MATARAM — Dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar diskusi publik kebangsaan bertajuk “G30S: Antara Fakta Sejarah dan Kontroversi Narasi”, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula FKIP UMMAT tersebut menghadirkan akademisi sejarah, pimpinan fakultas, dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, serta puluhan mahasiswa. Diskusi ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk mendalami peristiwa 30 September 1965 melalui perspektif sejarah, historiografi, serta pendekatan ilmiah.

Wakil Dekan II FKIP UMMAT, Vera Mandailina, M.Pd., yang membuka kegiatan, memberikan apresiasi atas inisiatif kepengurusan baru HMPS Pendidikan Sejarah yang memilih mengawali program kerjanya dengan kegiatan akademik.

Menurutnya, langkah tersebut memberikan warna positif bagi aktivitas kemahasiswaan karena organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun budaya intelektual dan tradisi diskusi di lingkungan kampus.

“Diskusi perdana HMPS Pendidikan Sejarah ini patut diapresiasi sebagai kegiatan perdana. Biasanya kegiatan awal kepengurusan diawali dengan kegiatan rekreatif, tetapi kepengurusan baru justru memberikan warna baru pada Program Studi Pendidikan Sejarah dengan mengadakan diskusi. Diskusi seperti ini penting dilakukan untuk melatih mahasiswa berpikir kritis dan progresif,” ungkapnya.

Vera berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga budaya membaca, berdiskusi, menyampaikan argumentasi, serta menguji berbagai perspektif secara akademik semakin kuat di kalangan mahasiswa.

Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UMMAT, Ilmiawan Mubin, M.Pd., menekankan pentingnya kemampuan metodologis mahasiswa dalam memahami sebuah peristiwa sejarah. Menurutnya, mahasiswa Pendidikan Sejarah sebagai calon pendidik perlu memiliki kecakapan dalam membaca berbagai sumber secara kritis dan memahami konteks yang melatarbelakangi suatu peristiwa.

“Sebagai calon pendidik dan sejarawan masa depan, mahasiswa tidak boleh hanya menelan satu narasi tunggal tanpa analisis kritis. Melalui pembedahan tema G30S ini, kita melatih kepekaan mahasiswa dalam menganalisis sumber sejarah, memahami konteks politik masa itu, dan tetap memegang teguh komitmen kebangsaan berbasis nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembelajaran sejarah semestinya tidak berhenti pada aktivitas menghafal tanggal, tokoh, maupun kronologi peristiwa. Pendidikan sejarah perlu diarahkan pada pembentukan kemampuan berpikir historis, melakukan verifikasi terhadap sumber, serta memahami berbagai konteks yang memengaruhi penulisan dan pemaknaan suatu peristiwa.

BACA JUGA: Mahasiswa FKIP UMMAT Buktikan Daya Saing Nasional Lewat ONMIPA 2026 dan Artikel Ilmiah Kemenpora

Diskusi tersebut menghadirkan Ahmad Affandi, S.S., M.Pd., Dosen Pendidikan Sejarah UMMAT, sebagai pemateri. Dalam paparannya, ia menyoroti bagaimana Hari Kesaktian Pancasila dan peristiwa 30 September terus menjadi topik yang dibicarakan dan dikaji dari berbagai perspektif.

Menurutnya, pendidik sejarah tidak seharusnya hanya mengarahkan mahasiswa pada upaya menjustifikasi pihak tertentu dalam sebuah perdebatan sejarah. Pendidik justru memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa membaca sumber, memahami konteks, dan mengambil nilai pembelajaran dari peristiwa masa lalu.

“Kesaktian Pancasila dan peristiwa 30 September ini selalu menjadi topik yang tidak pernah selesai dibicarakan setiap tahun. Pendidik sejarah hadir bukan untuk menjustifikasi siapa dalang di balik peristiwa tersebut. Namun, dari peristiwa itu pendidik dapat memberikan nilai dan sudut pandang baru terhadap peristiwa masa lalu,” tegasnya.

Melalui diskusi tersebut, mahasiswa juga didorong untuk memahami sejarah sebagai disiplin ilmu yang membutuhkan ketelitian, keterbukaan terhadap sumber, serta kemampuan menguji suatu interpretasi secara metodologis.

BACA JUGA:Perluas Pengabdian Lintas Negara, UMMAT Kirim Dua Mahasiswa KKN Internasional ke Malaysia

Sementara itu, Ketua HMPS Pendidikan Sejarah, Aris Imansyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan ruang diskusi yang relevan dengan momentum kebangsaan sekaligus keilmuan yang mereka pelajari.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memantik semangat pemuda untuk tidak melupakan sejarah, sekaligus membuat kita semakin bijak dalam merespons isu-isu historiografi. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum bagi kami mahasiswa untuk menyebarkan semangat persatuan dan daya kritis positif di tengah masyarakat,” tuturnya.

Menurut Aris, mahasiswa perlu membangun kebiasaan membaca dan mendiskusikan berbagai sumber sejarah agar mampu merespons informasi secara lebih kritis, terutama di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab antara mahasiswa dan narasumber. Peserta membahas berbagai persoalan seputar sumber sejarah, historiografi, perkembangan narasi mengenai G30S, hingga tantangan pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan dosen, pengurus HMPS Pendidikan Sejarah, dan seluruh mahasiswa yang hadir.

Melalui kegiatan ini, HMPS Pendidikan Sejarah FKIP UMMAT berkomitmen untuk terus menghadirkan forum akademik dan edukatif yang mengangkat isu sejarah, kebangsaan, serta perkembangan keilmuan. Forum semacam ini diharapkan mampu memperkuat tradisi intelektual mahasiswa sekaligus melahirkan calon pendidik sejarah yang kritis, objektif, berkarakter, dan memiliki komitmen kebangsaan.

(HUMAS UMMAT)