
Sudah membaca materi kuliah berkali-kali, tetapi beberapa hari kemudian justru sulit mengingat isinya? Atau merasa sudah memahami materi saat membaca catatan, tetapi tiba-tiba bingung ketika harus menjelaskannya kembali?
Masalahnya belum tentu karena materi kuliah terlalu sulit. Cara belajar yang digunakan juga sangat menentukan bagaimana informasi dipahami, disimpan, dan diingat kembali.
Berbagai penelitian dalam psikologi kognitif dan pendidikan menunjukkan bahwa beberapa strategi belajar memiliki dukungan ilmiah lebih kuat dibandingkan sekadar membaca ulang atau menandai bagian penting dalam buku.
Meta-analisis Donoghue dan Hattie terhadap 10 teknik belajar yang melibatkan 242 penelitian, 1.619 ukuran efek, dan lebih dari 169 ribu partisipan menunjukkan bahwa practice testing dan distributed practice termasuk strategi belajar dengan dukungan efektivitas yang kuat.
Temuan tersebut juga diperkuat penelitian yang lebih baru. Meta-analisis Mawson dan Kang pada 2025 menunjukkan bahwa belajar secara bertahap dan tersebar dalam beberapa sesi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan belajar secara menumpuk dalam satu waktu.
Lalu, teknik belajar apa saja yang dapat dicoba mahasiswa?
1. Jangan Menunggu Ujian, Gunakan Spaced Practice
Belajar semalam suntuk menjelang ujian masih menjadi kebiasaan sebagian mahasiswa. Cara tersebut dikenal sebagai massed practice, yaitu mempelajari banyak materi dalam satu waktu.
Alternatif yang lebih efektif adalah spaced practice atau distributed practice. Teknik ini dilakukan dengan membagi kegiatan belajar menjadi beberapa sesi yang memiliki jeda waktu. Misalnya, materi yang dipelajari pada Senin dapat ditinjau kembali pada Rabu, Sabtu, kemudian minggu berikutnya. Mahasiswa tidak harus belajar tiga hingga empat jam sekaligus. Sesi belajar yang lebih pendek tetapi dilakukan berulang dalam beberapa hari justru dapat membantu informasi bertahan lebih lama.
Meta-analisis Mawson dan Kang pada 2025 menunjukkan bahwa distributed practice memberikan keuntungan belajar dibandingkan belajar yang ditumpuk dalam satu sesi. Jadi, daripada baru membuka buku satu malam sebelum ujian, lebih baik mulai belajar sedikit demi sedikit sejak jauh hari.
2. Tutup Buku, Lalu Coba Ingat Kembali
Setelah membaca materi, jangan langsung membaca halaman yang sama berulang kali.
Cobalah menutup buku atau catatan, kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang baru saja saya pelajari?
Apa tiga konsep terpenting dari materi tersebut?
Bisakah saya menjelaskannya tanpa melihat catatan?
Cara tersebut dikenal sebagai retrieval practice, yaitu latihan mengambil kembali informasi dari ingatan.
BACA JUGA: Maba Wajib Tahu! 10 Tips Raih IPK Tinggi Sejak Semester Pertama
McDermott dalam Annual Review of Psychology menjelaskan bahwa latihan mengingat kembali informasi dapat membantu memperlambat proses lupa dan meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengingat materi yang telah dipelajari. Teknik ini bisa dilakukan menggunakan pertanyaan sederhana, flashcard, kuis mandiri, latihan soal, atau menuliskan kembali materi dari ingatan.
Prinsipnya sederhana: jangan hanya membaca informasi, tetapi latih otak untuk mengambil kembali informasi tersebut.
3. Jangan Hanya Bertanya “Apa?”, tetapi “Mengapa?”
Menghafalkan definisi memang dapat membantu, tetapi belum tentu membuat mahasiswa memahami konsep secara mendalam.
Karena itu, cobalah menggunakan teknik elaborative interrogation.
Caranya dengan mengajukan pertanyaan seperti:
Mengapa konsep ini benar?
Mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi?
Apa hubungan materi ini dengan materi sebelumnya?
Bagaimana konsep tersebut ditemukan dalam kehidupan sehari-hari?
Teknik ini membantu mahasiswa menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Misalnya, daripada hanya menghafal definisi komunikasi interpersonal, mahasiswa dapat bertanya mengapa komunikasi interpersonal berbeda dari komunikasi massa dan bagaimana perbedaannya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin banyak hubungan yang terbentuk antara informasi baru dan pengetahuan sebelumnya, semakin mudah materi tersebut dipahami secara bermakna.
4. Jelaskan Materi dengan Bahasa Sendiri
Ada kalanya seseorang merasa sudah memahami materi karena kalimat di buku terasa familiar. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali, justru kesulitan. Untuk mengatasinya, mahasiswa dapat mencoba teknik self-explanation.
Setelah mempelajari satu konsep, tutup buku dan coba jelaskan kembali materi tersebut menggunakan bahasa sendiri, seolah-olah sedang menerangkannya kepada teman. Jika ada bagian yang sulit dijelaskan, kemungkinan bagian tersebut belum benar-benar dipahami. Teknik ini bukan sekadar mengulang kalimat dari buku. Mahasiswa perlu mencoba menerjemahkan konsep akademik menjadi penjelasan yang lebih sederhana.
Misalnya: “Kalau saya harus menjelaskan materi ini kepada teman yang belum pernah mempelajarinya, bagaimana saya menjelaskannya?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu menemukan bagian yang masih perlu dipelajari kembali.
5. Campurkan Jenis Soal saat Berlatih
Saat menghadapi mata kuliah yang banyak menggunakan latihan soal, mahasiswa sering mengerjakan satu jenis soal secara berulang sebelum berpindah ke tipe lainnya. Ada teknik lain yang bisa dicoba, yaitu interleaved practice.
Dalam metode ini, mahasiswa mencampurkan beberapa jenis soal atau konsep dalam satu sesi latihan. Sebagai contoh, daripada mengerjakan 20 soal tipe A, kemudian 20 soal tipe B dan 20 soal tipe C, mahasiswa dapat mengerjakannya secara bergantian.
Mengapa?
Karena pada ujian biasanya tidak ada petunjuk yang mengatakan, “Gunakan rumus A untuk soal ini.” Mahasiswa harus terlebih dahulu mengenali jenis masalah sebelum menentukan cara menyelesaikannya.
Meta-analisis Brunmair dan Richter terhadap 59 penelitian menemukan bahwa interleaving secara keseluruhan memiliki efek positif terhadap pembelajaran, meskipun manfaatnya dapat berbeda berdasarkan jenis materi. Teknik ini sangat berguna ketika mahasiswa perlu membedakan beberapa konsep, rumus, kategori, atau tipe permasalahan yang hampir serupa.
6. Buat Peta Konsep
Ada materi kuliah yang tidak cukup dipahami melalui daftar panjang definisi. Pada mata kuliah yang memiliki banyak teori, tokoh, proses, klasifikasi, atau hubungan sebab-akibat, mahasiswa dapat mencoba menggunakan concept mapping atau peta konsep. Caranya, tempatkan satu konsep utama di bagian tengah atau atas, kemudian hubungkan konsep tersebut dengan berbagai konsep lain menggunakan garis, panah, atau kata penghubung.
Dengan peta konsep, informasi tidak lagi terlihat sebagai bagian-bagian yang terpisah. Mahasiswa dapat melihat bagaimana satu konsep berhubungan dengan konsep lainnya.
BACA JUGA: Maba Wajib Tahu! 7 Kesalahan di Semester Pertama yang Sering Bikin Kuliah Berantakan
Meta-analisis Anastasiou, Wirngo, dan Bagos pada 2024 terhadap 55 penelitian dan lebih dari 5.000 peserta menemukan bahwa penggunaan peta konsep berhubungan dengan peningkatan hasil belajar sains.
Meskipun penelitian tersebut banyak berfokus pada pendidikan sekolah dan bidang sains, prinsip pemetaan hubungan antarkonsep dapat diterapkan secara adaptif pada berbagai mata kuliah. Misalnya, mahasiswa dapat membuat peta hubungan antara teori, tokoh, variabel, konsep, karakteristik, dan contoh.
7. Kerjakan Latihan, Lalu Pelajari Kesalahannya
Latihan soal tidak berhenti ketika mahasiswa selesai memberikan jawaban. Bagian yang tidak kalah penting adalah mencari tahu mengapa jawaban tersebut benar atau salah. Di sinilah pentingnya feedback atau umpan balik.
Setelah mengerjakan soal, bandingkan jawaban dengan pembahasan, buku, materi dosen, atau sumber akademik terpercaya.
Jika jawabannya salah, jangan langsung berpindah ke soal berikutnya.
Tanyakan:
Mengapa jawaban saya salah?
Konsep apa yang belum saya pahami?
Apakah saya salah membaca soal atau salah menggunakan konsep?
Bagaimana cara menyelesaikannya dengan benar?
Meta-analisis Wisniewski, Zierer, dan Hattie yang mencakup ratusan penelitian menunjukkan bahwa feedback secara umum memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran.
Namun, feedback yang baik bukan sekadar memberi tahu “benar” atau “salah”. Feedback yang paling berguna membantu mahasiswa memahami letak kesalahan sekaligus mengetahui apa yang harus diperbaiki. Dengan begitu, kesalahan saat latihan justru menjadi bagian penting dari proses belajar.
Tidak Perlu Menggunakan Semua Teknik Sekaligus
Tujuh teknik tersebut tidak harus digunakan dalam satu sesi belajar.
Mahasiswa dapat memilih strategi berdasarkan jenis materi dan tujuan belajar. Untuk materi yang harus diingat dalam jangka panjang, spaced practice dan retrieval practice dapat menjadi pilihan utama.
Untuk materi yang membutuhkan pemahaman mendalam, mahasiswa dapat menggunakan self-explanation, elaborative interrogation, dan concept mapping.
Sementara interleaved practice cocok digunakan ketika mahasiswa harus membedakan berbagai jenis soal atau konsep yang serupa.
Membaca buku, membuat catatan, dan memberi tanda pada bagian penting tetap dapat digunakan. Namun, strategi tersebut sebaiknya dikombinasikan dengan proses belajar yang lebih aktif.
Pada akhirnya, belajar efektif bukan hanya tentang berapa lama seseorang duduk di depan buku, tetapi juga bagaimana materi tersebut dipahami, dihubungkan, diingat kembali, diuji, dan diperbaiki.
Tidak perlu menunggu ujian untuk mulai mencoba.
Pilih satu teknik terlebih dahulu, terapkan secara konsisten, kemudian evaluasi hasilnya.
Jika materi kuliah terasa sulit dipahami, mungkin yang perlu diubah bukan hanya jumlah waktu belajar, tetapi juga cara belajarnya.