Dosen UMMAT Cetak Sejarah: Disertasi 1.738 Halaman dan Lahirnya Teori Religious-Civic Dissonance

Dosen UMMAT Cetak Sejarah: Disertasi 1.738 Halaman dan Lahirnya Teori Religious-Civic Dissonance

Bandung Dr. Abdul Sakban, S.Pd., M.Pd., dosen tetap Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), telah melangsungkan Sidang Promosi Doktor yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada 6 Januari 2026. Sidang promosi doktor ini menandai keberhasilan Dr. Abdul Sakban dalam mempertahankan disertasi doktoralnya secara meyakinkan di hadapan tim promotor dan penguji.

Disertasi yang dipertahankan merupakan karya ilmiah monumental dengan ketebalan mencapai 1.738 halaman, sebuah capaian akademik yang relatif jarang dijumpai dan mencerminkan kedalaman, keluasan, serta ketelitian riset etnografis yang dilakukan. Ketebalan dan kekayaan data tersebut merepresentasikan komitmen akademik yang kuat dalam mengkaji persoalan etika publik dan pendidikan kewarganegaraan secara mendalam dan kontekstual.

Sidang promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. Wawan Darmawan, S.Pd., M.Hum. selaku pimpinan sidang. Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si. sebagai promotor utama, dengan Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.I.P., S.A.P., S.Pd., M.Si., M.H., CPM sebagai ko-promotor, serta Dr. Syaifullah, M.Si. sebagai anggota promotor. Proses evaluasi akademik diperkuat oleh Prof. Dr. Kokom Komalasari, M.Pd. selaku penguji internal dan Dr. Maemunah, S.Pd., M.H. dari Universitas Muhammadiyah Mataram sebagai penguji eksternal. Komposisi tim ini mencerminkan integrasi lintas disiplin, meliputi pendidikan kewarganegaraan, ilmu sosial, hukum, dan etika publik, dalam menguji kontribusi ilmiah disertasi yang diajukan.

Kontribusi teoretik utama disertasi ini terletak pada lahirnya sebuah konstruksi teori baru yang diberi nama Religious-Civic Dissonance Theory atau Teori Dissonansi Religius-Kewarganegaraan (Teori DRK). Teori ini dikembangkan sebagai respons kritis terhadap fenomena paradoks sosial-politik di Kota Mataram, di mana simbol-simbol religius hadir secara masif di ruang publik melalui bahasa, ritual, dan representasi keagamaan, namun pada saat yang sama praktik korupsi tetap berlangsung secara luas dan bahkan kerap memperoleh legitimasi kultural maupun struktural. Paradoks tersebut tidak diposisikan sebagai anomali sosial semata, melainkan sebagai pola ketegangan etis yang bersifat sistemik.

Teori DRK menjelaskan bahwa dalam masyarakat religius yang beroperasi dalam sistem demokrasi prosedural, terdapat konflik batin dan konflik sosial yang mendalam ketika nilai-nilai moral agama seperti kejujuran, amanah, disiplin, dan kesalehan ritual—berhadapan dengan realitas praktik kekuasaan yang permisif terhadap korupsi, politik transaksional, serta penyalahgunaan kewenangan. Ketegangan ini melahirkan apa yang dikonsepsikan sebagai dilema etika religius-kewarganegaraan, yakni kondisi ketika individu maupun kelompok sosial dihadapkan pada pilihan-pilihan moral yang saling bertentangan antara idealitas iman dan realitas kewarganegaraan.

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan etnografi kritis di empat perguruan tinggi utama di Kota Mataram, yaitu Universitas Mataram, Universitas Islam Negeri Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, dan Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Keempat institusi tersebut diposisikan sebagai representasi keberagaman etnis, agama, bahasa, dan budaya, sehingga memungkinkan analisis yang komprehensif terhadap konstruksi kesadaran moral generasi muda dalam konteks masyarakat multikultural dan multireligius. Melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen, penelitian ini berhasil menangkap dinamika kesadaran moral mahasiswa, aktivis kampus, dan sivitas akademika dalam menanggapi realitas korupsi di ruang publik.

Secara teoretik, Teori DRK berangkat dari konsep disonansi moral yang dikemukakan oleh Leon Festinger, khususnya mengenai ketegangan psikologis yang muncul ketika keyakinan dan perilaku berada dalam kondisi tidak selaras. Namun demikian, disertasi ini melampaui kerangka individualistik Festinger dengan menunjukkan bahwa disonansi moral dalam konteks Indonesia bersifat kolektif dan struktural . Dalam masyarakat keagamaan, disonansi tidak hanya dialami oleh individu, tetapi juga diproduksi oleh institusi sosial, praktik politik, serta budaya kekuasaan yang ambigu terhadap nilai-nilai moral masyarakat.

Dengan demikian, Teori DRK tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan kajian etika dan pendidikan kewarganegaraan, tetapi juga menawarkan fondasi konseptual baru bagi upaya pencegahan korupsi di Indonesia. Teori ini menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum dan struktural semata, melainkan harus menyentuh dimensi kesadaran moral, integritas kewarganegaraan, serta rekonsiliasi antara religiusitas simbolik dan etika publik yang substantif.

Keberhasilan Dr. Abdul Sakban dalam melahirkan teori ini menegaskan peran strategis dosen perguruan tinggi daerah dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan nasional sekaligus menghadirkan jawaban akademik yang kontekstual, reflektif, dan berkelanjutan terhadap problem kebangsaan. (HUMAS UMMAT)

UMMAT Raih Penghargaan Internasional sebagai Creative University dalam Kolaborasi Global Penerimaan Mahasiswa Internasional

UMMAT Raih Penghargaan Internasional sebagai Creative University dalam Kolaborasi Global Penerimaan Mahasiswa Internasional

Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat global dengan meraih penghargaan internasional bertajuk “The Creative University on International Collaborations for International Student Admissions.” Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan UMMAT dalam mengembangkan kerja sama internasional yang inovatif, kreatif, dan berkelanjutan, khususnya dalam penguatan strategi penerimaan mahasiswa internasional.

Penghargaan bergengsi tersebut merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI), APIEM United Kingdom, serta Mandalika International Festival (MIF) Indonesia. Melalui apresiasi ini, UMMAT dinobatkan sebagai salah satu perguruan tinggi kreatif berkelas global dari kawasan timur Indonesia yang dinilai mampu mengintegrasikan diplomasi pendidikan dengan penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif nasional.

Prosesi penyerahan penghargaan dilaksanakan pada 13 Desember 2025 bertempat di Green Gate VIP Deluxe Sirkuit MotoGP Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Sertifikat penghargaan internasional tersebut ditandatangani secara resmi oleh Kemenparekraf RI, President APIEM United Kingdom, Professor David Hind, serta Direktur MIF Indonesia, Sirajudin.

Pengakuan ini menjadi bukti nyata meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap peran strategis UMMAT dalam mengembangkan internasionalisasi pendidikan tinggi yang terintegrasi dengan penguatan kawasan strategis nasional, khususnya Mandalika sebagai destinasi pariwisata dan kolaborasi global.

Melalui pendekatan kolaboratif dan inovatif, UMMAT dinilai berhasil memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan berkelanjutan, sekaligus jembatan penghubung antara dunia akademik, industri, dan komunitas global. Kehadiran mahasiswa internasional serta mitra global di lingkungan kampus UMMAT diharapkan mampu memperkaya atmosfer akademik, meningkatkan pertukaran budaya dan keilmuan, serta mendorong daya saing pendidikan tinggi di tingkat regional, nasional, hingga internasional.

Kepala Kantor Urusan Internasional dan Kerjasama (KUIK) UMMAT, Asbah, M.Hum., menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan amanah sekaligus motivasi untuk terus memperluas jejaring dan kolaborasi internasional secara berkelanjutan. “Penghargaan ini bukan sekadar simbol pengakuan, tetapi juga tanggung jawab besar. Kolaborasi internasional yang kami bangun diarahkan untuk memperkuat peradaban melalui pertukaran ilmu, nilai, dan kemanusiaan. Dari Lombok, UMMAT ingin hadir dan berkontribusi nyata untuk dunia,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV UMMAT Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta Kerja Sama, Dr. H. Zaenudin, M.Pd.I., menegaskan bahwa penghargaan dari Kemenparekraf RI, APIEM UK, dan MIF Indonesia semakin memperkuat posisi strategis UMMAT dalam peta kerja sama global.

“Penghargaan ini menegaskan bahwa UMMAT berada pada jalur yang tepat dalam membangun kemitraan nasional dan internasional yang berdampak. Ke depan, kami akan terus mengembangkan kerja sama global yang mendukung peningkatan kualitas akademik, riset, mobilitas internasional, serta kontribusi nyata UMMAT bagi pembangunan daerah dan nasional,” jelasnya.

Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, M.A., turut menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas capaian internasional tersebut. Menurutnya, penghargaan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika UMMAT yang secara konsisten membangun budaya kolaborasi, inovasi, dan keterbukaan global. “Penghargaan internasional ini membuktikan bahwa UMMAT mampu beradaptasi dan berinovasi dalam menjawab tantangan global tanpa meninggalkan jati diri keislaman dan kemuhammadiyahan. Saya mengapresiasi kerja keras Kantor Urusan Internasional dan seluruh unit yang terlibat dalam mendorong internasionalisasi kampus secara terencana dan berkelanjutan,” ujar Rektor.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kerja sama internasional yang dibangun UMMAT tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan reputasi institusi, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat luas. “Internasionalisasi UMMAT kami maknai sebagai sarana peningkatan mutu caturdarma perguruan tinggi, penguatan karakter mahasiswa, serta kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa.Dari Lombok, kami ingin menunjukkan bahwa kampus daerah pun mampu berkiprah dan diakui di tingkat dunia,” tegasnya. (HUMAS UMMAT)

UMMAT gelar Seminar Nasional RUU SISDIKNAS untuk menegaskan otonomi dan kebebasan akademik perguruan tinggi dalam transformasi regulasi pendidikan

UMMAT gelar Seminar Nasional RUU SISDIKNAS untuk menegaskan otonomi dan kebebasan akademik perguruan tinggi dalam transformasi regulasi pendidikan

Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menegaskan perannya dalam penguatan kebijakan pendidikan nasional melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS) bertema “Transformasi Regulasi dan Tata Kelola Pendidikan Tinggi”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (29/12/2025) di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT dan menjadi forum strategis untuk mengkaji masa depan regulasi pendidikan tinggi di Indonesia.

Seminar nasional ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara secara resmi. Hadir pula sebagai narasumber Prof. Dr. Supardi, M.Pd., Dr. Beny Bandanajaja, S.T., M.T. dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek), serta Dr. Syafril, M.Pd., Sekretaris Rektor I UMMAT. Kegiatan dipandu oleh Isnaini, M.H., M.Pd., Kaprodi PPKn UMMAT dan diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, serta pemangku kepentingan pendidikan.

Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, M.A., menegaskan bahwa pembahasan RUU SISDIKNAS merupakan momentum penting bagi perguruan tinggi untuk terlibat aktif dalam proses perumusan kebijakan pendidikan nasional. Menurutnya, regulasi pendidikan harus menjamin mutu pendidikan tinggi, keadilan akses, serta kemandirian dan otonomi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan karakter bangsa. “Perguruan tinggi harus ditempatkan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” ujarnya.

Perwakilan Diktisaintek, Dr. Beny Bandanajaja, S.T., M.T., menyampaikan bahwa transformasi tata kelola pendidikan tinggi menjadi keniscayaan di tengah tantangan global, perkembangan teknologi, dan kebutuhan inovasi. Ia menekankan pentingnya regulasi yang adaptif, kolaboratif, serta mampu mendorong penguatan ekosistem riset dan inovasi di perguruan tinggi.

Sebagai keynote speaker, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., menegaskan bahwa Komisi X DPR RI membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi akademisi dan perguruan tinggi dalam pembahasan RUU SISDIKNAS. Menurutnya, partisipasi sivitas akademika sangat penting agar regulasi pendidikan nasional yang dihasilkan tidak bersifat sentralistik dan tetap menjunjung kebebasan akademik.

Dalam pemaparan materi utama, Prof. Dr. Supardi, M.Pd., mengulas secara komprehensif substansi RUU SISDIKNAS dengan menyoroti posisi strategis perguruan tinggi dalam transformasi regulasi pendidikan. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi harus diperkuat perannya sebagai pusat pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Dr. Syafril, M.Pd., selaku Sekretaris Rektor I UMMAT, menegaskan bahwa transformasi regulasi pendidikan harus didasarkan pada diskursus akademik yang mendalam. Ia mempertanyakan arah sistem pendidikan nasional ke depan serta urgensi pembaruan kebijakan yang benar-benar berpihak pada penguatan perguruan tinggi.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi objek regulasi, tetapi harus menjadi subjek aktif dalam merumuskan kebijakan pendidikan nasional. RUU SISDIKNAS harus menjamin ruang inovasi, kreativitas, dan kebebasan berpikir di lingkungan kampus,” tegasnya. (HUMAS UMMAT)

Home Care Pascabencana Banjir Aceh Tamiang, Tim Medis UMMAT Layani Warga Rantau Pauh

Home Care Pascabencana Banjir Aceh Tamiang, Tim Medis UMMAT Layani Warga Rantau Pauh

Aceh Tamiang, Tim Medis Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) melaksanakan layanan Mobile Clinic berbasis Home Care pascabencana banjir di Dusun Jawa, Desa/Kelurahan Rantau Pauh, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh pada 25 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tanggap Bencana, yang bertujuan memulihkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir.

Pelayanan kesehatan dilakukan melalui kunjungan langsung ke rumah warga sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, dengan fokus menjangkau kelompok rentan yang mengalami keterbatasan mobilitas, seperti lansia, pasien dengan penyakit kronis, anak-anak, serta warga yang masih mengalami dampak fisik pascabencana.

Pendekatan home care dipilih sebagai strategi pelayanan adaptif pascabencana, di mana kondisi lingkungan dan akses fasilitas kesehatan belum sepenuhnya pulih. Melalui kunjungan rumah, Tim Medis UMMAT dapat melakukan pemeriksaan kesehatan, pengobatan, serta pemantauan kondisi pasien secara lebih komprehensif dan personal.

Sebanyak 43 pasien berhasil dilayani dalam kegiatan ini, dengan sebaran usia meliputi kelompok usia produktif 19–59 tahun sebanyak 22 orang, lansia di atas 59 tahun sebanyak 13 orang, anak usia 5–18 tahun sebanyak 5 orang, serta balita di bawah 5 tahun sebanyak 3 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kesehatan pascabencana banjir dirasakan oleh seluruh kelompok usia masyarakat.

Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan keluhan terbanyak berupa cephalgia, myalgia, dan vertigo sebanyak 16 kasus, disusul Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebanyak 15 kasus. Selain itu, Tim Medis UMMAT juga menangani penyakit kardiovaskular seperti hipertensi dan riwayat stroke sebanyak 9 kasus, dispepsia sebanyak 5 kasus, penyakit kulit sebanyak 3 kasus, serta diare akut sebanyak 2 kasus. Sementara itu, masing-masing ditemukan 1 kasus diabetes, cedera trauma, dan cedera non-trauma.

Kondisi lingkungan pascabencana banjir, seperti kelembapan tinggi, keterbatasan sanitasi, dan aktivitas pembersihan rumah, menjadi faktor risiko utama munculnya gangguan pernapasan dan keluhan muskuloskeletal yang banyak ditemukan pada warga Rantau Pauh.

Melalui layanan Mobile Clinic Home Care, Universitas Muhammadiyah Mataram menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang responsif terhadap kondisi darurat dan kebutuhan masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada penanganan medis jangka pendek, tetapi juga pada upaya pencegahan perburukan penyakit serta penguatan ketahanan kesehatan masyarakat terdampak bencana.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Laporan Hasil Kunjungan Mobile Clinic (Home Care) Tim Medis UMMAT di wilayah Rantau Pauh, Kabupaten Aceh Tamiang, sebagai bentuk nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.

Universitas Muhammadiyah Mataram menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek RI. Dukungan ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan aksi kemanusiaan dan penguatan peran perguruan tinggi dalam mitigasi dan penanggulangan bencana di Indonesia. (HUMAS UMMAT)

UMMAT Kembali Tambah Guru Besar, Prof. Dr. Hijril Ismail Resmi Dikukuhkan di Bidang Reading ELT

UMMAT Kembali Tambah Guru Besar, Prof. Dr. Hijril Ismail Resmi Dikukuhkan di Bidang Reading ELT

Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali mencatatkan pencapaian strategi dalam penguatan kualitas akademik dengan resmi menambah satu orang Guru Besar , yakni Prof. Dr. Hijril Ismail, M.Pd., Bi. pada bidang Reading in English Language Teaching (ELT). Pengangkatan tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 44690/KTP.KP/2025.

Penyerahan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Guru Besar dilakukan langsung oleh Kepala LLDikti Wilayah VIII, Dr. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, ST, MT, bertempat di Ruang Temu Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram, pada Senin (29/12/2025).

Kegiatan penyerahan SK ini dihadiri oleh Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, MA, didampingi Wakil Rektor II, Ir. Asmawati, MP. Momentum ini menjadi bukti nyata komitmen UMMAT dalam meningkatkan kualitas sumber daya dosen dan memperkuat reputasi institusi di tingkat regional maupun nasional.

Rektor UMMAT menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian akademik yang diraih oleh Prof. Hijril Ismail. Menurutnya, bertambahnya guru besar merupakan indikator penting kemajuan perguruan tinggi dalam menjalankan caturdarma, khususnya pada pengembangan keilmuan dan riset.

“Kami merasa bangga atas pencapaian ini. Semoga kehadiran guru besar baru dapat memperkuat kontribusi akademik, meningkatkan kualitas riset dan pembelajaran, serta semakin mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Mataram,” ujar Drs. Abdul Wahab, MA.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa peran guru besar sangat strategis dalam mendorong produktivitas penelitian, publikasi ilmiah bereputasi, serta pengembangan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah VIII, Dr. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., mengapresiasi konsistensi UMMAT dalam mendorong dosen mencapai jabatan fungsional tertinggi. Ia berharap pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi dosen lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi akademik dan kontribusi keilmuan.

Penambahan guru besar ini semakin memperkokoh posisi Universitas Muhammadiyah Mataram sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam pengembangan sumber daya manusia, riset, dan inovasi. UMMAT terus berkomitmen mendukung peningkatan jabatan fungsional dosen sebagai bagian dari strategi penguatan mutu pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat. (HUMAS UMMAT)

Perkuat Mutu Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital, FAI UMMAT Selenggarakan Kuliah Pakar Internasional

Perkuat Mutu Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital, FAI UMMAT Selenggarakan Kuliah Pakar Internasional

Mataram , Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan keilmuan dan internasionalisasi pendidikan tinggi melalui penyelenggaraan Kuliah Pakar Internasional, yang berlangsung di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT, pada Senin, 22 Desember 2025.

Kegiatan ini mengusung tema “Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital dan Penguatan Literasi Bahasa Arab sebagai Pilar Keilmuan dan Peradaban.” Tema tersebut relevan dengan tantangan dan peluang global dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab di tengah transformasi digital dan pesatnya perkembangan teknologi pendidikan.

Dekan FAI UMMAT, Dr. H. Muhirdan, M.S.I., menegaskan bahwa bahasa Arab memiliki posisi strategis dalam dunia akademik Islam, tidak hanya sebagai bahasa agama, tetapi juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban yang telah melahirkan khazanah intelektual dunia Islam selama berabad-abad.

“Penguatan literasi bahasa Arab merupakan kebutuhan fundamental dalam pengembangan pendidikan Islam. Di era digital, pembelajaran bahasa Arab harus mampu beradaptasi dengan teknologi modern tanpa menghilangkan substansi keilmuan serta nilai-nilai peradaban yang dikandungnya,” ungkap Dr. Muhirdan.

Menurutnya, kuliah pakar internasional ini menjadi ruang akademik penting untuk mempertemukan perspektif global dan lokal dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab. Melalui forum ini, dosen dan mahasiswa FAI UMMAT diharapkan memperoleh wawasan komprehensif mengenai strategi, metode, dan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis digital yang sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.

Lebih lanjut, Dr. Muhirdan menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi UMMAT sebagai perguruan tinggi yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi masyarakat. Penguatan kualitas pembelajaran bahasa Arab diyakini akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan kompetensi lulusan, baik dalam aspek akademik, literasi global, maupun kesiapan menghadapi tantangan internasional.

“FAI UMMAT berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai bahasa Arab secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam bidang keilmuan, riset, serta pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, MA., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kuliah pakar internasional yang diinisiasi oleh FAI UMMAT. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat budaya akademik, memperluas jejaring internasional, serta meningkatkan reputasi Universitas Muhammadiyah Mataram di tingkat global.

“Kuliah pakar internasional merupakan instrumen penting dalam mendorong internasionalisasi perguruan tinggi. Melalui kegiatan ini, sivitas akademika UMMAT dapat berinteraksi langsung dengan pemikiran dan pengalaman akademik dari level internasional,” ujar Rektor.

Rektor juga menegaskan bahwa penguatan literasi bahasa Arab di era digital memiliki relevansi tinggi dalam menghadapi arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi multidimensional.

“UMMAT terus mendorong fakultas dan program studi untuk aktif menyelenggarakan kegiatan akademik berskala nasional dan internasional sebagai bagian dari penguatan caturdarma perguruan tinggi muhammadiyah,” pungkasnya. (HUMAS UMMAT)