HIMAFARSI UMMAT Rayakan Milad ke-IV, Semangat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

HIMAFARSI UMMAT Rayakan Milad ke-IV, Semangat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

Mataram, Himpunan Mahasiswa Sarjana Farmasi (HIMAFARSI), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), dengan penuh semangat merayakan Milad HIMAFARSI ke-IV pada puncak acara yang berlangsung pada 9 Januari 2025. Perayaan ini mengusung tema “Transformasi HIMAFARSI untuk Menciptakan Generasi HIMAFARSI yang KEREN (Kompeten, Edukasi, Responsif, Entrepreneurship, dan Nasionalisme) Menuju Indonesia Emas 2045”.

Ketua Panitia Penyelenggara, Rendi Arya Praja, menyampaikan bahwa perayaan milad ini dirangkaikan dengan berbagai kegiatan seperti lomba poster yang diikuti oleh 75 mahasiswa aktif dari seluruh Indonesia, serta lomba badminton yang diikuti oleh 18 tim se-UMMAT. Lomba poster bertema inovasi farmasi ini menarik partisipasi dari berbagai universitas dari sabang sampai merauke. Sementara itu, lomba badminton berlangsung meriah dengan final yang memperebutkan gelar juara pada hari terakhir acara. Kegiatan tersebut telah berlangsung sejak 5 hingga 8 Januari 2025. Sebagai puncaknya, hari ini dilaksanakan seminar kesehatan dengan menghadirkan dua pembicara ahli.

Ketua Umum HIMAFARSI UMMAT, Nanda Suci Oktaviani, mengapresiasi kerja keras Badan Pengurus Harian (BPH) HIMAFARSI yang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan ini. “Ini adalah sejarah baru bagi HIMAFARSI. Saya bangga kepada seluruh tim yang telah mewujudkan kegiatan luar biasa ini,” tuturnya. Nanda juga menambahkan bahwa semangat kolaborasi dan inovasi yang ditunjukkan oleh seluruh anggota HIMAFARSI menjadi modal penting dalam mencapai visi organisasi.

Dekan FIK UMMAT, Apt. Nurul Qiyaam, M.Farm., menegaskan bahwa usia empat tahun bagi HIMAFARSI adalah masa pertumbuhan dan perkembangan. “Kami sangat mendukung kegiatan ini karena mampu melahirkan suasana akademik di tengah mahasiswa yang sedang menghadapi hiruk-pikuk perkuliahan dan praktikum. Kegiatan seperti ini tidak hanya meningkatkan soft skill tetapi juga menjadi inovasi yang sangat bermanfaat,” ujarnya.

Beliau juga menyampaikan kabar baik terkait perkembangan FIK UMMAT, yaitu proses pembentukan profesi apoteker dan pengusulan reakreditasi program studi S1 Farmasi yang saat ini sedang menunggu jadwal visitasi dari pihak terkait. “Kami berharap langkah ini dapat memberikan peluang lebih besar bagi mahasiswa farmasi untuk mengembangkan karier profesional mereka di masa depan,” tambahnya.

Sebagai bagian dari puncak acara, seminar kesehatan bertajuk “Revolusi Digital dalam Swamedikasi: Menjembatani Edukasi Kesehatan untuk Gen Z” diadakan dengan menghadirkan dua pembicara inspiratif. Ibu Apt. Baiq Lenysia Puspita A, M.Farm., menyampaikan materi tentang Revolusi Swamedikasi Digital, sementara Bapak Apt. Kaharuddin, S.Farm., memberikan materi tentang Edukasi Kesehatan Digital pada Gen Z. Seminar ini diharapkan mampu memberikan wawasan baru kepada peserta dan meningkatkan kemampuan baik secara akademik maupun praktis.

Dengan terlaksananya rangkaian kegiatan ini, HIMAFARSI FIK UMMAT telah membuktikan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam mencetak generasi yang KEREN demi menyongsong Indonesia Emas 2045. Selamat Milad ke-IV HIMAFARSI! Teruslah menginspirasi dan menjadi agen perubahan (HUMAS UMMAT).

WAKIL REKTOR II UMMAT TEGASKAN PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS HARUS DISERTAI PENGELOLAAN YANG BIJAKSANA DAN BERKELANJUTAN

WAKIL REKTOR II UMMAT TEGASKAN PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS HARUS DISERTAI PENGELOLAAN YANG BIJAKSANA DAN BERKELANJUTAN

Mataram, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Ir. Asmawati, MP., yang merupakan dosen pengampuh mata kuliah pangan dan gizi pada Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP), Fakultas Pertanian (FAPERTA), memberikan pandangan kritis mengenai program makan bergizi gratis yang digagas oleh pemerintah. Sebagai WR II yang membidangi keuangan dan sumber daya manusia (SDM) di UMMAT, beliau menilai meskipun program ini memiliki niat baik, pelaksanaannya harus diperhatikan dengan cermat agar dapat benar-benar memberikan dampak positif bagi pendidikan dan Sumber Daya Manusia, ketika ditemui diruangannya pada hari Rabu (08/01/2025) kemarin.

“Program ini tentu merupakan langkah yang bagus. Banyak siswa kita datang ke sekolah tanpa sarapan, yang jelas berdampak pada energi dan konsentrasi mereka dalam belajar. Namun, masalahnya bukan hanya sekadar memberikan makanan, tetapi juga bagaimana memastikan kualitas nutrisi yang diberikan kepada siswa dan keberlanjutan program tersebut,” ujar Wakil Rektor II UMMAT. Ia juga menegaskan bahwa sarapan bergizi gratis menjadi prioritas utama untuk mendukung kinerja dan konsentrasi belajar siswa dibandingkan dengan makan siang gratis, karena jika hanya menunggu makan siang, siswa akan tetap berangkat ke sekolah dengan perut kosong, yang bisa menghambat fokus dan konsentrasi mereka.

Namun, beliau juga mengingatkan bahwa penyediaan makanan bergizi bukanlah solusi tunggal. Keprihatinan beliau terhadap tingkat kemiskinan yang masih tinggi, menunjukkan bahwa masalah utama tidak hanya pada akses terhadap makanan, tetapi juga pada pendapatan masyarakat yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. “Angka kemiskinan yang tinggi menjadi alasan utama mengapa program makan bergizi gratis ini sangat dibutuhkan. Tetapi kita harus realistis bahwa memberi makan hanya satu sisi dari permasalahan besar. Untuk benar-benar mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kualitas SDM, harus ada perbaikan yang komprehensif dalam hal mutu pendidikan, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat,” paparnya.

Pemberian makan bergizi gratis yang menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari siswa TK hingga SMA, serta ibu hamil dan menyusui yang mendapatkan distribusi makanan melalui posyandu, beliau mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran yang efisien agar program ini dapat berkelanjutan. “Program ini bisa saja menjadi sebuah program yang sangat bermanfaat, jika anggaran yang dialokasikan dikelola dengan bijak. Jangan sampai program ini hanya menjadi ‘panas di awal’ dan kemudian berhenti akibat kurangnya komitmen dan pengelolaan anggaran yang tidak baik,” tegasnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama Wakil Rektor II UMMAT adalah keterlibatan petani, nelayan, peternak dan pelaku UKM lokal dalam penyediaan bahan baku makanan untuk program ini. Program ini diharapkan menggunakan bahan baku pangan lokal yang ada disuatu daerah dan tidak menyarankan impor bahan makanan untuk program ini, karena dampaknya tidak akan terasa di tingkat ekonomi lokal.

“Dalam penyediaan pangan, pemerintah hendaknya memperhatikan beberapa subsistem seperti subsistem produksi dan pengadaan didalamnya ada petani, nelayan, peternak. Selanjutnya ada subsistem transportasi dan pemasaran dengan melibatkan SDM atau pelaku yang ada di daerah setempat. Hal tersebut perlu diperhatikan agar program ini tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat tetapi juga menggerakkan perekonomian daerah,” jelasnya. Program makan bergizi gratis ini baru pada tahap piloting, yang di NTB sendiri mengambil sampel Kota Mataram dengan 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Selaparang, Sekarbela dan Mataram, yang direncanakan akan diluncurkan pada 13 Januari 2025 di Kota Mataram.

Pelaksanaan program ini hendaknya  diawasi dengan ketat agar tidak terjebak dalam rutinitas birokratis yang tidak menghasilkan perubahan signifikan. Wakil Rektor II UMMAT berharap evaluasi berkala dilakukan dengan serius untuk memastikan efektivitas program, terutama dalam hal distribusi makanan kepada penerima manfaat  dan penyaluran yang tepat sasaran. Kesuksesan pelaksanaan di kota Mataram hendaknya menjadi contoh yang baik dan dapat ditiru oleh daerah lainnya, sehingga perlu di evaluasi proses pelaksanannya secara transfaran.

Pendekatan yang berfokus pada pemberian makanan tidak boleh mengabaikan pentingnya edukasi masyarakat tentang pola makan yang sehat dan seimbang. “Peningkatan gizi bukan hanya soal pemberian makanan, tetapi juga soal komposisi menu makanan yang diberikan, jadi tidak asal kenyang namun miskin zat gizi dan tentang keamanan dan higienitas mulai dari penyiapan bahan baku, proses pengolahan dan sampai kepada penyiapan untuk disajikan pangan tersebut, serta wadah yang aman untuk kesehatan konsumen penerima manfaat. Edukasi kepada masyarakat tentang pola makan yang sehat harus menjadi bagian integral dari program ini,” tambahnya.

Selain itu, Wakil Rektor II UMMAT menyoroti pentingnya perhatian pada gizi ibu hamil dan menyusui, yang menurutnya adalah investasi jangka panjang untuk SDM Indonesia. “Pertumbuhan manusia dimulai sejak dalam rahim. Oleh karena itu, perhatian pada gizi ibu hamil dan menyusui adalah kunci untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif di masa depan,” jelasnya  (HUMAS UMMAT).

WUJUDKAN PERTAMBANGAN BERKELANJUTAN MELALUI OPTIMALISASI SUMBER DAYA, HMTA UMMAT SUKSES GELAR SEMINAR NASIONAL

WUJUDKAN PERTAMBANGAN BERKELANJUTAN MELALUI OPTIMALISASI SUMBER DAYA, HMTA UMMAT SUKSES GELAR SEMINAR NASIONAL

Mataram, Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan (HMTA) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) kembali menunjukkan eksistensinya dengan menggelar Seminar Nasional bertema “Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Menuju Sektor Pertambangan yang Berkelanjutan”, Auditorium H. Anwar Ikraman (09/01).

Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan sumber daya secara optimal di sektor pertambangan, serta mendorong penerapan konsep keberlanjutan dalam setiap aktivitas pertambangan. Ketua Umum HMTA, Urhulaifi, menegaskan bahwa acara ini merupakan salah satu upaya mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan sektor pertambangan. “Kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengelola sumber daya secara bijaksana dan berkelanjutan,” ujar Urhulaifi.

Ketua Program Studi Teknik Pertambangan UMMAT, Bedy Fara Aga Matrani, S.T., M.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada para narasumber yang telah berkenan berbagi ilmu dan pengalaman. “Prodi Teknik Pertambangan UMMAT yang telah berdiri selama lima tahun ini terus berupaya memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan dunia industri. Seminar ini adalah salah satu langkah penting agar mahasiswa memahami bagaimana kondisi tambang di lapangan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Dekan III Fakultas Teknik, Agus Kurniawan, S.IP., M.Eng., menyoroti pentingnya kegiatan seperti ini untuk menunjang praktik lapangan mahasiswa. “Mahasiswa Teknik Pertambangan UMMAT akan langsung turun ke lapangan untuk mempraktikkan apa yang mereka pelajari di kelas. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat penting untuk memperluas wawasan mereka. Kami juga bangga karena dalam tiga tahun terakhir, mahasiswa Prodi Teknik Pertambangan telah mencatatkan berbagai prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional,” ungkapnya. Agus juga mengapresiasi dukungan yang terus diberikan oleh PT STM (PT Sumbawa Timur Mining), salah satu mitra industri yang aktif mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa.

Seminar ini menghadirkan narasumber ternama yang membagikan ilmu dan pengalaman mereka di bidang pertambangan. Narasumber 1, Muhammad Dasori, Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI), menyoroti pentingnya peran pertambangan rakyat dalam mendukung perekonomian lokal. Ia juga membahas tantangan yang dihadapi para penambang rakyat dalam menjalankan aktivitas mereka secara legal dan berkelanjutan.

Narasumber 2, Burhadi Wibowo, S.T., Principal Geologist Exploration Mineral PT. STM, memberikan penjelasan komprehensif mengenai teknik eksplorasi mineral dan perannya dalam mendukung pertambangan yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa eksplorasi merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam aktivitas pertambangan. Proses ini melibatkan pencarian, identifikasi, dan evaluasi sumber daya mineral di suatu wilayah, yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan potensi ekonomi suatu tambang.

“Teknik eksplorasi tidak hanya tentang menemukan cadangan mineral, tetapi juga memastikan bahwa proses tersebut dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan kepentingan masyarakat lokal. Eksplorasi yang baik akan menghasilkan informasi yang akurat untuk pengelolaan tambang yang efisien dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga menguraikan beberapa metode utama dalam eksplorasi, di antaranya: (1) Geofisika: Penggunaan alat-alat canggih seperti magnetometer dan gravimeter untuk mendeteksi keberadaan mineral bawah tanah tanpa merusak lingkungan; (2) Geokimia: Pengambilan sampel tanah dan air untuk menganalisis kandungan mineral, yang menjadi indikator potensi cadangan tambang; (3) Pengeboran Eksplorasi: Teknik untuk mendapatkan sampel inti batuan (core samples) yang memberikan gambaran jelas tentang jenis dan kualitas mineral di bawah permukaan; (4) Pemetaan Geologi: Proses mendetailkan struktur batuan dan formasi geologi di wilayah eksplorasi untuk menentukan lokasi strategis.

Lebih lanjut, Ia juga menyoroti pentingnya teknologi modern dalam proses eksplorasi. “Dengan teknologi geospasial dan data analitik, kita dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi eksplorasi, sehingga meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan,” jelasnya. Di sisi lain, Ia mengingatkan bahwa meskipun teknologi sangat membantu, keterlibatan masyarakat lokal dalam proses eksplorasi juga sangat penting. “Pertambangan yang berkelanjutan adalah yang mampu memberdayakan masyarakat setempat, memberikan manfaat ekonomi, dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. Eksplorasi harus menjadi pintu masuk untuk sinergi antara industri dan masyarakat,” tambahnya.

Para peserta seminar terlihat antusias mengikuti setiap sesi diskusi. Banyak mahasiswa yang mengajukan pertanyaan terkait tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan tambang serta peluang inovasi yang dapat diterapkan di sektor ini.

Prodi Teknik Pertambangan UMMAT, meskipun tergolong muda, telah menunjukkan prestasi gemilang di tingkat nasional maupun internasional. Dukungan dari mitra industri seperti PT STM dan partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai kompetisi menjadi bukti nyata dedikasi program studi ini dalam mencetak lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja.

“Harapannya, seminar ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun sinergi antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam menciptakan sektor pertambangan yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” pungkas Bedy Fara Aga Matrani.

Acara ini ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan kepada para narasumber serta foto bersama seluruh peserta dan panitia. Seminar Nasional ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat peran UMMAT dalam mencetak generasi muda yang siap menjawab tantangan sektor pertambangan di masa depan (HUMAS UMMAT).

Grand Launching Pembukaan Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Mataram Tahun Akademik 2025/2026

Grand Launching Pembukaan Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Mataram Tahun Akademik 2025/2026

Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) melaksanakan acara Grand Launching Pembukaan Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2025/2026 dengan meriah di Auditorium H. Anwar Ikraman (07/01). Acara ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan UMMAT kepada siswa dan guru dari SMA dan SMK di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rektor UMMAT, Drs. Abdul Wahab, MA., menyambut hangat kehadiran tamu undangan, termasuk para guru dan siswa. Dalam pidatonya, beliau menegaskan kesiapan UMMAT dalam menyongsong era baru pendidikan yang lebih kompetitif dan berorientasi internasional.

“UMMAT berdiri pada tahun 1980 sekarang sudah berusia 44 tahun, sebuah usia yang matang. Dengan akreditasi prodi yang baik dan sistem pembelajaran yang unggul, kami siap mencetak generasi penerus yang kompeten. Melalui visi kami yang berdaya saing di kawasan ASEAN, kami terus mendorong mahasiswa untuk berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Rektor.

Lebih lanjut, beliau memaparkan berbagai pencapaian mahasiswa UMMAT, di antaranya : Mahasiswa Teknik yang berhasil mengikuti program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) di Spanyol selama satu semester, Mahasiswa PPKn yang menjalani program magang di Thailand, Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan yang melakukan praktik pembekuan di Taiwan.

Selain itu, alumni UMMAT juga telah menunjukkan kiprah luar biasa di berbagai bidang, termasuk di pemerintahan, swasta, dan wirausaha terlebih-lebih pendidikan. “Kami berharap siswa-siswa yang hadir di sini dapat bergabung dengan UMMAT. Kami akan membimbing dan melatih mereka, termasuk dalam penguasaan bahasa Inggris, sehingga mereka mampu bersaing secara global,” tambahnya.

Kepala UPT PPWA UMMAT, Titik Wahyuningsih, ST., MT., memberikan penjelasan mendalam tentang berbagai program beasiswa yang ditawarkan UMMAT, baik dari pemerintah maupun internal kampus. “UMMAT tidak hanya memberikan pendidikan berkualitas, tetapi juga memastikan akses pendidikan yang luas melalui berbagai beasiswa. Mulai dari beasiswa KIP Kuliah, beasiswa prestasi akademik, hingga bantuan pendidikan dari kampus untuk mahasiswa berprestasi,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan pencapaian membanggakan mahasiswa UMMAT, seperti keberhasilan tim Abdidaya meraih Juara 3 Nasional dalam PPK Ormawa tahun lalu, membuktikan bahwa mahasiswa UMMAT mampu bersaing dengan universitas ternama seperti UGM dan ITB.

Titik Wahyuningsih menambahkan bahwa sistematika pendaftaran mahasiswa baru UMMAT kini semakin mudah melalui platform daring yang dirancang ramah pengguna. Acara ini berlangsung meriah dengan simbolis pemaduhan gong oleh Rektor UMMAT, disaksikan oleh seluruh tamu undangan. Pemaduhan gong ini menandai secara resmi dibukanya pendaftaran

Bagi calon mahasiswa yang ingin mendaftar, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui laman resmi UMMAT di www.ummat.ac.id atau menghubungi Hotline UMMAT di nomor layanan resmi 0813-3763-3083. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung bersama UMMAT, kampus pilihan untuk masa depan yang gemilang (HUMAS UMMAT).

Ikhtiar Tingkatkan Kreativitas dan Kapasitas Mahasiswa, PGSD UMMAT Gelar Workshop Inspiratif

Ikhtiar Tingkatkan Kreativitas dan Kapasitas Mahasiswa, PGSD UMMAT Gelar Workshop Inspiratif

Mataram, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMPS PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan kapasitas mahasiswa dengan menyelenggarakan Workshop Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA), yang bertajuk “Mengoptimalkan Kemampuan Mahasiswa dalam Mengaktualisasikan Kreativitas di Tatanan Masyarakat”, kegiatan ini dirancang untuk mendorong mahasiswa agar mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat (07/01).

Acara yang berlangsung dengan penuh antusias ini diikuti oleh mahasiswa dari Program Studi PGSD dan menghadirkan sejumlah lembaga kemahasiswaan FKIP. Ketua Panitia Pelaksana, Rangga Ardiansyah, menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam mendorong perubahan positif di masyarakat. “Mahasiswa bukan hanya belajar di kelas, tetapi juga harus mengimplementasikan apa yang dipelajari untuk membantu masyarakat. Inilah yang menjadi esensi utama dari workshop ini,” tuturnya.

Ketua HMPS PGSD, Sastrawan Barkah Yulyanto, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pengejewantaan catur dharma perguruan tinggi kampus dan sebagai mahasiswa kita harus bisa memaksimalkan diri khususnya dalam pengabdian dan peningkatan kapasitas kita di masyarakat. “Kami ingin mahasiswa mampu membawa ilmu dari kampus ke tengah masyarakat. Dari kegiatan ini, kami berharap proposal PPK ORMAWA yang diajukan tidak hanya lolos seleksi, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan,” ujarnya.

Ketua Program Studi PGSD, Haifaturrahman, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi Program Studi PGSD dalam membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Dekan II FKIP UMMAT, Dr. Candra, M.Pd., yang hadir mewakili Dekan FKIP, menggarisbawahi pentingnya kualitas dalam penyusunan proposal. “Proposal PPK ORMAWA ini adalah pintu masuk untuk menunjukkan kemampuan mahasiswa. Oleh karena itu, proposal yang dibuat harus benar-benar memperhatikan detail, relevansi, dan inovasi. Saya berharap setelah workshop ini, semua lembaga kemahasiswaan di FKIP khususnya HMPS PGSD dapat segera menyusun proposal yang tidak hanya memenuhi standar, tetapi juga memiliki daya tarik tinggi,” jelasnya.

Workshop ini menghadirkan narasumber andal, Putri Maya Masyitah, S.S., M.Hum., yang memberikan panduan lengkap terkait pengajuan proposal PPK ORMAWA. Dalam sesi pemaparannya, ia menjelaskan langkah-langkah teknis yang harus diikuti oleh mahasiswa, mulai dari penulisan proposal, penyusunan anggaran, hingga kiat menarik perhatian penyelenggara program. “Proposal yang baik harus mampu menggambarkan solusi yang kreatif dan konkret terhadap permasalahan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga memberikan contoh kasus proposal yang berhasil lolos seleksi di tahun-tahun sebelumnya, sehingga peserta dapat memahami standar penilaian dan ekspektasi penyelenggara. Para peserta tampak aktif bertanya, menunjukkan antusiasme tinggi untuk mendalami materi yang disampaikan.

Ketua HMPS PGSD juga berharap kegiatan ini dapat memotivasi mahasiswa untuk terus berinovasi. “Kami ingin workshop ini menjadi langkah awal untuk menghasilkan mahasiswa yang siap berkontribusi, baik melalui program PPK ORMAWA maupun pengabdian-pengabdian lainnya,” tegas Sastrawan (HUMAS UMMAT).

Kisah Inspiratif Mahasiswa UMMAT Magang di Thailand, Kunci Sukses Menembus Pasar Global

Kisah Inspiratif Mahasiswa UMMAT Magang di Thailand, Kunci Sukses Menembus Pasar Global

Mataram, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Hanik, peserta internasional YALA PESAO 1’s magang, berbagi cerita inspiratif tentang pengalamannya di Thailand. Program yang berlangsung selama dua bulan ini membuka banyak peluang dan tantangan, sekaligus menjadi pembelajaran berharga dalam kehidupan dan kariernya (06/12).

Hanik Ditempatkan di Kabang Pittayakham School, sebuah sekolah setingkat aliyah yang berlokasi di provinsi Yala, Thailand Selatan. “Alhamdulillah, saya magang di daerah mayoritas Muslim. Pengalaman ini memberi saya kesempatan untuk mengajar dan berinteraksi dengan siswa menengah di sana,” ujarnya. Namun, perjalanan ke lokasi tidaklah mudah. “Tempat saya berada di daerah terdalam, dan untuk mencapai kota, saya harus menempuh perjalanan 12 jam melewati dua lembah,” tambahnya.

Dalam perjalanan magangnya, Hanik menghadapi berbagai tantangan, termasuk perbedaan budaya, mentalitas, dan bahasa. “Di Thailand, rata-rata orang belum bisa berbahasa Inggris. Namun, alhamdulillah, saya sedikit-sedikit bisa berbahasa Melayu, sehingga mempermudah komunikasi,” ungkapnya. Tantangan ini tidak hanya menguji kemampuan adaptasi Hanik, tetapi juga membantunya memahami pentingnya fleksibilitas dan keterampilan komunikasi lintas budaya.

Ia juga mencatat perbedaan signifikan dalam sistem pendidikan antara Thailand dan Indonesia. “Di Thailand, siswa SMA diberikan kebebasan untuk menggunakan HP dalam proses belajar, dan fasilitas yang diberikan sangat mendukung eksplorasi mereka. Hal ini berbeda dengan di Indonesia,” jelas Hanik. Menurutnya, kebebasan ini menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi potensi mereka secara maksimal. “Guru-guru di sana juga sangat dihormati, dan perhatian siswa terhadap pengajaran sangat baik,” tambahnya.

Selain itu, Hanik mengamati bahwa budaya belajar siswa di Thailand cenderung lebih mandiri. Mereka terdorong untuk mengeksplorasi materi pelajaran sendiri dan mengembangkan solusi kreatif untuk berbagai permasalahan. Pengalaman ini memberikan wawasan baru bagi Hanik tentang pendekatan pendidikan yang berbeda, yang menurutnya dapat menjadi inspirasi bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Hanik menekankan bahwa pencapaiannya tidak terlepas dari dukungan kampus. “Kampus UMMAT sangat mendukung, terutama karena memiliki asosiasi di Thailand yang memudahkan mahasiswa untuk terlibat dalam program seperti ini,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa program magang ini cukup viral di Thailand, menarik perhatian banyak mahasiswa. “Program ini tidak hanya memberikan pengalaman mengajar, tetapi juga membuka jejaring internasional,” tambahnya.

Namun, program ini memiliki persyaratan yang ketat. “Peserta harus bisa berbahasa Inggris dan siap ditempatkan di daerah mana pun di Thailand,” ungkap Hanik. Program ini juga menuntut komitmen tinggi dari para pesertanya, karena mereka harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang sering kali jauh dari kenyamanan. “Saya sangat bersyukur bisa terlibat dalam program ini, karena ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup,” ujarnya penuh rasa syukur.

Pengalaman Hanik di Kabang Pittayakham School memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya keterbukaan dan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan. Menurutnya, sekolah tempatnya mengajar memiliki pendekatan yang sangat terbuka dan inovatif. “Sekolah ini sangat open-minded, meskipun berada di daerah yang cukup terpencil. Mereka memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis dan mandiri,” jelas Hanik.

Sebagai penutup, Hanik memberikan pesan berharga kepada mahasiswa lainnya. “Kita harus meningkatkan soft skill, hard skill, dan networking. Tiga hal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas diri. Apalagi di era sekarang, Artificial Intelligence (AI) saja sudah bisa berbahasa Inggris, masa kita tidak bisa?” katanya dengan penuh semangat.

Hanik juga mengingatkan pentingnya memiliki mental yang kuat dan sikap pantang menyerah. “Setiap tantangan yang kita hadapi adalah bagian dari proses belajar. Jangan pernah takut untuk keluar dari zona nyaman, karena di situlah kita akan menemukan potensi terbaik dalam diri kita,” tambahnya.

Kisah Hanik menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengejar peluang dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan global. Dengan pengalaman berharga ini, ia membuktikan bahwa semangat belajar dan adaptasi adalah kunci untuk meraih kesuksesan di mana pun berada. Hanik berharap cerita ini dapat memotivasi lebih banyak mahasiswa untuk mengikuti program-program internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui pengalaman global (HUMAS UMMAT).