Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Karyanik, S.T., M.T., sekaligus Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UMMAT

MATARAM — Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Karyanik, S.T., M.T., kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang riset, inovasi teknologi, dan kekayaan intelektual. Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UMMAT tersebut bersama tim peneliti berhasil memperoleh status paten granted atas inovasi berjudul “Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu.”

Inovasi tersebut merupakan bagian dari penelitian Karyanik sebagai mahasiswa pendidikan Doktor Ilmu Pertanian di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa riset akademik tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.

Tim inventor terdiri atas Karyanik, S.T., M.T.; Prof. Dr. Ir. Aniek Iriany, M.P.; Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P.; serta Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., IPM. Penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah mesin, tetapi juga mengkaji proses pengolahan buah mengkudu secara ilmiah agar kandungan zat aktif, nilai nutrisi, dan kualitas sari buah tetap terjaga selama proses ekstraksi.

Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu dikembangkan untuk menjawab berbagai keterbatasan pengolahan tradisional yang masih membutuhkan waktu relatif lama, kurang efisien, serta belum sepenuhnya memenuhi standar higienitas. Melalui teknologi ini, proses ekstraksi dapat dilakukan secara lebih cepat, bersih, efisien, dan menghasilkan sari buah dalam jumlah lebih optimal.

Kehadiran mesin tersebut juga berpotensi mendorong pengembangan produk turunan mengkudu yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dengan kualitas sari buah yang lebih terjaga, mengkudu dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan, minuman kesehatan, maupun bahan baku industri yang memiliki daya saing.

Karyanik menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan oleh petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta industri pengolahan hasil pertanian.

“Selama ini, proses pengolahan buah mengkudu masih banyak dilakukan secara tradisional. Melalui mesin ini, kami berupaya menghadirkan proses ekstraksi yang lebih cepat, higienis, dan efisien, sekaligus tetap menjaga kandungan penting yang terdapat dalam buah mengkudu,” ungkapnya.

Ia berharap teknologi tersebut tidak berhenti pada tahap penelitian dan perlindungan paten, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut melalui proses hilirisasi, produksi, dan pemanfaatan secara luas di tengah masyarakat.

“Potensi buah mengkudu sangat besar, terutama sebagai komoditas lokal yang memiliki nilai kesehatan dan ekonomi. Apabila didukung teknologi pengolahan yang tepat, mengkudu dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” tambahnya.

Selain menjadi dosen dan Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UMMAT, Karyanik juga aktif sebagai Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat. Akademisi kelahiran Mertak Tombok, Praya, Lombok Tengah tersebut dikenal aktif dalam kegiatan riset dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengembangan potensi lokal.

Kepala Sentra Hak Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Malang, Nur Putri Hidayah, A.Md., S.H., M.H., menyampaikan bahwa keberhasilan memperoleh paten merupakan bukti kuat atas kualitas dan kebaruan suatu hasil penelitian.

“Paten menunjukkan bahwa sebuah invensi memiliki unsur kebaruan, langkah inventif, dan potensi untuk diterapkan. Data pembanding yang digunakan dalam pemeriksaan paten bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari publikasi riset dan dokumen paten yang tersedia di berbagai negara,” jelasnya.

Menurutnya, status paten granted yang diperoleh Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu menegaskan bahwa teknologi tersebut memiliki kebaruan dan nilai kemanfaatan yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

UMMAT memberikan apresiasi atas pencapaian tersebut karena sejalan dengan komitmen universitas dalam memperkuat budaya riset, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian. Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa dosen UMMAT mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memiliki potensi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ke depan, Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu diharapkan dapat dikembangkan menuju tahap produksi dan komersialisasi. Dengan dukungan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, inovasi ini berpeluang menjadi teknologi tepat guna yang mampu memperkuat sektor pertanian, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta mendorong kesejahteraan petani dan pelaku usaha. (HUMAS UMMAT)