam, tetapi juga sekolah kehidupan yang mengajarkan ketulusan, pengorbanan, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Bulan ini mengajak umat Islam untuk membersihkan hati dari kesombongan, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta menghidupkan kasih sayang kepada sesama.
Apabila puasa, doa, zikir, sedekah, dan kurban mampu mengubah cara pandang seseorang menjadi lebih lembut, lebih dermawan, dan lebih bersyukur, maka itulah tanda bahwa ibadah telah benar-benar menyentuh jiwa. Dzulhijjah adalah momentum untuk kembali, memperbaiki diri, dan meneguhkan komitmen menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. (HUMAS UMMAT)
Dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Safaruddin dan D. Sulaiman, berhasil lolos ke Tingkat Nasional Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Tahun 2026. Capaian ini menjadi bukti semangat akademik dan prestasi mahasiswa UMMAT di tingkat nasional.
MATARAM — Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dua mahasiswa UMMAT dinyatakan lolos ke tingkat nasional pada ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada 8–12 Juni 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya.
Dua mahasiswa yang berhasil lolos tersebut adalah Safaruddin dari Program Studi Matematika pada bidang Matematika, dan D. Sulaiman dari Program Studi S1 Tambang pada bidang Kimia. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMMAT memiliki kemampuan akademik yang unggul dan mampu bersaing dalam kompetisi bergengsi di tingkat nasional.
Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih oleh mahasiswa UMMAT tersebut.
“Alhamdulillah, atas nama pimpinan Universitas Muhammadiyah Mataram, saya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa UMMAT yang terus menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kelolosan mahasiswa pada ajang ONMIPA Tahun 2026 ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMMAT mampu bersaing, unggul, dan terus menghadirkan capaian terbaik,” ungkapnya.
Menurutnya, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi mahasiswa dan program studi, tetapi juga menjadi energi positif bagi seluruh sivitas akademika UMMAT dalam membangun budaya akademik yang kreatif, inovatif, dan kompetitif.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus memperkuat budaya akademik di lingkungan kampus. Saya percaya mahasiswa UMMAT memiliki potensi besar untuk menjadi generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, serta kemajuan peradaban,” lanjut Dr. Erwin.
Ia juga berharap capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya agar terus berani bermimpi, aktif berkarya, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengembangkan diri melalui kompetisi, penelitian, publikasi ilmiah, dan berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik di tingkat nasional maupun internasional.
UMMAT, lanjutnya, akan terus berkomitmen memberikan dukungan, pembinaan, dan ruang pengembangan potensi mahasiswa agar semakin banyak prestasi yang lahir dan mampu mengharumkan nama kampus, daerah, serta Indonesia.
“Selamat dan sukses kepada mahasiswa berprestasi. Teruslah berkarya, menginspirasi, dan menjadi bagian dari generasi UMMAT Berdampak,” tutupnya.
Kelolosan dua mahasiswa UMMAT pada ONMIPA Nasional 2026 ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kompetisi akademik, meningkatkan kualitas pembinaan mahasiswa, serta mendorong lahirnya generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi masa depan bangsa. (HUMAS UMMAT)