Mataram, Dalam upaya memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi di bidang hukum karantina, Program Studi Hukum Program Magister Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Karantina Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa, 5 Agustus 2025. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Badan Karantina NTB, Mataram.
Penandatanganan MoU ini menandai komitmen bersama dalam mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya terkait isu-isu hukum karantina, perlindungan sumber daya hayati, serta penguatan regulasi dalam mendukung ketahanan pangan dan biosekuriti.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Badan Karantina NTB, Agus Mugiono, Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, MA., Direktur Pascasarjana UMMAT, Dr. Lukman, M.Pd., Ketua Program Studi Hukum Program Magister, Dr. Nurjannah, SH., MH., serta jajaran pejabat dan staf dari kedua lembaga.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Karantina NTB, Agus Mugiono, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting untuk memperkuat pemahaman hukum di lingkungan karantina.
“Kami menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah strategi dalam memperkuat pemahaman hukum di lingkungan karantinanya. Harapannya, kolaborasi ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan regulasi dan peningkatan kapasitas SDM di bidang isolasi, serta membuka ruang sinergi antara dunia akademisi dan praktisi,” ujarnya.
Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, MA., dalam pernyataannya juga menyambut baik kerja sama ini sebagai bentuk integrasi antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kerja sama ini tidak hanya penting bagi penguatan akademik Pascasarjana UMMAT, tetapi juga menjadi bagian dari peran universitas dalam menjawab tantangan pembangunan daerah, khususnya di bidang hukum, ketahanan pangan, dan lingkungan. Kami berharap, sinergi ini menjadi model kolaborasi berkelanjutan yang memperkuat kualitas pendidikan tinggi di Indonesia Timur,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Pascasarjana UMMAT, Dr. Lukman, M.Pd., menegaskan bahwa kerja sama ini adalah bagian dari upaya penguatan mutu pendidikan tinggi yang berbasis pada kebutuhan riil masyarakat.
“Kerja sama ini merupakan wujud dari komitmen Pascasarjana UMMAT dalam mengembangkan kemitraan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran dan riset. Kami berharap, melalui sinergi ini, mahasiswa dapat lebih dekat dengan realitas lapangan dan memberikan kontribusi ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Hukum Program Magister, Dr. Nurjannah, SH., MH., menyampaikan bahwa MoU ini akan menjadi jembatan untuk memperluas wawasan mahasiswa dalam menghadapi tantangan hukum di sektor strategis.
“Penandatanganan MoU ini menjadi langkah awal untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai hukum karantina dan perlindungan hayati. Kami berharap kerja sama ini melahirkan penelitian-penelitian yang aplikatif dan inovatif, serta memperkuat peran akademisi dalam merespons dinamika hukum yang berkembang di sektor strategis seperti karantina,” jelasnya.
Melalui kerja sama ini, kedua institusi sepakat untuk mengembangkan berbagai program bersama, seperti penyelenggaraan kuliah pakar, pelaksanaan magang mahasiswa, penyusunan regulasi berbasis riset, serta forum diskusi akademik yang mendukung kemajuan ilmu hukum di bidang karantina.
Langkah ini menjadi bagian dari visi UMMAT untuk terus berkontribusi dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul, adaptif, dan solutif dalam menjawab tantangan global, terutama dalam konteks ketahanan pangan dan biosekuriti wilayah. (HUMAS UMMAT)
Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing melalui penyelenggaraan Job Fair 2025 yang akan berlangsung pada 9 Agustus 2025, bertempat di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMMAT.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara UMMAT dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai wujud nyata sinergi antara dunia pendidikan tinggi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Job Fair 2025 akan menghadirkan lebih dari 2.974 lowongan kerja, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan mitra dari sektor manufaktur, perhotelan, kesehatan, perdagangan, hingga ketenagakerjaan luar negeri. Antusiasme tinggi tampak dari kehadiran ratusan pencari kerja, mulai dari mahasiswa, alumni, hingga masyarakat umum yang ingin mencari peluang karier sesuai minat dan kompetensi mereka.
Wakil Rektor III UMMAT, Dr. Erwin, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang monumental bagi UMMAT dalam mempertemukan secara langsung dunia akademik dengan dunia kerja.
“Job Fair ini perdana dilakukan oleh UMMAT sebagai wujud komitmen bahwa kami tidak hanya melahirkan SDM yang kompeten di bidangnya masing-masing, tetapi juga membuka peluang dan harapan kerja bagi para alumni dan masyarakat luas,” ujar Dr. Erwin.
Lebih lanjut, Dr. Erwin menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari transformasi perguruan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Kami percaya bahwa kemitraan strategis antara perguruan tinggi, pemerintah, serta Dunia Usaha dan Dunia Industri adalah keniscayaan untuk menciptakan kemandirian dan kemajuan bangsa. Dalam konteks ini, UMMAT ingin hadir sebagai penghubung yang kuat antara lulusan dan dunia kerja,” tambahnya.
Job Fair ini juga menjadi momen konsolidasi dan silaturahmi antara UMMAT dan para alumninya. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Erwin secara terbuka mengundang seluruh alumni UMMAT dan masyarakat umum untuk memanfaatkan momentum ini sebaik-baiknya.
“Kami mengundang dengan hormat para alumni Universitas Muhammadiyah Mataram dan masyarakat umum untuk hadir dan mengakses berbagai peluang kerja yang tersedia. Kampus ini adalah rumah besar yang selalu terbuka bagi alumninya untuk kembali berkembang dan berkontribusi,” jelasnya.
Lebih dari sekadar ajang rekrutmen, Job Fair ini menjadi bentuk nyata implementasi visi UMMAT sebagai kampus yang inklusif, transformatif, dan adaptif terhadap dinamika global. UMMAT menunjukkan perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai aktor aktif dalam mendukung pembangunan daerah dan nasional.
“UMMAT berkomitmen untuk terus membangun sinergi dengan berbagai pihak dalam rangka memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa. Kolaborasi ini menjadi strategi utama untuk membangun masa depan yang berkelanjutan,” tutup Dr. Erwin.
Pelaksanaan Job Fair 2025 ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi UMMAT dalam mendukung akselerasi ekonomi daerah, memperkuat daya saing SDM Nusa Tenggara Barat, serta menjembatani transisi lulusan dari dunia kampus ke dunia kerja nasional maupun global. (HUMAS UMMAT)
Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) melalui Wakil Rektor III yang membidangi Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Erwin, M.Pd., turut hadir dalam kegiatan nasional Peluncuran Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia pada Senin, 4 Agustus 2025, pukul 10.00–12.00 WIB, bertempat di Graha Utama Kemendikdasmen, Gedung A Kemendikbud RI, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi momentum penting yang menandai keberlanjutan program beasiswa unggulan dari BAZNAS, sekaligus menunjukkan komitmen kuat dalam menyiapkan generasi bangsa yang unggul dan tangguh menghadapi tantangan global menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pembangunan sumber daya manusia, BAZNAS melaksanakan program Beasiswa Cendekia BAZNAS Dalam Negeri dan Ma’had Aly yang bekerja sama dengan 183 lembaga pendidikan tinggi, terdiri dari 133 Perguruan Tinggi Dalam Negeri dan 50 Ma’had Aly, termasuk didalamnya UMMAT. Program ini ditujukan untuk menyediakan dukungan dana pendidikan bagi para mustahik (penerima zakat), guna menjamin keberlangsungan pendidikan dan memutus mata rantai kemiskinan melalui akses pendidikan berkualitas.
Dalam wawancaranya, Dr. Erwin menyambut baik peningkatan dan pengembangan skema beasiswa ini. “Peluncuran Beasiswa Cendekia BAZNAS 2025 bukan berarti program ini baru dimulai tahun ini, melainkan sebagai penegasan bahwa program ini terus berlanjut dan mengalami peningkatan dari segi substansi serta jangkauan manfaat,” jelasnya.
Salah satu kebaruan dari program tahun ini adalah penambahan skema pendanaan yang tidak hanya mencakup biaya kuliah (SPP/UKT), tetapi juga: Pendanaan untuk Penelitian/Skripsi, sebagai dukungan terhadap mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, serta Pendanaan untuk Seminar, Simposium, dan Kegiatan Ilmiah Sejenis, untuk mahasiswa yang aktif mengikuti forum ilmiah di tingkat nasional maupun internasional, baik sebagai peserta maupun pemakalah.
“Skema baru ini sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini. Dukungan terhadap karya ilmiah dan partisipasi dalam forum akademik akan mendorong lahirnya generasi intelektual muda yang siap bersaing secara global,” tambah Dr. Erwin.
Ia juga menegaskan bahwa UMMAT akan terus mendukung dan memfasilitasi mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS agar dapat memanfaatkan program ini secara optimal, tidak hanya sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai peluang pengembangan diri secara intelektual, sosial, dan spiritual.
Adapun kategori penerima beasiswa masih mengacu pada mahasiswa aktif yang sedang menempuh semester 5. Ketentuan ini ditetapkan agar mahasiswa memiliki cukup waktu merancang rencana akademik jangka menengah dan menyelesaikan studi tepat waktu dengan dukungan beasiswa.
Sejak diluncurkan, Beasiswa Cendekia BAZNAS telah menjadi program strategis nasional dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga prasejahtera. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk dari UMMAT, telah menjadi penerima manfaat dari program ini.(HUMAS UMMAT)
Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) akan menjadi tuan rumah Workshop NMT-DIES Training 2025 yang mengusung tema “Internationalization Policies & Strategies to Support Impactful Campus Educational Policy in Indonesia”. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat internasionalisasi di perguruan tinggi, khususnya di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi salah satu pilar penting dalam meningkatkan daya saing global, membuka peluang kolaborasi internasional, serta mendorong pertukaran pengetahuan lintas negara.
Workshop ini terdiri atas dua tahap, yaitu tahap pertama yang akan diselenggarakan pada tanggal 27–29 Oktober 2025, dan tahap kedua pada tanggal 6–8 April 2026. Kegiatan ini didukung penuh oleh DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst), German Academic Exchange Service, sebuah lembaga terkemuka asal Jerman yang berfokus pada pertukaran akademik internasional di bidang pendidikan tinggi dan riset.
Sebagai fasilitator dalam workshop ini, akan hadir para akademisi dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi ternama, baik dari dalam maupun luar negeri, antara lain: Dr. Nguyen Ngoc Thuy (Nong Lam University, Vietnam), Ida Puspita, S.S., M.A., Res. (Universitas Ahmad Dahlan), Dr. Muzaillin Affan (Universitas Syiah Kuala), Dr. Condro Wibowo (Universitas Jenderal Soedirman), Mateus Yumarnanta, Ph.D. (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), dan Asbah, M.Hum. (Universitas Muhammadiyah Mataram).
Workshop ini merupakan hasil kolaborasi antara UMMAT dengan Universitas Potsdam (Jerman), Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, dan Universitas Syiah Kuala. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam memperluas jaringan internasional dan memperkuat kebijakan pendidikan tinggi yang berdampak di tingkat global.
Kepala Kantor Kerja Sama dan Urusan Internasional UMMAT, Asbah, M.Hum., menjelaskan bahwa pelaksanaan Workshop NMT-DIES Training 2025 ini menjadi langkah strategis UMMAT dalam membangun jaringan internasional yang lebih luas dan relevan dengan kebutuhan zaman.
“Internasionalisasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan menjadi bagi perguruan tinggi yang ingin bersaing di kancah global. Melalui workshop ini, kami ingin mengajak PTN dan PTS di Bali, NTB, dan NTT untuk bersama-sama menyusun strategi dan kebijakan yang berdampak nyata bagi pengembangan kampus. UMMAT siap menjadi fasilitator dan kolaborator aktif dalam inisiatif ini,” jelas Asbah.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran DAAD serta keterlibatan kampus-kampus ternama di dalam dan luar negeri menjadi bukti nyata bahwa potensi perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia semakin diakui dan diperhitungkan.
“Ini adalah momentum emas. Tidak hanya untuk membangun kapasitas institusi, tetapi juga untuk membuka peluang mobilitas akademik, penelitian bersama, dan pengembangan SDM dosen dan mahasiswa secara internasional,” tambahnya.
UMMAT mengundang seluruh perguruan tinggi di wilayah Bali, NTB, dan NTT untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Sosialisasi awal dapat diikuti dengan melakukan pendaftaran melalui tautan berikut:
Melalui pelaksanaan NMT-DIES Training 2025, UMMAT menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari penguatan ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, berdaya saing global, dan berorientasi pada kolaborasi lintas negara. (HUMAS UMMAT)
Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) melalui Lembaga Pengkajian, Pengembangan dan Pengamalan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3IK) kembali menyelenggarakan kegiatan Kaji-MU Fakultas sebagai bagian dari program unggulan kelembagaan dalam meneguhkan ideologi Muhammadiyah di lingkungan akademik. Kegiatan ini telah dimulai sejak 1 Agustus dan akan berlangsung hingga 19 September 2025, dengan menyasar dosen dan tenaga kependidikan di tingkat fakultas, unit, dan lembaga.
Kaji-MU tahun ini mengambil fokus pada penguatan nilai-nilai ideologis dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan kampus melalui materi utama seperti Ekosistem Kampus Islami, Risalah Islam Berkemajuan, dan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Pada bagian Ekosistem Kampus Islami, peserta diajak untuk membudayakan layanan prima melalui prinsip 4S (senyum, salam, sapa, sabar), memperkuat budaya salat berjamaah di Masjid Al-Khoory, dan menghidupkan semangat membaca Al-Qur’an sebelum beraktivitas. Selain itu, ditekankan pula pentingnya menjaga penampilan dengan berbusana Islami, menjauhi rokok di lingkungan kampus, membangun interaksi sosial dengan akhlak karimah, serta menumbuhkan atmosfer akademik yang kolaboratif, jujur, tertib, meritokratis, dan amanah.
Materi Risalah Islam Berkemajuan mengajak sivitas akademika untuk memahami Islam sebagai agama yang berlandaskan tauhid, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta menghidupkan semangat ijtihad dan tajdid. Islam yang berkemajuan juga harus memegang prinsip wasathiyah, membawa rahmat bagi semesta alam, berkhidmat untuk kemaslahatan umat manusia, serta berperan dalam membangun peradaban.
Dalam rangka penguatan fikih amaliah Muhammadiyah, disampaikan pula materi Himpunan Putusan Tarjih yang difokuskan pada teori dan praktik pengurusan jenazah. Materi ini dipandu oleh para narasumber berkompeten yang berasal dari kalangan akademisi, ulama, dan praktisi Muhammadiyah, di antaranya Dr. TGH. Falahudin, M.Ag., Drs. H. Gulam Abbas, M.Si., Drs. H. Syamsudin Anwar, Dr. TGH. Zaenudin, M.Pd.I., Dr. M. Anugrah Arifin, M.Pd.I., Dr. TGH. Sukarta, M.Pd.I., Dr. Mukhlishin, M.S.I., Dr. Mappanyompa, M.Pd.I., Dr. Immawanto, M.Sy., Muhiburrahman, M.Pd., Saprun, M.Pd.I., Abdul Hafiz, M.Pd.I., Dewi Urifah, M.Pd.I., Sahman Z., M.H., Najamudin, M.Pd.I., dan Suwandi, M.Pd.
Ketua panitia, Sahman Z., M.H., menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan dan antusiasme dari seluruh pihak. Ia menegaskan bahwa Kaji-MU merupakan ruang strategis untuk meningkatkan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan, sekaligus mempererat silaturahmi antarunit di lingkungan kampus. Harapannya, program ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh secara ideologis.
Kepala LP3IK UMMAT, Dr. M. Anugrah Arifin, M.Pd.I., menambahkan bahwa pelaksanaan Kaji-MU secara rutin satu pekan sekali selama masa libur semester genap menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan nilai-nilai dasar Muhammadiyah. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wasilah dalam menanamkan sikap bermuhammadiyah yang berkemajuan, tidak hanya dalam lingkungan kampus, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat yang lebih luas.
Dengan mengedepankan semangat Islam berkemajuan dan nilai-nilai keislaman yang inklusif, UMMAT terus berkomitmen membangun ekosistem kampus Islami yang mampu mencetak generasi intelektual yang berkarakter, berintegritas, dan berdedikasi untuk kemaslahatan umat. (HUMAS UMMAT)
Mataram, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali mengukir prestasi membanggakan dalam ajang Debat Nasional Mahasiswa, yang diselenggarakan pada tanggal 23 Juni hingga 30 Juli 2025. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu babak penyisihan secara daring (online) dan babak final secara luring (offline) pada 30 Juli 2025 di Aula FKIP UMMAT.
Kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta dari perguruan tinggi se- Indonesia ini menjadi ruang dialektika yang mempertemukan gagasan, pemahaman, serta semangat mahasiswa untuk menyampaikan solusi atas berbagai persoalan aktual. Ajang ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam menciptakan ruang pengembangan berpikir kritis dan kemampuan berbicara di depan publik secara terstruktur dan argumentatif.
Dalam kompetisi ini, tim UMMAT yang diketuai Hanik, mahasiswa semester IV Prodi PPKn dan Dodi Azhari, mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), berhasil meraih Juara III, mengalahkan tim-tim kuat dari berbagai universitas lainnya.
Hanik, mahasiswa asal Kediri, Lombok Barat, mengungkapkan bahwa mengikuti ajang debat ini adalah pengalaman berharga yang penuh tantangan, khususnya dalam hal analisis cepat terhadap topik yang kompleks.
“Tantangan utamanya adalah bagaimana menganalisis isu secara mendalam dengan waktu yang sangat terbatas. Tapi justru itu yang membuat kita terpacu untuk berpikir cepat dan kritis,” ujar Hanik, kelahiran 19 September 2005.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada materi di dalam kelas. “Saya berharap semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti kegiatan seperti ini, karena debat bukan hanya ajang beradu argumen, tapi latihan untuk melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang,” lanjutnya.
Senada dengan Hanik, Dodi Azhari, mahasiswa asal Dusun Pengasing, Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, juga menyampaikan pandangannya bahwa debat nasional ini memberikan ruang dialektika yang mempertemukan antara pemahaman teoritis dan pengalaman nyata.
“Kegiatan ini sangat bermakna. Tidak hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang bagaimana kita mempresentasikan gagasan, menyampaikan logika, dan memahami sudut pandang orang lain. Ini ruang pembelajaran yang sesungguhnya,” tutur Dodi.
Dodi juga berharap agar pihak kampus semakin aktif menyelenggarakan lomba serupa secara rutin, baik di tingkat internal fakultas maupun antar kampus.
“Saya berharap UMMAT bisa rutin menyelenggarakan kegiatan lomba seperti ini. Mahasiswa harus dibiasakan untuk membenturkan pikirannya dalam ruang yang lebih luas dari sekadar ruang kelas,” tambahnya.
Ketua Panitia, Zaenafi Ariani, SE.,ME., mengungkapkan bahwa penyisihan dilakukan secara daring sejak 23 Juni 2025, sebagai bentuk adaptasi teknologi sekaligus memberi kesempatan lebih luas bagi peserta dari luar daerah untuk berpartisipasi. Sementara final pada 30 Juli diselenggarakan secara tatap muka di Aula FKIP, mempertemukan empat tim terbaik dalam debat yang berlangsung intens dan kompetitif.
Kegiatan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari sivitas akademika UMMAT. Debat Nasional Mahasiswa ini dianggap sebagai ajang penting dalam pembentukan karakter mahasiswa, melatih keberanian, kemampuan berpikir sistematis, serta penguasaan isu-isu kebangsaan dan global.
“Debat adalah bagian penting dari pembelajaran aktif. Di sinilah mahasiswa belajar berpikir cepat, menyampaikan pendapat, dan mempertahankan argumen secara rasional. Ini juga bagian dari pendidikan karakter,” ungkap ketua panitia. (HUMAS UMMAT)